kini tak lagi berkumandang.
terperangkap oleh retorik sang waktu. menyabdakan ilusi.
kibaran denyar dari pancaran bohlam di matamu pun telah lunglai.
terbendung gorong-gorong mayapada tak berkatup
di atas ambal kecemasan.
-
kau terlilit sumbu kematian.
bertudung kutuk gulita, menyangkal dan menyanggah.
segala komunikasi manusiawi kau umpatkan
kau adalah pusaka, berdiri di atas ladang kaca
di antara satu batalion jenazah. siap mendaki harum tubuhmu
tanpa risih, demi melampiaskan berahi terakhir tak tertanggungkan.
-
hari ini, kulihat kau masih sanggup berselancar
di atas batuan keridaan.
suara beduk mengorbit dan timbulkan berkas-berkas muhasabah,
tak juga tiba di kumparan hatimu.
ingatlah senja, suatu saat, –niscaya–
benang-benang karunia itu akan meroboh-jatuhkanmu ke parit.
lesapkan dirimu ke dalam lahan cemooh.
dan rohmu, akan dijamu dengan tari-tarian perkabungan.
lantas, kau ‘kan menempuh labirin pipa-pipa paranoia
hingga masuk ke dalam guci kecil berjelaga.
-
mungkin, malam terlebih dahulu menekuk amanah,
dilesatkan dari gedung ketujuh.
sampai-sampai kau tak sadar, kekenyangan, lalu tertidur
akibat pengukuhan sahih bertalu-talu.
-
Sleman, Desember 2012
*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar