di sebuah mimpi kau memantik, memrotes segala bayangku hingga jera.
jerit mengalun syahdu, menjubeli rongga-ceruk
pada dinding-dinding otak tak bernyawa.
-
segenggam lambai memotivasi serentak gerak.
namun sial, hati hanya berongkang-ongkang tanpa kelembutan.
siluetku angkat kaki.
dikaruniailah seutas kandidat resmi, tapi terlalu pahit.
dorongan menyerah, berjibun memenuhi pelataran pelupuk mata.
membuahi dan menyayang jadi prioritas primer.
-
izinkan diri menjelma pramuniaga.
melayani untuk sebungkus cendera mata di balik ragamu.
rohku melafalkan cinta, memberi satu gambling di ujungnya.
-
Pasuruan, Desember 2009
*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar