Jumat, 04 Januari 2013

Kasidah Kembang Darah

         : Maryama al Kad

dulu, saat kita saling mengeja bait-bait naluri
ada gelembung-gelembung guncang menghardik induk hati.
dalam diskusi dan obrolan kasual, perlahan-lahan kita merayap
menuju sebuah simulasi gempita pada sebuah lahan buta.
masih berderit bila kita menyimaknya.
-
kita meloncat ke sebuah telaga cinta lantas karam.
tergolek di atas sebongkah batu tak berusia.
sendi-sendi ilustrasi pun kian masak
dan memadati sebuah senarai. kita umpati
dengan dawat-dawat suci, dipungut
dari punuk konservasi.
mengaplikasikan gejala-gejala kasih-sayang
dan saling menukar ledakan di dalam sebuah kandang
dalam kegairahan tak bertulang.
-
ketika seabad telah berlalu dan ia lenyap dalam getas,
tiba-tiba saja kita berdiri di puncak lautan neraka.
hutan dibangun dengan sihir kemesraan
kini telah terungkai dari kening asmara.
paru-paru kita tersiksa dan membusuk
karena kita serempak untuk saling melongsorkan siang
dan mengaborsi cinta di kancah pertempuran
tanpa saling menularkan bulu-bulu rindu
dan memuntahkan air mata
demi sebungkus kado pernikahan, masih kita simpan
di keranjang perjanjian.
-
mungkin, aku tak usah lagi bersekutu
dengan lampu-lampu mungil tumpul ini, karena
dia adalah jantung hati di suatu musim
dan dia juga penghancur hati di musim yang lain …[1].
-
Sleman, Desember 2012

*




[1] Kutipan dari film Kal Ho Naa Ho.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar