padu batu merah beranjak menjulang,
kian membungkam racau buku tua.
sebuah kitab kupijak dalam privasi, saban hari.
-
pada beberapa kertas belakangan
ada banyak elegi terlacak.
menginisialkan sebuah gagasan
tentang potongan jaringan interaksi;
larik demi larik. tapi, hari ini
di punggung haru itu aku melihat sekuntum pucuk
mulai berdiri dari bungkuk.
-
ia coba menguasai wangi. tak lagi menjalar
dan mengitari tubuhnya.
belajar mengepung panasnya medan
dengan pita-pita di badan. bergerak bebas
dan ia berhasil mengaitkan secuil benih laten pada jiwanya.
membuatnya tersenyum dalam kesadaran cinta
dan tak lagi mencangkungi gunung kesedihan
penyebab luka. maka,
aku pun segera menutup arsip itu meski telah tertoreh
dengan canting tak bertinta
lantas menembuskan doa ke titik pusat bersama cahaya.
-
Sleman, Oktober 2012
*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar