aku ingin menjaga tradisi. mengombinasikan ketegaran dan kepupusan saban pagi. ingin jua kumelahap cantikmu kala senggang teramu. namun, jiwa tak lagi berkutik tatkala kelabu gencar mencerca. aku berseteru dengan logika, tapi kenangan tentangmu malah tercerabut menjauhi raga.
-
aku meronta. mendenyitkan nada-nada ideal demi berdiri di podium kesuksesan. aku pun berselancar. mengabaikan dewi-dewi belia untuk memrakarsai komitmen bahwa jiwa-ragaku kompeten menyediakan cinta. memang tak terlalu parah saat berkiprah dan selasar puisi sudah cukup untuk menyematkanku sebagai pakar penanti sadar.
-
aku meringkuk di balik selimut. memantau ilusi-ilusi lembab dan mulai kendor. aku terjerembab lantas nyaris tergiur keputusasaan pesat. kau beranjak luput. biang sebuah kekandasan dalam sandarku. tak perlu rehabilitasi. mungkin, malam ini aku akan sungsang di liang tidurku lalu linglung untuk jangka waktu tak tentu.
-
Pasuruan, Maret 2010
*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar