aku merangkak ke luar dalam rintik-rintik gelak tawa barbar,
turun dari langit-langit.
aku duduk di atas relaksasi berteman meja
sedang tiarap dan bersahaja.
di atasnya
sekepal kopi cair berkacak harum dengan lancang.
piring putih bersila, merendah.
sajikan sebuah dekorasi kudapan, mengernyit
dan terkesan galak untuk sebuah diskusi dwibahasa
-
aku diam. berada pada tampuk opera hening,
menggelinding di paruh tempo.
dikelilingi kentara giris-pening,
rembesi gerigi kerongkongan
dari sekecup tanya – mulai menyelinap turun –
untuk tawarkan maut di palung dada.
-
perlahan, aku menyeka pergelangan insangku dengan setangan
sembari menunggu kurir, akan berikan nomor-nomor sentosa
‘tuk sebidang neraca. meski lapar terus meledak,
meski hura-hura ‘kan bermalih rupa
jadi khianat amat menyiksa.
-
Sleman, Juni 2012
*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar