pada rinai persimpangan masa
ada balita tertampung
di salah satu kerangka keluarga.
angka dan huruf mentah sebagai skenario Tuhan
telah dilekat di pertigaan hatinya.
mereka pun kemudian membiak. menjangkiti akhlak
saat ia remaja sekaligus menjadi santri
di daratan konsentrasi penuh berkah.
di hilir periode
bulan madu itu akhirnya harus tergusur
karena ia memilih ‘tuk jadi imigran.
pada sebuah gerendel ia membuka pintu.
tak mengerti dirinya
bahwa ruang itu adalah perang.
sontak, mimik jiwanya dikerubuti resensi
mengenai reinkarnasi kepribadian.
tersedot menuju kubu-kubu permainan
tentang perca-perca kematian.
terbanting. berguling-guling di atas mara
tanpa sempat protes untuk membaca diktat wasangka
dan mencipta kartu-kartu skala.
-
lendir di sekujur indahnya tergeret, tetes demi tetes.
tergantikan dengan beling-beling pemangkas segala.
membuatnya mirip seekor binatang legendaris;
lantang berteriak di parit-parit waktu
untuk menantang ajal.
-
peluru kehancuran dan terik pertaruhan
ditumbangkan.
curam sang maut di balik impitan justifikasi pun
ditundukkan.
lambat laun, ia sanggup berdiri sendiri
di permukaan sungai – bahkan di atas banjir! –
untuk memimpin pertempuran.
-
berteman butir-butir salju
mereka saling mengganjar tawa
seiring aliran dingin dari sudut-sudut hampa.
ia pun tahu bahwa waduk di perhentian berikutnya
ialah gulita
dan alam juga mengerti bahwa ia terus belajar
mendidik kotak-kotak kultur di dadanya
untuk menjenguk keikhlasan
demi merampungkan cahaya.
-
Sleman, Maret 2013
*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar