‘tuk hilangkan prihatin. telantar di saung khilaf.
kusempatkan pula ‘tuk pergi
ke berbagai undakan. menampung debur-debur cahaya.
namun, kepada mural itu jugalah aku pulang.
-
misteri di balik selempang warna itu
masih saja menabuhkan syak wasangka.
ia bagaikan busur. selalu melempar tegur.
menuding keterlibatanku
tentang anakronisme. kulayang dan lintaskan
pada satu identitas. kutunggang tiada batas.
tersungkur di sana.
tiada pula coret tawa tercetus
lantas runtuh ke dalam tangki amarah.
semua itu hanyalah memori. belum terpilah
dan masih tengkurap di atas sajadah.
-
kuartal terakhir di tahun lirih ini
memanglah liang lahat, belum sepenuhnya kupahat.
besar kemungkinan bila di sana
ada sebongkah visi nan gadang,
terkubur di dalam lemari berjendela.
‘kan berikan benih karunia
untuk sebuah pemandangan baru
sebelum kokok ayam menerpa
dan mengekang tanyaku hingga tak berarah.
-
Sleman, Desember 2012
*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar