: Matahari
“tak kan kulalaikan, tak kan jadi bualan”,
janjiku untuk seperempuan.
aku memulai dengan kompromi. menghuni rimba cinta berlambar
kasih. ada introspeksi, ada autentik, ada agresi, ada gelora. bergelimpangan
kembang-kumbang, berceloteh tentang etalase merah muda seperti investasi jinak
tak terkuak.
-
aku berkumur wangi. tak gegabah untuk merancang dan
memerinci. kodratku laki-laki:
mengadopsi salah, menantang kendala. namun, pelitur rindu meruyak. berjibun,
berkilat, menilap harap. memereteli indera. akhirnya, trauma menguntit.
kehilangan solusi dan dapati nahas diri. tercecar. suntuk dan mutung pun jadi
mandat.
-
aku membalut luka di kelingking sukma. sinis menatap asa.
tiada salut, kecuali diskriminasi kian elegan. hanya sebagai penggemar,
mungkin. coba tautkan hati pada matahari untuk hidupkan semi. hanya sebagai
furnitur, mungkin jua. jauh dari kata “suami”, jadi lempung termaki.
-
Pasuruan, Agustus 2010
*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar