Sabtu, 09 Maret 2013

Pohon Cinta

pada sepasang cangkir gembur di pekak sang waktu,
kami berusaha menggali ekspresi
untuk sama-sama menyentuh ngarai di dasar itu;
mencetak busa-busa baru ‘tuk dijadikan guna-guna
pada permulaan.
-
lambat laun, bentang pematang pemisah
berangsur terampas oleh alam.
prosesi kasih dari dua kiblat berbeda pun
dapat disatukan. merawatnya sebagai platform nabati
untuk ditempa dan disiram
dengan percak-percik koreografi.
-
saat merayakan bincangan psikologis
dalam keesaan hati di tiap-tiap dermaga itulah
racun tersebut berkunjung perlahan-lahan
dari terompet hitamku.
mereka adalah unit-unit lacur, bak semut amoral.
dengan kapak bermata setan, mereka membuat retakan
pada tatanan dan baiat tertanam.
mengisinya dengan kurikulum penuh iri-emosi,
juga dengan argumentasi penuh caci-benci.
manis pun akhirnya tak lagi tersenyum
dan bergelantung di jari-jari ranting,
namun menjadi reruntuhan busuk
dalam kapar dan hening.
-
tiada satu pun pihak berikan awal
atau benahi gelar milik kami.
mungkin karena kemudi sudah telanjur terpeleset
dan tercopot dari tangkai berahi. mau tak mau,
aku pun segera memadam-rapikan sisa-sisa.
memasukannya ke dalam peti kemas metawicara
lantas membuangnya ke atas bara.
meninggalkan angan-angan nisbah
meski sempat menepi di samping rumah.
-
Sleman, Februari 2013 

*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar