kau duduk berkebaya,
menyuguhkan kecantikan aktual.
nyaris merakit insiden kegilaan,
membiak bersama denyut jantung di ujung cedera.
-
tatapanmu menggugat.
menjangkiti mimpi-mimpi
kala sebuah cinta mekar lalu menyinergikan rongga-rongga otak
hingga mencemari darah dan menyimbahi sesak jiwa.
-
namun, suasana biru telah tereduksi.
memberikan mandat melalui lansiran suara,
“apakah engkau kan tetap memampangnya
ataukah dirimu mulai menabalkannya?”
-
aku hendak mengeluh.
menceritakan secara gamblang kepada deretan aksara
ataupun kepada jerat, kian mengganasi sukma.
-
anganku mengkritis.
tersegel oleh kepengapan taburan sayang.
pendar-pendarku juga lenyap.
menyisakan kehangatan polos di antara bercak-bercak marak.
-
Pasuruan, April 2010
*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar