aku punya kepak sayap.
kupetik dari endapan kabut bening
di bahu kota.
-
‘kan kulego sumpah serapah kepada para kesatria
agar mereka menghunus tenaga
lalu menguras sepoi nyawa.
kemudian, Tuhan menerbitkanku
sebagai capung.
-
ketika ungu, aku bergegas bersambang.
menengok ayumu, asrimu, manismu
sampai tercenung,
sampai anomali mengembung.
-
nyatanya, lamaran telah terungkap tanpa debat.
lembut,
seperti sapa kalbu kepada otot
dan aku terpaku;
hilang nutrisi, polah tak lagi lihai.
-
aku, sang capung,
beralas limbung berselimut buncah.
masih menanti hangat bumi
(saat ini tak sudi menanduku)
dalam cinta penuh hikmah.
-
Sleman, April 2011
*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar