aku berteman infus bening. pitanya menjuntai dari arasy.
tergelincirlah angsuran embus-embus sublim
ketika sabtu tua menyelisik ke celah-celah baju
untuk menggahar disorientasi. telah bersinergi
di dalam sistem navigasi sang tubuh.
-
beberapa kelebat ilahi menyigi kampung-kampung pikirku.
semena-mena gerimiskan seribu nota visual bersih
untuk sekadar mencetak waswas di atas mispersepsi,
telah lama mengiritasi.
-
tibalah aku pada titik elitis di mana sebuah palagan memapas
dengan setangkai pulpen bertinta hitam.
aku merekam dan memburu obat, terselip
di balik pepatah-pepatah renta.
tapi, hanya kutemukan jingkat-ingsut kedaluwarsa.
menjadi dian di antara goyangan lebat kemustahilan.
maka, kututup saja aksi ini dengan segera
seiring keguyuban hidup, masih berlari mesra.
-
Sleman, Juni 2012
*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar