kau, adalah bunga mawar putih.
tumbuh dari setetes dawat nasib
di sebuah lapak waktu.
berdesakan di antara percaturan retorika
sekaligus memproteksi diri
pada sandaran kitab-kitab konvensi.
-
pada satu celoteh masa
harum dan indah infrastruktur tubuhmu mendayung.
lewati etape-etape elementer
hingga temukan koridor bertudung gapura.
menggedor, berusaha mendobrak, bahkan berontak
saat etis berlapis itu tak kabulkan suluk goda.
dan di pangkuan rekaan berdarah dingin itulah
tenangku direbut.
-
beserta keris di tangan kiri sebagai siaga,
perlahan kubuka.
mereka terlihat girang pada pandang,
sesekali terbahak untuk menyapa.
di detik itu pula
kor dan mars tentang depresi hasil perang lalu
masih belum menumpul.
masih ada rasa terpukul dan mencekam
di sela-sela rambut kesadaran.
karena itulah aku bergegas menikam sasaran
untuk melawan
tapi lolos dan menghilang.
-
kukejar. telusuri saluran tak bermarkah
beratribut perca-perca darah dan air mata
sampai kudapatkan ruang terbuka
di salah satu gantungan kehidupan.
-
dari jauh
kusaksikan sependar motif cahaya.
tak ingin sungguh kulatahi lagi jejak duka
karena keranda hitam pasti kembali merayu
agar singgah.
tapi impuls ini mencubit dan gerakkan langkah;
mendekat dalam tertib dan ogah.
-
di sana
aku bersua dengan ayumu.
sedang bergelimpang
di tengah-tengah taburan bunga kamboja.
nampak lemas dan tuntas
namun sanggup memikat kebingunganku
pada sentilan pergaulan.
-
lambat laun aku jadi pendiam.
seperti ada martil berayun
tubuh ini ditancapkan pada batang kemanusiaan.
kau pun akhirnya berhasil merebutku
ketika tubuh ini dihibahkan sebagai penyempurnaan
kasih dan sayangmu.
-
Sleman, Maret 2013
*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar