pertama,
aku berada di tikungan emosi.
menggeser bait-bait kemilauku.
tak dapat kuelak
meski kugugat dengan lagu-lagu dari kandang doa-doa.
sebabkan kicau radang rinduku s’makin menderu
dan menggelegar.
-
kedua,
aku terbakar di atas tangis. taklukkan segenap senyum-canda
tanpa portir dan busana pelindung.
mampu mengelak agresif, menyala deras.
mengeruk seluruh ketenangan pulasku
hingga sisakan nostalgia
di tempo berdebu.
-
ketiga,
aku terguncang oleh desak. sudutkan interpretasiku
menuju afeksi dan petaka
dalam dualisme saling menyapa.
terjebak butir-butir salju optimistik nan lancung
dan inisiasi-inisiasi fiktif. merias malam-malamku
dengan gemuruh ombak laut hitam menantang.
-
keempat,
aku pun lecek di antara situasi berkabut.
kian melebar dan berulah,
membatu di bawah teduh kesal, tak sanggup kuenyah.
menyeretku menuju titik-titik proporsional nan akumulatif
untuk segera menguburku dalam kesenjangan banal
paling naif.
-
jadi, tunas pohon filsafat mana harus kucanangkan
untuk sebuah ritus suci
demi cinta amat kudambakan?
-
Sleman, Juni 2012
*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar