ketika mengulum cinta, semua orang di dunia ini pasti
pernah menikmati huni di kesegaran tiang-tiang pelindung.
atau berpingit di sebuah kamar
sebagai selimut dari hawa onar dan juga petir-petir nahas.
gemar berbincang, namun tidak denganku.
-
aku sudah mendaki asap arifku dan juga berenang di pangkuan doa
namun aku masih saja berada di simpang bimbang.
di sebuah sasana, dihilirmudiki oleh geram
dan sepat tangkas menyapa.
-
khayalku pun menyepi. tak sanggup menampung islah menepi.
bagan-bagan mewah –
kunyalakan dengan ilmu secara autodidak –
telah terlipat. terganti oleh gempuran fragmen-fragmen halusinasi,
muncul dari magasin kekecewaan.
-
aku merasa tak ada esok
pantas tersangkut di jiwaku. kian getas.
semuanya mengabur dan hangus. sisakan sirene kematian,
memadati esai-esai kehidupan.
dan aku tak perlu lagi menuntaskan rindu
karena aku akan segera merilis diri
sebagai korban tersisih di selat biru.
-
Sleman, Oktober 2012
*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar