hanyalah infrastruktur sebuah tatanan.
seperti musik, ia melintas sekejap
selaku penyangga khitah dan kriteria
lalu pergi tanpa tinggalkan kesakralan
di balai-balai harap dan doa-doa.
-
di titik tenggat, ia terhenti
pada satu kombinasi pembatas.
seberkas anasir hambar mengantarnya
masuk ke dalam konstelasi metafora.
didudukkan di atas kursi
dengan suguhan pagelaran penuh aniaya.
-
ia menyaksikan mesin-mesin sakti
berkoar dan mendekat
dari pelataran reruntuhan pasir-pasir kemapanan.
tentakel-tentakelnya terudar.
kulitnya tersentuh oleh serabut-serabut lancang.
merambah temperamen di kandungan
lantas setubuhi ketakutan
‘tuk jadikan sarang kelemahan.
-
kedewasaannya takluk.
urat-urat hayatinya tergetar hingga terbelalak.
tergusur dari keharuman esensi dan kreasi
tanpa sempat bertanya
dan tak tercatat di menu resmi sebagai siapa.
-
ia mengerti
bahwa rohnya ialah titipan Tuhan.
sekadar sempalan pendek tiada makna,
dicocol-cocolkan ke dadu hitam beriskan
untuk diuji dan berjuang
atas nama cinta. tapi ia kalah.
tertendang dari lini upaya
dan kian menciutkan diri dalam diam tak bertepi
di batin ini.
-
Pasuruan dan Sleman, Februari 2013
*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar