Sabtu, 04 Desember 2010

Di Dangau Wijaya

         : Matahari

suatu kala gagak itu mangkir.
tiada lagi dendang cinta dangkal
berkutik dalam sumber asmara.
kuusut; terkadang demam, kerap mengenaskan.
-
suatu masa berudu itu merengut.
lambaikan nyiur tua lalu unggulkan kebuntuan.
seperti kecaman saat bersembunyi di kolong kelimpungan.
-
spontan, kubarter dengan tenar.
bertransaksi (ala brilian) demi secangkir pionir merah muda.
tanpa intervensi,
akur jadi pintu festival kasih.
sarat cahaya. menepuk tanya.
-
hari ini seyogianya ada sehelai ihwal
atau azimat
sebagai busur delegasi.
ah!
ternyata aku, masih terpingkal banal di tentang pujaan.
-
Pasuruan, November 2010

*

Taman Sari

         : Matahari

kebayamu terbingkai dalam samar usang.
-
sorotmu jingga,
anggun. cangkungi jiwa, terlebati tinta.
-
sunggingan senyummu ialah pelipur.
merebak, lalui pori-pori cintaku, masih terbata-bata.
seperti serbuk,
tunggangi rindu hingga terbelah.
-
pada belanga, aku berakit.
menciduk sketsa untuk kucecap.
lepaskan cedera atau sekadar cerabuti limbah.
-
aku kan kerubungi taman ini
sampai lebam, tanpa dipan.
-
Sleman, November 2010

*

Kaktus Merah Muda

         : Matahari

renyai rindu, dendangkan seribu embusan bintang.
siang silam. terjumput malam ketika sirene tangisku mendadak.
bercak-bercak raung terpelanting. tergilas.
lalu gempa menetas; letuskan guntur, tertawa puas.
ha ha…
-
nyala amuk menguruk.
menahbiskan imbau di antara batu dan telaga.
pertunangan-Mu dengan sebuah denyut ialah ceria.
tempeli dinding-dinding sigapku
         hingga gerah.
-
lantas, ciut itu menggosok-gosokkan keringat pada pijar.
(acap) subur terseok-seok lalu terbentur bau.
         gelimpangan
         bagai abu, tercopot dari telapak lahan.
-
kusaput saja rawanku
agar berkelejat kemudian tumbang karena buru.
-
Pasuruan, November 2010

*

Sekolam Rindu ‘tuk Michie

         : Matahari

kutelan meski ombaknya melengking seperti bala.
sengit. lontarkan kendala, kan manis pada lusa. (mungkin).
-
ternyata, tenggelam.
ditimpa keburaman, terkemas di dalam lamban.
suhu merekah. berbaur bersama sumpah.
serentak, sekujur postur terbaluri kecamuk,
ikuti gelombang. orasikan erupsi merah muda;
layangkan seleksi, libatkan bara.
-
kukecup senyummu. entaskan belerang pada relung malam.
kupetik aromamu. sangkutkan pada mimpi demi memikul suci.
-
dua butir salju selimuti diri. lalu menetes. (berdesir).
terpana pada ceracapan serpih air mata, menuju lara.
-
ini malam, sedang berlandas sajadah.
berteman lilin ringkih dan seekor jangkrik jantan,
coba menggusur cinta.
-
Pasuruan, November 2010

*

Minggu, 07 November 2010

Mencicil Tanya

         : Matahari

apa yang sedang?
berikan lambaian agar aku memadu!
terlibat dalam tekad biru untuk lumpuhkan-Mu
-
bagaimana cara?
seteguk cintamu ialah lega.
paparkan selajur talang merah muda,
guyurkan selembar petir.
deras. seperti gencar melarang lancar.
-
di mana dapat?
sayang hinggap tak lagi eksekusi.
tatkala terkuak, ada terbakar. menempuh pagi
demi duduki matahari.
di puncak ternyata ada galian: gamblang namun pahit ditularkan.
            lucu. trenyuh menderu.
-
kapan saat?
tersesat. seluruh terbongkar. terasah pada tiap kuartal.
temaram sunyi pintu besi, berlabuh.
langit bersantai. limburi hati, gempur diri.
permukaanku jadi reruntuhan.
patah. kenakan rinding dan rengek jua.
-
kenapa harus?
gelembung merubung. lebarkan kekar buai untuk
gugurkan kentara, tak lagi sukacita.
            kadang sudi membesuk, namun itu trik lama.
            seperti hama; tak puas berulah.
dan, bila remang mengimpit.
persepsi pun kan jarang membuncit.
-
siapa yang?
asap mengepul hingga wajar melembur.
-
Sleman, Oktober 2010

*

Menghafal Rindu

         : Matahari

lantaran kelabu, aku terberangus. semula pondok tonjolkan bius, amblas. terasnya menembus daun. pilar-pilarnya tercerai-berai. membentuk gumpalan asing lalu tercebur ke rerumpun sabung. punah. menggertak syiar, tertancap di puncak kerucut rindu. mendesis: menagih cinta, membungkus asa. tiada iktikad. hanya tangkapan kosong, luncurkan nyeri amat. amat merekat.
-
di bawah jembatan, aku menyisih dari kepiawaian malam. tak mampu berkenalan dengan gesit embun dan belukar bintang. terlalu kering. seperti subsidi biru tertawan. bak benderang, jadi tunggakan. kacau. kelabui fobia hingga berubah tanya di balik siang. (jembatan akan dipugar). kiblat tak akurat. dan, paras itu masih ladeni angan, kian tipis dari taksiran sayang.
-
ada waswas. menara telah isyaratkan padam.
aku, masih antusias membidik mentari.
beranjak larut bersama anarki.
-
Sleman, Oktober 2010

*

Eliminasi Biru

         : Matahari

pada desing cinta, aku tercengang.
terpancar seraut biru. menyapa, namun hambar.
rindu tertuai oleh kibasan risau. sempat jernih, tiba-tiba sangsi.
-
seperti petisi, lukiskan gaduh dilanda malam.
mengenyal. bergelimang coretan merah muda
dalam dengung damba.
tangis, pelototi celaka. tak kunjung ampuh.
lesu,
lampiaskan inapan gumam
di bawah gemeretak dendang
(sepele)
terkecoh varian:
termaktub pada sorot mata.
tersapu oleh ringkik fakta.
aku
bermantel setumpuk masa.
         mengepal bayang dalam lindung ungkapan.
separuh. tak penuh.
    -
     maka, bergegas.
   tunaikan sajak tampan di celah-celah rintangan.
  tapi, ada keripana tekstur.
           terpanggang.
        rampungkan eliminasi hingga jeli teringkari.
-
Sleman, Oktober 2010

* 

Sumur Doa

         : Matahari

pada setampuk luar
petang bercorak merah.
menjerit. lintasi lembar-lembar sajak,
bersemayam di terawang malang.
memicu darah. memudar.
                                    malam menelan. dermakan tengara kepada lirih cahaya.
                                               meracik bintang-bulan, merangkai dingin jantan.
tarikh tunjukkan darurat.
langka. menjambak nasib tak tepermanai
di antara solekan canggung seperangkat remuk.
cinta,                                                                                         ada kejut.
rasuki koper merah muda.                                  mencecah dahan rindu, hayati ranting pilu.
mendenting; sirami jiwa. menguras asa.                                  menciap-ciap. degap.
      racun terhunus,                                                      terpojok, lalu hampir padam.
   timbulkan trauma. legalkan sebungkal depresi                    menyerempet bayang.
di atas pedati, di balik kendali            .                       terjungkit. jadi pusaka (terabaikan).
                        merana. berkecimpung dalam lorong panik.
                                        menakik embun agar terkelola.
                                    coba menjepit.
                             masukkan ransel, lantas
                  kan kutuang ke dalam sumur doa.
                          _ khusyuk pun berdecak _
-
Sleman, Oktober 2010


*

Malakama

         : Matahari

ketika turbin-turbin jantung ialah senja,
parit darah di segenap terengah.
teduh.
bersandar pada gemeresik lalang
dan mulailah perdebatan.
-
ada benci. menohok.
bersahaja, seperti lagak laknat tulus.
kukuh. tertelengkup di bawah berjuta tebakan,
berpijak di atas seabrek dagelan (liar.
mengocok pasrah agar lumrah).
-
rintik-rintik rindu menyentil telinga. menghantam netra.
lalu, menyigi cinta (semangkuk tangis jadi ratapan).
lanturkan niat, teridap purba.
-
ada jejak dalam esensimu. penuh tafsir. Sepuh.
tularkan sayang.
senantiasa beri maslahat;
hingga ampas menetas.
menyekat tilas.
-
“jadi, beledu merah muda ini hanya pemeo?”, …
-
Sleman, Oktober 2010

* 

Sabtu, 09 Oktober 2010

Beker

         : Matahari

berjalan lambat
ditunggui guncang menggebrak.
pada suatu lebam, di antara slogan-slogan kusam.
-
kriiing…
jurang lihai menawar.
silau. kaburkan situasi.
hamparan merah muda terbeber.
ujung-ujungnya berlekatan membawa lereng.
-
saat meraba kocek kanan, ada kelar.
berselancar dengan cengkeraman maut,
dikebiri oleh estimasi. luluh,
seperti jemari dilindas kesaktian.
-
kriiing…
dengan gesit, rinduku kusirap.
cintaku perkasa. tunjukkan ketamakan
terpahat sempurna pada titimangsa.
terburu-buru, aku menggeledah.
punguti remah sayang di bawah lelehan kedok penindasan.
-
mengalir. mengakar dan berumbai-rumbai.
tak tercabut. ada enggan, juga heran.
-
kriiing…
inspirasi tersendat. keserasian tak terawat.
-
Yogyakarta, September 2010

*

Sestoples Sajak Biru untukMu

         : Matahari

di pelosok hati ada iring-iringan rindu
kala kukayuh cantikmu
-
         jadi, kukelola sestoples sajak biru.
-
sedap kupandang namun terhambat bila kugapai
pada tepekur malam.
terasa meriah seperti menyisir asmara resah.
-
aku memantau
juga lantunkan animo untuk memupuk cinta.
empaskan segenap rutinitas demi
mengemban harum kian melindap.
mendengkur. telantarkan sengal, perketat zikir terapal.
-
otakku teroles bayangmu.
goyangkan kecerdasan hingga akal
ternakkan lunglai berhamburan. tak sempat mengaso,
hanya kecumik sipit mulai diombang-ambing.
(mencari jera, mengeruk dahaga).
-
         akhirnya, sestoples sajak biru siap kususupkan
         dalam raibmu.
-
Surabaya-Yogyakarta, September 2010

*

Picisan

         : Matahari

saat matahari berevolusi, pendar-pendar cantiknya terbangkit.
tumpul, namun kumandangkan peluit dari sisi merah muda
bawa memori cinta.
-
jelang rindu, sadar tersingkir.
tangguh jadi abu. kubu berubah layu. dan tandus padamkanku.
tiada tumpu. hanya segelintir kambuh kembali purukkan prediksi.
-
ingin mengenyam manis.
menjerat rintik-rintik asmara lalu dongengkan cerita-cerita lama
tentang sekilas Rama-Shinta.
tentang kemakmuran Muhammad-Khodijah.
-
ketika bermunajat, siluetnya ialah bisik.
sesaki ketegaran hingga limpahi bayang.
santer terdengar ia mengoyak.
melebat di pangkuan rahmat untuk mendekam.
diri, terambang.
-
jadi kuputuskan untuk melejit.
tanggalkan stagnasi dan reputasi demi sesosok dara.
korbankan talenta, menerjang gemuruh malapetaka.
-
Malang, September 2010

*

Secercah Matahari di Puncak Lelap

         : Matahari

ada diriku.
sedang menitikkan darah di kerutan sungai baka.
ekspresi isyaratkan tagih
mengukir secuil luang hingga peran terpejam.
-
diriku ada.
menyeleksi kebisuan rindu lontarkan kelam
di ujung sirna kuterapkan lantang kendati parah membelit sengit.
namun curiga menguak frustasi,
hati tertegur oleh kelir fasih.
-
ada dirimu.
sedang memangku mahkota raja.
(sebuah artefak sarat darah dan air mata)
tak kunjung tertancap, menanti pagutan ulung semerbak.
-
dirimu ada.
terdesak, terusik oleh mufakat sesepuh sembari menunggu trenyuh.
mungkin pula
kau bawa argumen garang lalu melalapku tanpa berkenan.
-
ku & mu.
patut melawat cinta.
mengusung kasih di rindang kultur,
menyekap sayang lantas cetuskan arah.
atau bergegas mematuk mahar di horizon akad nikah.
-
Pasuruan, September 2010

*

Minggu, 05 September 2010

Mengarau Cinta

         : Matahari

di kancah kehinaan, ada ambisi.
beberapa ronde dan sesi, jua opsi.
seluruhnya sengketa, adakan duel multicedera.
menjelma seperti reuni lumrah, terasah.
nobatkan berjuta rindu, edarkan replika.
-
di sudut karantina, sahaya terjun.
antusias mencari warta:
            terkadang rela, jarang jauhi papa.
ingin gulirkan cinta.
coba memikat ranggasan surya.
daraskan kasih dan sayang ialah harap berkelindan.
(senantiasa, mendekap masai-lapuknya matahari tanpa bulan)
-
sahaya tersangkut.
tercerabut dari akar prima lalu terterjang gerbong merah muda.
            “aku meratap. kehilangan kecermatan dan menggaet ribuan duga.
jasmani-rohani bersitegang. rampungkan gamang tertunda”.
akhirnya, tertuduh. ketenaran terbangun luruh.
-
sahaya, gencarkan konspirasi.
berembuk untuk muluskan satu hati dengan Michie
-
Perjalanan Surabaya ke Yogyakarta, Agustus 2010


*

Remah Hati

         : Matahari

tiba-tiba, engkau melantik kemelut absolut.
            (segelintir pangkal tertenteng. seperti sebuah harmoni
menyantap dengan sengat).
-
harkat beringsut, menjadi gersang-jadi pantangan.
ada orasi di kehausan.
semburkan kesima dari leding rindu terbelenggu.
merajalela. memasung aspirasi ungu di antara gegar hasrat.
-
padamu, tergolek seekor gundah. berkoar.
terlelap di rimbun kelepak.
di hadapmu, logika terbengkalai.
percik-percik performa tak mereda.
(ada semutasi) bugar ke begah, jenaka ke petaka.
-
malam lesapkan lidah, dini lamurkan netra.
aku, mulai terpupus dari semestamu.
coba menggurat riset untuk referensi.
aku, menilik.
selidiki isu demi menghardik akad nikahmu.
-
Pasuruan, Agustus 2010

*

Sajak Pasi

         : Matahari

         “tak kan kulalaikan, tak kan jadi bualan”,
         janjiku untuk seperempuan.

aku memulai dengan kompromi. menghuni rimba cinta berlambar kasih. ada introspeksi, ada autentik, ada agresi, ada gelora. bergelimpangan kembang-kumbang, berceloteh tentang etalase merah muda seperti investasi jinak tak terkuak.
-
aku berkumur wangi. tak gegabah untuk merancang dan memerinci. kodratku laki-laki: mengadopsi salah, menantang kendala. namun, pelitur rindu meruyak. berjibun, berkilat, menilap harap. memereteli indera. akhirnya, trauma menguntit. kehilangan solusi dan dapati nahas diri. tercecar. suntuk dan mutung pun jadi mandat.
-
aku membalut luka di kelingking sukma. sinis menatap asa. tiada salut, kecuali diskriminasi kian elegan. hanya sebagai penggemar, mungkin. coba tautkan hati pada matahari untuk hidupkan semi. hanya sebagai furnitur, mungkin jua. jauh dari kata “suami”, jadi lempung termaki.
-
Pasuruan, Agustus 2010

*

Ode untuk Michie

         : Matahari

aku maestro.
melucuti segala humor dengan tegar.
adakalanya ada hening, berguyur komplikasi.
ikuti mazhab ataupun membekap derap.
-
tiap malam, ada ode untukmu.
menjangkau dan menghantam, memukau mapan.
seperti boneka imut merongrong kontan.
-
ode itu bongsor, seperti kegigihan belandar.
refleksikan satu akselerasi menuju timpang.
di situ ada cinta: memanggul asumsi, jua talenta.
Mengabrasi, keriapkan janggal dan tunaikan deportasi.
-
ode itu cantik, memantik.
paparkan garang kepada khalayak.
dengingkan kebimbangan gamblang menyelempang.
beberapa sajak menginterogasi
laksana buraian razia di semak gulita.
tuk berdeku, menunggu.
-
ode ini untukmu, kau tahu?
-
Pasuruan, Agustus 2010

*

Bersedekah Sajak

         : Matahari

inilah retorika. sajam atraktif sebagai pamer.
representasi debur jiwa yang nistakan cahaya.
         beberkan cinta, purukkan asa dalam mesra.
-
hari-hari kian parau.
tergelontor parasit lantaran meniti pahit.
tiada grasi, hanya teror berkelintar.
tak ada negasi, hanya rindu memutilasi.
-
padamu, kutangkarkan benih,
beriring fitrah terhala pada konklusi.
konon, khatamkan juang ialah menang
-
untukmu, kumenyelidik.
tunggangi klarifikasi atau lancongi diri.
sempat terpegun.
mencibir alur, omeli lajur, bahkan menukas tempur.
ah...
-
menenung di atas katil merah, syahdu.
mencomot aksara, memandu kata.
rumuskan konvensi dan padankan kemurnian laten.
imbas kegundahan rangup,
sirnakan kegirangan teraup.
-
peranti malam menjadi mentor, afdal.
implisit: sembunyikan kisah sunyi bercalar-balar.
merekognisi gurau ‘tuk membingkas galau.
lalu, aku tersipu.
menunggu bangkai memberus layu.
-
Pasuruan, Agustus 2010

*

Selasa, 03 Agustus 2010

Pejamkan Matamu dan Rasakan Aku!

         : Matahari

         mungkin nahas (untuk orang lain)
         bila ku-dan-mu berintegrasi.
         stabilkan cinta dalam pusaran kelabilan ricuh penuh mata.

telah kukepulkan warna proporsional
sebagai iming-iming, stimulan, atau coreng kenestapaan.
akses terbentang:
         lejitkan pancar-pancar laksana kudapan
         atau maneken molek merambah alam.
         benih kegandrungan
         preseden sebuah sensasi, pun preferensi.
-
membesukmu, nyaris melinglungkan belaka.
menangkringkan siluet-imaji semampai.
sepertinya terkapar, menunggu pudarnya tenggat
pada abai pungkasan.
-
bernyali, meronce sejoli.
mengganjar mimpi dengan sajak kasual berdurasi.
padukan idiom-idiom merah muda lalu kucampak.
merantas batas, mendepak jarak.
-
- harap -
merelokasi binar-binar oposisi.
gunakan mandraguna ‘tuk bablaskan doa.
-
Yogyakarta, Juli 2010

*

Mengetuk Hati

         : Matahari

pada Subuh kuberambisi.
solidkan atensi untuk satu trofi megah.
tentu, prosedur mesti terfatwa dari kekisruhan jiwa.
-
pamrih, ya. culas, bukanlah cara.
bertumbal kantuk dengan represi rindu belantara.
takkan kupaling, demi menuai agunan muluk ke depan.
seorang figur kan selalu kusisipkan:
di kolong lelahmu, di pori nuranimu.
-
aku, hibahkan rayuan sebagai gejala.
mendesain kehendak: gulirkan sayang andal secara subtil.
juga, transformasikan cinta,
terlecut sejak kejelian jadi kelihaian.
-
tertambat, seutas kerumpilan kian memfosil.
menggeletar dan menggetas bersama pendar putus asa.
laksana sekumpulan rongsok bertopang dahaga.
-
langgeng dan fana bersinergi.
memboyong kenangan-rekaman kasih,
sterilkan benak dengan injeksi sajak-sajak.
ada residu merah muda.
rasuki hidup hingga liris angan menggugat kalap.
-
meracau,
“maklumilah kebebalanku
saat kemudikan animo krusial menujumu!”
-
Pasuruan, Juli 2010

*

Izinkan Aku Meminjam Jasadmu

         : Matahari

tiada gelengan. ruang cahaya tergilas kejengkelan.
-
yel-yel asing sebarkan epidemi.
mengungkung canda, menyumbar sebongkah derita.
wangi terdepak. menghiruk peredaran energi, drastis.
-
sekelumit kenyataan mengerat sepi.
bermanuver, membentuk perangai rindu beresensi.
prevalensi berubah.
ratapi cinta lalu menghimpun gontai langkah.
-
defensif (cari islah ‘tuk tegakkan gegap gempita).
-
ingin kupinjam. memampas dahaga rontok dan terbang.
sinting (hampir). terantuk pada vibrasi eksentrik nan hebring.
telanjur menyayang. fatal jiwa bila Kau tampilkan cemberut dan cerca.
-
Pasuruan, Juli 2010

*

Lelaki Terakhir

         : Matahari

         kusematkan selendang rindu penuh cahaya pada diri
         ‘tuk merilis sang lelaki terakhir


letupan-letupan merah muda kian agresif
singgahi angan-bayang.
munculkan iritasi, kitari mimpi-mimpi.
-
ialah keniscayaan.
binasakan warna, terjejali karma.
kelu, tercubit kecantikan saat merebah di sebidang cinta.
-
ronamu memperselir ruh.
mengais kewajaran timbunan kenangan.
gemulaimu jadi penggugah lelap.
tawarkan oportunitas kelabu di gumam igau tak tentu.
-
histeris;
         hayati gengsi.
         mengklaim helai demi helai penetrasi semu.
         untuk menggapai gemercik bianglala,
         rentan tercokok jantan.
-
momen, tiada. hanya
berupa insiden mini, terakumulasi oleh persuasif.
melembek di antara kenangan kursif.
-
licin, tergelincir. lugaskan dahaga, laikkan hampa.
coba merakit kiat, tampilkan tabiat
beserta puntung gereget melesat.
-
Pasuruan, Juli 2010

*

Minggu, 04 Juli 2010

Posesif

: Matahari

Aku
membius kantuk, mengoplos lema-lema bernurani
bermaksud memberi noktah pada mimpimu, wahai Michie

menggebuk letih, ejangkan sisa-sisa rindu
untuk bersimpuh dan sedia merembangkanMu

ternodai, terpatri oleh gemuruh indah
merangkai tangkai-bunga puisi
berharap kau tenggelamkan jasadku pada luas pipi

tersentak kala manjamu tak lagi tersuruk
remangkan berat, penat, dan lancip
namun sepenggal senyum sudah cukup menderuk ruh

terbuai, mengundi datangnya kecupan
pada silau dingin embun malam

menagih darah
lenggangkan dua mata berapi
menyortir asa-derita demi menggagas cinta

dan Kau
cuma mengubrak-abrik angan
ciptakan aral, menelurkan teluh
dan aku pun melepuh
-
Pasuruan, Juni 2010

*

Dendam Berahi

         : Matahari

(tiap akhir Sabtu)
rindu terbahak-bahak.
mengoyak mata, kedip pun tersambar.
-
bayangnya tergapai tetapi tak terkecap.
sirkulasi hela berubah asma.
kenangan berkamuflase.
mencacah spirit meski sekepal puisi kuharap bertuah.
-
(tiap awal Minggu)
bagai seorang kusir:
memimpin pawai di bawah terik cinta, di pusat frustasi membara.
seperti oasis pemulih tenaga.
mencoba membesut agar kambuh tak jadi pemangsa.
-
jelita mencecar, bagai rongrongan samurai.
mencuat, sesenggukan kala transfusi mengucurkan belati.
tidak,
kerut padaku bukanlah uzur, sayang!
-
kebeliaan kita ialah rumor.
serentak, melonggarkan janin saat benih berkecimpung
tanpa canggung.
-
Pasuruan, Juni 2010

*

Mengintip Matahari

         : Matahari

anyaman malam terhanyut bersama embun asri.
suram menyokong udara; tersayat sayu pada kreasi cahaya.
-
sejuk melongok. menjajakan bening kepada alam,
sempat murung dan mengernyit kelam.
bulan terkulai bergaun awan.
menyalang doa-doa berdenging pada sekelebat waktu mujarab.
-
biasnya merenggut bintang.
mengandaskan aroma tumbuh-tumbuhan hingga menyapa ventilasi.
hangat memagut, perangai pun tersulut.
merogoh jiwa lalu berseru agar gelak manis tertera.
-
ia memoles mata.
memungkiri kantuk, lekas.
ia tergiur.
membeku pada satu titik resah.
tak terperi, janggal.
angannya menyigi.
coba meraih ranum surya namun nihil sigap mendusta.
-
Surabaya, Juni 2010

*

Esa Hilang, Dua Terbilang

         : Matahari

(pada imaji)
dingin di atas nyenyakku kian terkuras.
pelupuknya melontarkan gatal pada angan merona.
keheningan jadi majal.
tiba-tiba, kecantikanmu melerai ceriaku dari hidup.
-
lenguh terasa pada gembur bibir lalu pinta tersembur
dari ujung raungan. sekat-sekat terkelupas,
julurkan cinta tiada tepermanai
berbaur dengan sedapnya aroma surga.
-
jiwaku terpilah.
mengangkut trenyuh di antara sajak-sajak pirang bergelombang.
ragaku berjingkrak
dan kantuk pun raib bersama gelontoran angan bangir
mengandung musabab.
-
(pada mimpi)
ada bercak putih, bersinar.
kilaunya merundung lekuk-lekuk pandang.
lamat-lamat, terdengar tawa di balik sangkar.
bayangku coba mengusik.
pingkalnya mereda namun mata itu telah menghujam pangkal darah.
-
ku & mu berkelindan.
merajut cerita kolosal untuk menebus rindu sahih tak terjamah.
-
--- terjaga; mencoba menanggul air mata. namun,
netra mulai melampiaskan dahaga ---
-
Pasuruan, Juni 2010

*

Senin, 07 Juni 2010

Bisikan Sanubari

         : Matahari

aku membuka senja renta.
berhasrat menjemputmu, memandangiku di atas pembaringan.
-
aku menumpahkan kedua tangan.
menghanyutkanmu dalam hangat, memeluk jasad berpeluh pucat.
-
daun-daun meranggas dan berguguran.
tertegun, terkesima menikmati dewi malam
ringkih terpangkas rayuan.
-
tiada pamor.
hanya sekerlip bintang sedang mengemban secabik kain perceraian.
aku pun terlelap.
menggerogoti kenangan manis bersamamu
sembari memeram rindu tak bertuan.
-
Pasuruan, Mei 2010

*

Anak Desa yang Sedang Jatuh Cinta

         : Matahari

segala bujuk rayu telah kulambungkan.
kupanjat pula terjalnya kerinduan agar melihat ikrar.
tetapi, dirimu memilih bergayut pada tumpuan tak bertepi.
-
engkau melumat.
mendera mimpi-mimpiku dengan longsoran cinta bertubi-tubi.
sempat terjengkang,
namun kembali menyembul saat air mataku melawat sketsa biru.
-
semringah, bukan lagi sahabat.
libasan kekalutan telah menjadi warisan.
-
aku menerka.
mencari prahara, bersilir-silir di sela-sela gubuk sawah.
ada yang terkapar, terjungkal, dan berjingkat.
ada pula tergelitik oleh asmara.
-
embun pagi hendak memberontak.
menelungkupkan kuncup bunga sebagai persembahan untuk sahaya.
bening pun sirna.
mencampakkan dingin, juga meredam gulita.
-
aku hanya tunduk.
menikmati hampa di balik dongeng-dongeng tertera.
bersambat pula imajinasi.
memunguti satu per satu penat
seraya menyergap riuh pada gejolak jemu.
-
malam ini, aku ingin menjengukmu.
membelai lentik jari-jemarimu lalu mengecup keningmu
sebelum kau menggeluti nyenyakmu.
-
Pasuruan, Mei 2010

*

Perbincangan

         : Matahari

Minggu terbasuh.
tersuruk sajak-sajak kendati kokok ayam belum ditabuh.
Minggu pun terambah.
berkilah bahwa seutas cinta telah dijatah.
hmmm…
-
embun mengumbar.
menuangkan salut pada seorang pria,
tergenang jenuh dalam gundah.
angin pun terpana.
menyaksikan dirinya terengkuh rindu maha.
ahh…
-
pria itu berkata,
         tiada mulus.
         seluruhnya bersanding dengan mimik acap terantuk batu.
         mula-mula membungkam jiwa, seketika
         ada rentetan sinar lembab merinai dada.
         menekur,
         mencoba menjinakkan derita di antara gunjingan angan-angan.
         tengadah,
         meski lumrah tak lagi lincah.
         pun mematut-matut,
         berharap unggul demi menggenggam kuasa.
-
mujur, mungkin saja merundung.
namun serangan dini ini bukanlah pungkasan.
-
Pasuruan, Mei 2010

*

Dilema

         : Matahari

berjalan, melangkahi jelaga seraya menyusun sebuah persepsi.
pasrah, menunggu cibiran sambil bergelut dengan kegalauan.
-
energi telah menguap.
benderang hilang seakan hembuskan pertikaian
di sekitar kedangkalan rindu.
pun, pada guliran takdir bersama tafakur malam.
-
logika kian terbentur.
berteduh di semak motivasi, terlunta-lunta.
tak ada argumentasi.
hanya memamah pergeseran reputasi.
juga, memacu suluh
laksana sinis memerciki layu hingga lumer dan berbau.
-
ah, tersirat
kecantikan semampai meremas hati.
mimpi-mimpi saru mengganjal.
mengisahkan tuduhan, tak kunjung membidik sasaran.
(kelak) janji ‘kan tertelan.
menohok jantung lalu menegakkan abaian sadar.
cinta ‘kan bangkit.
menakar dan menilik pengabdian seseorang
demi menambal iga terbuang.
-
Pasuruan, Mei 2010

*

Aniaya

         : Matahari

aku,
menyelinap di sela-sela cinta.
menjerit, melenggak-lenggok, dan berseliweran pada serpihan waktu
demi meraih kegirangan optimal.
-
aku,
mengurai peluh-letih dalam dada.
abaikan onar, melanda sukma.
hanya untuk mengincar tengara di balik dekap seorang hawa.
-
aku,
bertolak dari asumsi timpang.
terlonjak dan bergolak ketika anggunmu menyengat bawah sadar.
akhirnya, gedoran itu pun merembesi nyenyak.
-
aku,
memantau kerlip senyummu di bawah sorot cahaya bulan.
memelototi gemulai tangan-badan,
membenamkan celotehku dalam rindu
hingga pikiranku enggan untuk menghalau debur manismu.
-
aku,
merengek kepada Tuhan.
mengutuk hatimu agar lekas melucuti kejanggalan membayang
sebelum muslihat palsu mengubah untuhmu menjadi kuyu, jua gersang.
-
sayang,
hari-hariku tersayat.
cantikmu larut bersama semangat kurawat.
rutinitas tak lagi lazim
dan tegarku digelandang menjauhi mutu terpancang.
ditemani tiang pada genggaman kanan, aku berdiri.
menunggu bendera biruku kau sulut api.
-
Pasuruan, Mei 2010

*

Sabtu, 01 Mei 2010

Menanam Pelangi

         : Matahari

aku ingin mengungkapkan rahasia kecil kepadamu.
sebuah kilauan narasi tatkala terhampar
di antara paras kita berdua.
mau?
-
ada pelangi mungil di belakang rumah.
lestari, telentang di antara semak-semak.
sinarnya menjangkau,
mendobrak pintu-pintu dan menukik hingga ke kamar.
kerlap-kerlipnya menyelinap.
menyumbat gelap saat petang sambangi jagat.
kau mau menengoknya?
-
peliharaanku bermata.
siang terpejam, mengurai saptacahaya.
pagi-sore kutaburi parfum
agar harum menyerbak suasana.
-
pernah aku menghayati hingga tercengang.
cerahnya melindap meninggalkan Subuh
dan kalbu beranjak merekah ketika sang pelangi
terpejam di atas singgasana.
-
kuingin merombak, mendongkel,
memencilkan warna-warninya.
membengkokkan, jika bisa.
lalu, kan kukirimkan sulur-sulur itu padamu tiap dini.
-
jiwa berjibaku.
tak kuasa rindu menerpa,
membayang menjelang guratan takdir terkekeh sempurna.
berbekal pelangi,
Minggu sulungmu kan kuusik.
menyergah balutan mimpi-mimpi.
berharap mengentas ketelanjuran ketaksadaran
oleh memar seorang laki-laki.
-
Pasuruan, April 2010

*

Matahari Beranjak Menyilam

         : Matahari

kau duduk berkebaya,
menyuguhkan kecantikan aktual.
nyaris merakit insiden kegilaan,
membiak bersama denyut jantung di ujung cedera.
-
tatapanmu menggugat.
menjangkiti mimpi-mimpi
kala sebuah cinta mekar lalu menyinergikan rongga-rongga otak
hingga mencemari darah dan menyimbahi sesak jiwa.
-
namun, suasana biru telah tereduksi.
memberikan mandat melalui lansiran suara,
“apakah engkau kan tetap memampangnya
ataukah dirimu mulai menabalkannya?”

-
aku hendak mengeluh.
menceritakan secara gamblang kepada deretan aksara
ataupun kepada jerat, kian mengganasi sukma.
-
anganku mengkritis.
tersegel oleh kepengapan taburan sayang.
pendar-pendarku juga lenyap.
menyisakan kehangatan polos di antara bercak-bercak marak.
-
Pasuruan, April 2010

*

Setetes Cinta yang Berselang

         : Matahari

merekrut cantikmu di lindungan kerudung ialah senja.
kan menggelegarkan jagat hidupku menjadi lebih bernyawa.
-
aku berjubel,
merembet pada setangkai garis prematur
terlindungi halimun cinta.
Rumornya pancaran senyummu tersohor
hingga melengserkan puspa.
di sempadan ini jiwaku tak kunjung kibarkan jera.
-
(santer terdengar)
jiwa-raga mereka terpental
tanpa amnesti, kompromi.
         …, “sang putri tak berselera kepada kami”.
         …, “sang putri cenderung tak berspekulasi”.

-
tubuhku hanya jelata.
menyerukan dekaman elan dalam sukma.
tak ada kalut.
hanya tertatih di tanjakan dan sedikit limbung
tatkala bayu menerjang.
-
sekujurmu meluap.
merealisasikan warna-warni sengit,
beredar bersama hangat surya.
aku meraup cinta.
namun, sontak jasadmu hijrah.
lekas menjauh beriring sekuntum rindu menikam dada.
-
Sidoarjo, April 2010

*

Obsesi

         : Matahari

aku ingin membidikmu dengan sungguh.
mengincar kerutinan di sela-sela papah,
bermaksud untuk menjungkal frustasi
ketika firasat beranjak terlelap dan bersitkan destinasi.
-
aku ingin menorehkan senyum di kedua bibirmu.
memekikkan seruan-seruan lucu bergelimang puisi beresensi
pun menitikkan beberapa tetes air mata sebagai tanda
bahwa lunglai telah menggerus dada.
-
aku ingin membelai jemarimu.
mencoba menguak perasaanmu sebagai ambisiku,
merekayasa jalinan asmara bersama tembang-tembang dramatis
seraya membangkitkan pelantingan resah hingga menelurkan petaka.
-
aku ingin menjamah pernak-pernik parasmu.
menyandera satu-dua bagian secara bijak.
memikat, mencuil tatkala lengah
kemudian bergegas kusurut sebelum tertukas makna.
-
aku ingin melacak hangat tubuhmu.
meraibkan kucuran dan seliweran dingin di antara resah-risauku,
jua mengukir kecemerlangan di atas gundukan buram
saat kecamuk menjajah tulang.
-
aku ingin meminjam hatimu.
mengabaikan para rival, mencoba mendahului.
bila berhasil, kan kuserut benda itu dengan lirih
agar cantikmu benar-benar menjadi permaisuri.
-
kelak, aku ingin kita berpadu.
bernyanyi dan menari pada secarik inspirasi,
meriuhkan cerita-cerita kusam,
lalu menorehkan kemelut untuk setangkai langkah sigap tanpa enggan.
-
Pasuruan, April 2010

*

Senin, 05 April 2010

Sebuah Ramalan, Satu Raihan

         : Matahari

aku ingin menjaga tradisi. mengombinasikan ketegaran dan kepupusan saban pagi. ingin jua kumelahap cantikmu kala senggang teramu. namun, jiwa tak lagi berkutik tatkala kelabu gencar mencerca. aku berseteru dengan logika, tapi kenangan tentangmu malah tercerabut menjauhi raga.
-
aku meronta. mendenyitkan nada-nada ideal demi berdiri di podium kesuksesan. aku pun berselancar. mengabaikan dewi-dewi belia untuk memrakarsai komitmen bahwa jiwa-ragaku kompeten menyediakan cinta. memang tak terlalu parah saat berkiprah dan selasar puisi sudah cukup untuk menyematkanku sebagai pakar penanti sadar.
-
aku meringkuk di balik selimut. memantau ilusi-ilusi lembab dan mulai kendor. aku terjerembab lantas nyaris tergiur keputusasaan pesat. kau beranjak luput. biang sebuah kekandasan dalam sandarku. tak perlu rehabilitasi. mungkin, malam ini aku akan sungsang di liang tidurku lalu linglung untuk jangka waktu tak tentu.
-
Pasuruan, Maret 2010

*

Ya, Aku Sedang Jatuh Cinta

         : Matahari

aku memungut sisa-sisa tabiatku. acapkali teraneksasi
tatkala hati berkoar untuk mencintai.
-
aku melimpahkan rentetan sayang untuk memikat
demi menjadi kandidat.
-
jiwa mulai tergores,
terjangkit sebuah kegundahan
dan berkerumun di antara kesengsaraan.
-
kau nampak eksotis di tanjakan lamunanku.
menyerap tenaga hingga nyaris timbulkan anomali tak terduga.
aku bertempur dengan rindu
lalu terpuruk dan penat
ketika kau bangkit tanpa menengokku.
-
pilar-pilarku labil.
tunduk di pusat kepulan semangat.
akhirnya, nyawaku berdebar.
tiba-tiba, asaku kian lenyap tak berkabar.
-
(mungkin) aku takkan pulih.
gelagat itu lugas terasa kala reputasiku terdongkrak
menuju kegelisahan dini, menyinggung sukma.
bianglalaku beranjak kucel.
cahaya imanku turut terberedel.
-
Pasuruan, Maret 2010

*

Ragamu, Jiwamu

         : Matahari

kau selalu membelitkan cantikmu di balik tirai.
bersolek, entah untuk siapa.
-
senyum manis menjuntai.
mengguyur ubun-ubun rentanku
tatkala rindu meresap hingga segan untuk kuemban.
-
aku melacak.
mencoba mengecoh, namun kau penuh amunisi.
tak menerima nominasi.
-
sebongkah jurang terbelintang.
aku berencana singgah tapi jarak terlalu menganga.
aku mengayuh, menghindari dilema
sampai tersaruk.
lalu, wajahku lamban dihiasi air mata.
-
aku ingin berkecimpung bersamamu.
membenahi segala urusan dengan kecerdikan
atau mereunikan kenangan, dulu sempat tersendat dan hilang.
tapi, …
aku ingin mendekapmu.
memasifkan cinta
atau sekadar saling membalut luka.
tapi, …
-
kini, aku nyaris mengerang.
kematian sengit drastis membayang.
tolong!
suapkanlah lengking tawa dan kasih sayangmu kepadaku
untuk santapan penutupku.
-
Surabaya, Maret 2010

*

Fatamorgana

         : Matahari
         -- sebuah kado ulang tahun --

selalu, kecantikanmu bertengger dalam mimpi.
terlalu gesit untuk kuapresiasi.
-
lelapku, kau landa dengan cinta.
pun kasih yang buatku memar dan nanar.
-
alunan senyummu menyajikan sulur berduri.
terlalu pelik kudekati, amat parah bila kutawar nyali.
-
igauku bukanlah kontes.
bukan!
apakah engkau iseng?
ataukah ini sebuah amanat?

-
bayangmu menjadi dominan.
bergegas menghanguskan.
hamburkan jentik-jentik sayang, bergerak pesat.
lalu menjalin pantangan, kau hendaki di petang silam.
-
jiwaku tersungkur.
tengkurap memelas ampun.
meredam rawan agar bertahan.
lakukan terapi sembari menunggu kepastian.
-
takkan pernah aku memilih jemu.
jangan kira asaku ‘kan rontok meski kau acuh.
dan kelak, kendati dipandang sebagai remeh
aku pasti mencium keningmu.
selepas menorehkan janji di hadapan warga dan penghulu.
-
Kediri, Maret 2010

*

Jumat, 05 Maret 2010

Menangkap Bintang

         : Matahari

jasmani dan rohaniku terbungkam.
mencoba menerjang sebuah podium pembopong sang surya.
-
kenangan-kenangan mulai renta.
imbas benaman sekuntum bara api di lautan risau dan igau.
-
ayunan tulang punggungku tak lagi leluasa menunjukkan nyala.
tiap malam seakan harus siap menelan mimpi keruh.
saat bangun, aku mencoba menghafal dan mengusut,
namun kian surut.
-
hari-hari kerjaku dikepung, selalu.
berusaha merendamku ke dalam masa berkabung.
-
di secuil tempat, aku terpental.
di seutas waktu, aku oleng.
di sehelai pagi, aku sembab.
di seiris sore, aku tergencet.
dan di setangkai dini hari, aku mendongak.
-
hingga ujung ini, tak ada jawaban.
semoga tak luput, berharap dapat kugenggam.
-
Pasuruan, Februari 2010

*

Lampion Hitam

         : Matahari

berkabung.
nyala pendaran terlalu rumit untuk menerjang udara.
hewan-hewan mungil hijrah seiring hati merasa terpencil.
mengeja lampion beranjak renta.
-
terasa lengang dan senyap.
mengerucutkan komitmen di antara deretan kelam.
hingga secuil angpau tiba-tiba mencoba mengevakuasi.
menyuarakan gaduh, pun merisaukan candu di belukar api.
-
aku mencoba menafkahi.
menyulut kreasi ketika beberapa rival
menepis kegagapan dalam diri.
ceceran kenangan belum lunas, masih berkutat di timbunan jerami.
dan mereka sedang berteduh, (saat ini).
-
pantauan mulai beredar secara nomaden.
mengisahkan kegemaran melesat pucat.
kemudian lekas menyuarakan “selamat malam”
untuk sepasang rembulan,
bersanding anggun dalam lindungan cahaya bintang.
-
Kediri, Februari 2010

*

Origami Berbentuk Hati untuk Michie

         : Matahari

pemujamu ini hanya dapat menyelonjorkan harapan bungsu.
sulung telah melebur, lantas mengidap duga.
-
bayangmu menepuk hati.
sedikit lapang dada tereliminasi.
mensuplai beberapa sekat, sarat dengan petir,
mengkudeta konfidensi.
-
kau menghendaki origami.
bersama sebatang kruk aku mencoba mengoleksi jerih payah.
kegesitan dan kelayakan kulambaikan
di atas hantaman badai. namun, ternyata
dirimu hanya mengkhayal.
buat napasku kian lamban dan gersang.
-
tubuhku ambruk.
mengolok-menyindir ke segala lamunan.
sempat kuacungkan tengadah lumrah.
tapi, mustahil semakin marak.
dan kulitku mulai tergerogoti nyeri, mengusam, lalu melepuh.
-
nada kehidupan terasa reda.
menyematkan pita-pita hitam, beranjak mendekati diri.
pengap mulai beraroma.
menghentikan solusi dan ratusan inteligensi.
origami itu menari dan memergoki kerut, menerkamku.
tiba-tiba ia berkenan membangkitkanku.
aku sempoyongan, lembek bagai jasad tak bertulang.
-
Kediri, Februari 2010

*

Doa Seorang Pasien

         : Matahari

tiba-tiba, sorotmu mengapit.
menindih hingga ke ubin kendati diri tinggal sepenggal mati.
-
di benak, acapkali ada salut untukmu.
melanggengkan kasih identik.
menganut ancang-ancang sayang
ketika bintang saling menautkan binar.
lumrah namun janggal. kutawarkan cinta, justru
kau anggap terlalu glamor untuk kau cerna.
-
keresahan datang dari satu penjuru.
mengalirkan pulusi, pun kebisingan.
merosot di sela-sela instruksi berironi.
opsi-opsi bujuk membentang saat aku
mulai luruh, kikuk, dan kaku terbujur di keheningan temaram.
tapi, aku takkan tamak karena tahu bahwa adinda
hanyalah hawa. masih meliliti diri
dengan keriangan tak bertepi.
-
biarkan aku mengeksploitasi, bahkan menggerogoti kata.
menggaduhkan dunia dengan frasa dan klausa dekil terbilas makna.
sungguh, segalanya bukan gumaman lusuh.
goresan-goresan cermat akan selalu bertandang di ujung Minggumu.
jangan muak bila kau anggap itu sebagai rombeng menggelitik.
ataupun segumpal bayi haram siap pendam.
-
kuhanya ingin membeli cinta.
sudikah kau menjualnya?
-
Kediri, Februari 2010

*

Senin, 01 Februari 2010

Memeluk Matahari

         : Matahari

terlentang. menatap rupamu secara rinci
dan menapaki garis bibir.
ini bukanlah bermakna peyoratif atau sinis.
tapi, merupakan pemangkas sekaligus pembongkar abadi
agar kudapat memerankan prioritas.
-
terlalu menunggak.
membalut cinta dan sayangmu seperti mengais pilu.
membuat sekumpulan parau mengoyak nada kehidupan,
telah lama berdentang. ini ajang dalam irama.
dan rindu menjadi antusias untuk segera menuntas
di balik kelopak dahaga.
-
tak perlu interogasi.
kuhanya ingin menyita Melati yang kian basi.
-
Kediri, Januari 2010

*

Mencerna Juara

         : Matahari

tak ada kepopuleran terencana.
segalanya jebol tatkala refleks untuk terus mencintaimu
menerus memunculkan hasrat, mengeruk rindu.
bolehlah jika kau sebut profesi berjenjang
dan akan memerkarakan kerunyaman.
tapi, aku masih menderai rutinitas di temaram malam.
-
kendati telah tervonis, takkan kubiarkan indah jasadmu
luput dan meliar bersama lain.
itu tak setimpal dengan pengorbanan labilku.
ini bukan masalah trauma namun setangkai cara
untuk melabuhkan hatimu di dekapku.
menggiringmu agar dapat memaknai celotehku.
-
tolong, jangan jelmakan sayangku padamu
sebagai perkakas usang.
-
Pasuruan, Januari 2010

*

. . .

         : Matahari

semangat melaju, pulas dengan beberapa anggukan
sambil mengobrol bersama lamunan.
menghabiskan banyak ongkos tenaga saat menjaring kebugaran.
dan tiba-tiba, khayal mencuci mata.
pun mencuci otakku lalu mengguncang mimpi
ketika dirimu menampar kejantananku.
ini takdir yang dapat kuubah atau nasib yang harus kerela?
-
Kediri, Januari 2010

*

Sajak Terakhir

         : Matahari

sebatang kapak menemui,
menawarkan sebidang ranjau penyurut nyali.
indera hati peka, menomorwahidkan satu racikan maut tiada tara.
tiba-tiba, olesan api merambati diri.
mencicipi bisikan kegagalan di kerumunan sabda khalayan
-
hari-hariku tersaput senyummu saat pose-pose menyambar
dan menguar dari dalam layar.
semerbak indah hiasi buana kemudian limbung terkena pancaran.
seisi angan menjadi melompong,
hanyut terguyur tatapanmu, menggenangi kalbu.
-
cintaku mulai keroncongan.
segumpulan itik menghibur tapi pedalaman nurani tak mujur.
raga terpancang, mengingkari segenap bayang merah.
terlalu lama menghimpit dan memunculkan trauma.
aku belum tuntas menyinggahimu
namun kau pantas menjinggai harapanku.
-
aumku menyalak, mencoba mengitari daerah rawan untuk bersorak.
tak ada penat. hanya keluguan semu, menyalakan dendam.
mereguk beberapa lengking tangis dan belajar menggerus parasmu
ketika berarak ikuti tawa-duka duniaku.
muruah beranjak pergi, meratapi jiwa tak terestui dan
mengabulkan segelintir renungan, melumat kobaran api asa.
kemenangan tak lagi terlihat kekar.
hanya menyisakan ketololan di hadapan kawan.
sungguh, sebuah pahit telah menyadarkanku
-
harapku, hanya ingin melingkarkan tanganku di hatimu.
mencoba membuat jiwamu terkesima oleh rayuan malam mingguku.
aku cemas jika tak terbalas.
kan terperangah bila kau menggandeng Arjuna.
kan berubah lindap apabila dirimu ketus kutatap.
doaku, semoga kelembutanmu tetap utuh
tatkala sinarmu bersandar bukan di pundakku.
-
Pasuruan, Januari 2010

*

Sabtu, 02 Januari 2010

Disorientasi Cinta

         : Matahari

jasadmu penuh pukau.
menepikan segala kekurangan ketika tulang belulang
mengarungi pedalaman hatiku.
terasa, menjunjung angan tak berdasar
hingga kepala membungkuk tajam.
-
parasmu tumbuhkan polemik. jadi, bukan bernada salah
saat tubuh kebablasan langkahi ibadah.
harummu layak untuk segala pria. tapi, mereka
kan menggembur bersama umpatan
bila matamu mengetuk hati selain milikku.
-
merayap setetes bisa di secuil butir pasir.
menapaki beberapa tali lalu menjongkok di lancip hidungku.
adikarya kebanggakan pun terpenjara jika itu adalah kirimanmu.
-
ingin diri meminang di bawah kunjungan mentari pagi.
mungkin, jiwa melemah tanpa elusmu.
mungkin pula menjadi inspirasi semangat biru.
ini anugerah, pun sejumput kutukan belia tiap mimpiku.
-
Pasuruan, Desember 2009

*

Setangkup Cinta untuk Matahariku

         : Matahari

bolehlah, jika ujarmu memakzuli cintaku.
menyulut sebatang seokan usia dalam tabung.
-
aku tersangkut.
mataharimu menyergap, mencongkel sebagian besar malu
saat berkelit dan menggeleng di pucuk pandangmu.
-
tiba-tiba, lezatmu mengelupas.
rindu kian meruap. mencari beberapa rajah
hingga dagingku mengurus.
-
dia, sang ubun-ubun, menjadi kuno.
terlalu nikmat mengunyah segalamu pada masa lampau
lalu ia menjerat dada.
akhirnya, mataharimu menyuap pahit.
memahat ukiran sakit, tertiup ke sekujur.
-
mencolek hati bukan suatu kelenturan.
aku telah kuyup mengejar-terbakar.
pun membisingimu dengan berjuta rasa,
mengumbar derita di balik wajah
dan pula mendirikan malapetaka.
-
banyak keributan, sedikit terdengar kelegaan.
sekejap merekah kemudian terkikis
ketika firasatmu belum meraba.
percayakah kau padaku?
-
ingin memetikmu.
bentang tangan berharap mendekap agungmu tanpa terkerat.
ingin jua cincin, kalung, dan anting
kucantumkan untuk hiasanmu. namun, itu
hanya kupasan sayangku.
telah melebur bersama usapan air mata, mungkin!
-
Pasuruan, Desember 2009

*

Selendang Cinta untuk Sayangku

         : Matahari

tersadar. ternyata, kau mengimpit suasana.
pijaran parau berserakan bersama telikungan getir.
setetes nyinyir sebabkan gigil.
mengenyahkan beberapa ikrar
dan berangsur diriku mencium riuh kekalahan.
-
entah, itu gugatan ataukah makam.
anarki sedih merebak. sebuah pilarnya
mengukir prestasi, merusak konsentrasi.
posisi imitasi mulai terbentuk.
kasatmata, aku beranjak tak berdaya.
-
aku berada pada peringkat terburuk.
bakat bukan jadi senjata.
ajang kematian tersebar di kota cinta.
suksesmu adalah hancurku.
harapanku berada pada lambaian manismu.
-
alam menggelegar, mengubah rangkaian rindu di sela paru.
sayang, sudikah berdansa denganku?
-
ah, percik kasihmu tak mampu kuraih.
terlalu berharga, amat sakit bila sekadar menjamah.
-
Pasuruan, Desember 2009

*

Pemakaman Rindu

         : Matahari

di sebuah mimpi kau memantik, memrotes segala bayangku hingga jera.
jerit mengalun syahdu, menjubeli rongga-ceruk
pada dinding-dinding otak tak bernyawa.
-
segenggam lambai memotivasi serentak gerak.
namun sial, hati hanya berongkang-ongkang tanpa kelembutan.
siluetku angkat kaki.
dikaruniailah seutas kandidat resmi, tapi terlalu pahit.
dorongan menyerah, berjibun memenuhi pelataran pelupuk mata.
membuahi dan menyayang jadi prioritas primer.
-
izinkan diri menjelma pramuniaga.
melayani untuk sebungkus cendera mata di balik ragamu.
rohku melafalkan cinta, memberi satu gambling di ujungnya.
-
Pasuruan, Desember 2009

*