bolehlah, jika ujarmu memakzuli cintaku.
menyulut sebatang seokan usia dalam tabung.
-
aku tersangkut.
mataharimu menyergap, mencongkel sebagian besar malu
saat berkelit dan menggeleng di pucuk pandangmu.
-
tiba-tiba, lezatmu mengelupas.
rindu kian meruap. mencari beberapa rajah
hingga dagingku mengurus.
-
dia, sang ubun-ubun, menjadi kuno.
terlalu nikmat mengunyah segalamu pada masa lampau
lalu ia menjerat dada.
akhirnya, mataharimu menyuap pahit.
memahat ukiran sakit, tertiup ke sekujur.
-
mencolek hati bukan suatu kelenturan.
aku telah kuyup mengejar-terbakar.
pun membisingimu dengan berjuta rasa,
mengumbar derita di balik wajah
dan pula mendirikan malapetaka.
-
banyak keributan, sedikit terdengar kelegaan.
sekejap merekah kemudian terkikis
ketika firasatmu belum meraba.
percayakah kau padaku?
-
ingin memetikmu.
bentang tangan berharap mendekap agungmu tanpa terkerat.
ingin jua cincin, kalung, dan anting
kucantumkan untuk hiasanmu. namun, itu
hanya kupasan sayangku.
telah melebur bersama usapan air mata, mungkin!
-
Pasuruan, Desember 2009
*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar