pada Subuh kuberambisi.
solidkan atensi untuk satu trofi megah.
tentu, prosedur mesti terfatwa dari kekisruhan jiwa.
-
pamrih, ya. culas, bukanlah cara.
bertumbal kantuk dengan represi rindu belantara.
takkan kupaling, demi menuai agunan muluk ke depan.
seorang figur kan selalu kusisipkan:
di kolong lelahmu, di pori nuranimu.
-
aku, hibahkan rayuan sebagai gejala.
mendesain kehendak: gulirkan sayang andal secara subtil.
juga, transformasikan cinta,
terlecut sejak kejelian jadi kelihaian.
-
tertambat, seutas kerumpilan kian memfosil.
menggeletar dan menggetas bersama pendar putus asa.
laksana sekumpulan rongsok bertopang dahaga.
-
langgeng dan fana bersinergi.
memboyong kenangan-rekaman kasih,
sterilkan benak dengan injeksi sajak-sajak.
ada residu merah muda.
rasuki hidup hingga liris angan menggugat kalap.
-
meracau,
“maklumilah kebebalanku
saat kemudikan animo krusial menujumu!”
-
Pasuruan, Juli 2010
*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar