dengan mulut,
‘kan kujahit resonansi igamu di aromaku
seperti mengelem dua kutub, menyeruak
di dalam nuansa pelik.
sepertinya mustahil untuk kita ikat
dengan cinta.
maka, aku melengkapimu.
-
kau adalah beda.
dan aku adalah perak renik, berikan markah
di sudut-sudut intern. kau namakan kedaluwarsa.
sejenak, kau pikun untuk itu
namun kau akhirnya merasa bahwa itu adalah nubuat Tuhan.
menggebuk format pikirmu dan kau pun tersadar
bahwa ini bukanlah sebuah keributan.
lalu, kau tersenyum
seperti buah delima terpanggang.
-
meskipun kau membentak dengan sayatan kidung sintal
aku akan berkukuh bahwa upah itu tak perlu.
aku akan tetap melabuhkan daksa secara kifayah
sebagai pesan tiada punah
agar kau tak tanggal dalam ambigu
di antara kusam kenyataan.
-
Sleman, Agustus 2012
*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar