Aku
membius kantuk, mengoplos lema-lema bernurani
bermaksud memberi noktah pada mimpimu, wahai Michie
menggebuk letih, ejangkan sisa-sisa rindu
untuk bersimpuh dan sedia merembangkanMu
ternodai, terpatri oleh gemuruh indah
merangkai tangkai-bunga puisi
berharap kau tenggelamkan jasadku pada luas pipi
tersentak kala manjamu tak lagi tersuruk
remangkan berat, penat, dan lancip
namun sepenggal senyum sudah cukup menderuk ruh
terbuai, mengundi datangnya kecupan
pada silau dingin embun malam
menagih darah
lenggangkan dua mata berapi
menyortir asa-derita demi menggagas cinta
dan Kau
cuma mengubrak-abrik angan
ciptakan aral, menelurkan teluh
dan aku pun melepuh
-
Pasuruan, Juni 2010
*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar