Sabtu, 09 Maret 2013

Teror Mental

debur mimpi-mimpi itu
semestinya terjangkar dan tersekat jauh
dari ufuk kerasionalan;
dimakamkan di sebuah resor tak berpeta
atau dijemur di hadap api mentari
agar lekas binasa. nyatanya,
ia justru sanggup merayap dan bernapas di kesadaran.
bahkan menari-nari di atas meja rias kudusku
pada tekstur waktu tertentu.
-
resonansi lolongnya adalah tur sarkastis.
seakan-akan memapah panik
menuju detik-detik negatif.
terasa sumir, melayang dalam kelebat.
namun senantiasa mencium kerut galah-galah stamina
tatkala tangguhku tumpah
dan berceceran di pantai asing;
serasa membunuh usia, jadi sebatang kara.
-
para penggarong itu meluncur
dari gayung-gayung kenangan.
seperti lahar, mereka adalah menyilaukan.
meledak menjadi pasukan hujan
kemudian mengganas di sekeliling dua mataku
dengan bintik-bintik ngeri
‘tuk berebut mengangkut kenyataan dari harapan.
-
memang, sekelumit hidayah sempat terpahami
di balik huruf-huruf braille kehidupan
saat kerumunan totol-totol sucinya termakna.
tapi, tampaknya tiada kans ‘tuk awali misi baru
di zona gelap ini
meski aku berlama-lama memegang percaya
demi satu titik di sudut prahara.
-
Pasuruan, Februari 2013 

*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar