sebatang kapak menemui,
menawarkan sebidang ranjau penyurut nyali.
indera hati peka, menomorwahidkan satu racikan maut tiada tara.
tiba-tiba, olesan api merambati diri.
mencicipi bisikan kegagalan di kerumunan sabda khalayan
-
hari-hariku tersaput senyummu saat pose-pose menyambar
dan menguar dari dalam layar.
semerbak indah hiasi buana kemudian limbung terkena pancaran.
seisi angan menjadi melompong,
hanyut terguyur tatapanmu, menggenangi kalbu.
-
cintaku mulai keroncongan.
segumpulan itik menghibur tapi pedalaman nurani tak mujur.
raga terpancang, mengingkari segenap bayang merah.
terlalu lama menghimpit dan memunculkan trauma.
aku belum tuntas menyinggahimu
namun kau pantas menjinggai harapanku.
-
aumku menyalak, mencoba mengitari daerah rawan untuk bersorak.
tak ada penat. hanya keluguan semu, menyalakan dendam.
mereguk beberapa lengking tangis dan belajar menggerus parasmu
ketika berarak ikuti tawa-duka duniaku.
muruah beranjak pergi, meratapi jiwa tak terestui dan
mengabulkan segelintir renungan, melumat kobaran api asa.
kemenangan tak lagi terlihat kekar.
hanya menyisakan ketololan di hadapan kawan.
sungguh, sebuah pahit telah menyadarkanku
-
harapku, hanya ingin melingkarkan tanganku di hatimu.
mencoba membuat jiwamu terkesima oleh rayuan malam mingguku.
aku cemas jika tak terbalas.
kan terperangah bila kau menggandeng Arjuna.
kan berubah lindap apabila dirimu ketus kutatap.
doaku, semoga kelembutanmu tetap utuh
tatkala sinarmu bersandar bukan di pundakku.
-
Pasuruan, Januari 2010
*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar