Minggu, 06 November 2011

Chaos

         : Matahari

dengar!
saat ini fondasi jantungku meliar.
tertepuk-tepuk daulat halus,
datang seiring endap oksigen bola-bola meriah
         dari luar.
-
ia mencambukku; kau.
kau.. kau.. kau.. kau.. kau…
lagi-lagi kau berkibar di atas sayat-sayat rapuh.
membikin pori-pori itu kian lebar, dan
kali ini kau adalah aral.
menelungkup padaku. menghijab hingga hilangkan pesta.
karamkan jiwa ini ke hatimu tanpa kata.
uhh…
-
kau menjibaku.
daya tarikmu bertumpu di atas kestabilanku.
ada kagum, juga dendam
seperti konsep-konsep. tak sanggup kueja dengan gagah
atau sekadar kutelan dalam tegas cahaya bulan.
-
tapi, di edisi ini
kau terlalu cantik, sayang.
memadat pada kesingsetan rindu.
buatku membatu.
asimetriskan lalu lintas mengalir deras
di sulur-sulur darah.
tertutup oleh tirai-tirai kemuakan.
-
kau ialah bintang.
masuk ke bubung mimpi-mimpi ajaib
dengan aksesori menawan.
kau piawai permainkan sendu. instruksikan akalku
agar senantiasa mengimpor lekuk-lekuk merah muda
         demi semerbak cinta.
         kerap kuteken dalam doa
         sembari tuangkan air mata.
-
sayang,
apakah kau akan menerus mengikat lalu menggulungku
         seperti ini?
-
Sleman, Oktober 2011 

*

Minggu, 02 Oktober 2011

Diktum

         : Matahari

aku
tegak lurus. dengan keringat tiada mahkota. berdiri. di ujung spiral kehidupan. kuas dan buku gambarku kuseret ke gudang. tak ada lagi seni mulia tentang kata-kata cinta. ya, aku lara. 
-
kau
memetik buah dari sketsa milik Tuhan di keintiman malam; tentang isi. lantas, membidik lalu lemparkan satu tanda ketakramahan. menderu lantang menuju hatiku. dan clapp… menembus tujuh lapis makna. aku nestapa. 
-
kita
pernah bersua pada pernak-pernik semampai. jua bersitegang dalam iritasi, tercopot dari jalur-jalur api. opsi kita masih panjang. memang sukar dan ekstrem. tapi, aku telah mengusut. bahwa, mungkin kau tidak nyaman, pun alergi, berada di antara kerut-kerut ketakwajaran ketika kutempelkan pada tembok-tembokmu. jadi, lebih baik aku memungut kembali hatiku saat dulu pernah jatuh di depanmu. 
-
Sleman, September 2011

*

Candle Light Dinner

         : Matahari

ini malam sudah sepenggala.
dingin tengah menguliti gaun hangatku.
tapi, kersik-kersik kedatanganmu belum bersaksi
         di sulur waktu.
-
gerak-gerik bias di sekitar serentak kibaskan satu tema: cinta.
mereka mabuk di padang rindu.
menggelayut pada cabang-cabang mega muda.
-
mereka leluasa memekatkan busa asmara.
saling menyentuh takik-takik hati
untuk menawar ambigu tentang tengkar
juga membantar ruapan haru
agar senyum tak lompat menjauh.
-
di sudut, diri tinggal sendiri.
kaku seperti mayat tanpa denyut biru.
teraduk-aduk oleh kicau-kicau hitam dan sinyal-sinyal kelam,
menjamah sais pikiran.
ahh …
-
lilin di depanku adalah kado untuk sepi.
bagai terapis, menyambung patahan-patahan bilur luka.
ia menyisakan beberapa inci,
namun percik-perciknya ialah luhur, menghibur.
meningkahi guncang-guncang longgar supaya aku tak terdampar.
-
kau!
kau memang sempat melabur pasir-pasir keringku dengan air.
membentuk bangun-bangun indah sepanjang desah terkilir.
tetapi, ada gelegar ringkas mencucupku.
berat! padat! mewartakan konklusi tentang lusa amat jahat
bila kutempuh.
-
nun, di mimpi basah,
aku melaju tanpa arah menujumu.
lewati liku-liku jalan dalam gerah dan penuh petaka
(ternyata) tetap saja kau tak sanggup kuajak
‘tuk sekadar menikmati secuil ngiang merdeka.
-
hufff …
mungkin, aku harus segera mengungsi dari sini
sebelum lumen merunduk lantas mengajakku
         untuk mati.
-
Sleman, September 2011

*

Anoreksia Cinta 1

         : Matahari

dalam gelap
lahap membelukar pada keteduhan dada tak lagi mengkilat.
ia terberai. telentang. mati.
terendam bisik-bisik, berkunang-kunang.
mereka datang dari balik pintu jangkung. dengan tajam!
-
organ-organku tersekap dan tersimpul.
terbalut energi negatif tanpa mediasi.
dan, suaraku terjejal oleh hilir mudik pekak-pekik
tentang janji-janji tak akur.
melafalkan mawar dalam basah,
mengelupas elok dalam lara.
-
adrenalin ini telah mengental.
tersunduk kerawanan halus bertebaran.
esok, mungkin saraf-saraf ini akan pulih,
namun jejak-jejak gelombangnya tetap terjaga.
permanen di tiap fase-fase indera.
ahh …
-
Pasuruan, September 2011 

*

Paranoia

         : Matahari

hehee…
fatwa atau ocehan buku-buku itu tak perlu kau reguk.
ayunan bahasa tubuh dan deru ledakan mesin-mesin mereka, pun
damparkan saja di atas tumpukan sampah.
-
gelimangan buai-buai jerammu hanyalah genangan.
suatu waktu menyusut pada etape tertentu.
percayalah! lambat-laut sebilah hijab akan menetak.
kau akan terasing tiada pelita
bila kau tak segera bercocok cinta.
-
hei, apa kau akan terus melengos menjauhi?
jika demikian, kau benar-benar antagonistis.
-
kau harus menenggang satu rasa.
setidaknya, kau belajar mengeruk lantas memetik ciprat-ciprat sayang,
meresap di antara badai-badai energik. memapasimu.
itu adalah entitas, mesti kau bangkitkan.
-
apa, kau bertirakat dan bermunajat?
doa tanpa laku adalah lesu, sayang!
kau akan tercemar dalam penjara.
cibir-cibir itu akan memijatmu,
mencincangmu, bahkan mampu menebasmu hingga hilang damai.
timbulkan dendam dan angkara,
terkucil dalam mihrab sengketa.
lalu, kau hanya sisakan ladang untuk mengadu.
-
Tuhan ciptakan aku untukmu, cinta.
apa kau tak merasa?
-
Pasuruan, September 2011 

*

Sabtu, 10 September 2011

Karikatur Malam Milik Tuhan

         : Matahari

dengar! dengarkan satu gegap gempita di atas sana.
Tuhan mulai tumpahkan wangi jingga
pada riak-riak lelah dalam tidur.
-
Ia persuakan diriku dengan garis-garis ungu.
garis-garis meracau dan membius
serupa jasad tajam membungkam.
-
seperti puisi, rangka-rangka itu terhidang lalu memikat.
ujung puncaknya terkulai di awang-awang
dengan jalur sinar-sinar melandung.
-
nur-nur menggumpal di tentang.
satu depa; perempuan.
astaga!
ia menjorok, berkontak
lantas luluhkan hati menjadi huruf-huruf kuyu.
-
dua cuil matamu saksama lemparkan hina.
tebaran senyummu adalah racun.
penuh ranjau dan hardik.
lalu tiba-tiba kau lari memelukku
kala mata kita bertatap. serta merta kau menggigit bibir ini.
tassst…
-
… terjengkang.
tergeletak beriring kekalutan menyeramkan.
kau telungkupi raga ini. dingin
hingga kita menyatu
bersama gemerincing tangis membiru.
-
saat gerutup semu terpiuh, aku terkesiap.
melalui jendela
kusaksikan malam masih melamban.
tergosok kerlip bintang-bintang
seiring deru angin terbata-bata.
-
Pasuruan, Agustus 2011

*

Di Tepi Kanal

         : Matahari

di tepian ini
sejarah pernah sajikan dua nyawa.
saling menimbang tara dan benturkan bisik-bisik mesra.
kujilati suhu tubuhmu
dan kau selalu melalap habis lekuk dan gerakku.
-
jika perumpamaan, maka kita adalah kerdil terasing.
mulia dalam hening badai menawan.
-
seiring ceceran tetes-tetes bius di pedalaman nurani
kita mengidam. tentang sengat-sengat muda
juga visualisasi hambar namun berat.
segalanya, kita gugah dalam derai-derai rotasi
hingga petang meraih kita
dengan cintanya.
-
tapi, sampiran ciri-ciri kita pada tingkap tidur telah lapuk.
berjajar cela dan loreng di sana
tanpa sengketa.
-
ini adalah karamnya petaka di dasar pasir kegundahan.
pengap-patah menyemburat,
menggedor-gedor pitam,
dan beberkan jaring-jaring senjang amat menyakitkan.
dan …
tiba-tiba saja aku terngiang.
terpana pada satu niscaya memaksa.
-
di tepian ini
dengan lantang aku menyesap kesah.
melebihi garis duka
agar pahit berangsur reda.
-
Pasuruan, Agustus 2011

*

Sarang Laba-laba

         : Matahari

aku adalah penyair.
dengan kepingan kata-tanda kucipta ornamen-ornamen impresif
seperti laba-laba di atas sana.
-
sajak-sajakku berbingkai. kau boleh menyebutnya sarang.
ya, sarang penuh tali-temali telanjang.
bersiku, sempit antarjarak, juga ringan.
-
o.. o.. ow…
jangan kau terka bahwa kalimat-kalimatku adalah elegi.
memuat kelabilan dan payah berlarat-larat.
sungguh, kau terlalu lelah jika bermimik seperti itu.
-
ini adalah jerat halus dan licin.
mampu menandaskan tumbal sampai ke ulu ajal.
sekali tertikam, maka keriuhan simpul-simpulnya akan membebat.
melibas sang korban hingga terbantai dan tergilas.
-
tapi, itu hanyalah embusan kisah lapat-lapat tentang masa lalu.
segar untuk telinga, namun hanya kecumik bila dibaca.
-
kini, bait-baitku kehilangan mara.
sebuah lantunan nujum berkata bahwa syair-syairku tak lagi lincah.
semua terkikis karena cinta.
ya, cinta. cinta mengejang pada satu waktu.
timbulkan infeksi dan demam meremukkan.
-
aksara-aksara terkoyak.
menderik. jeritkan nyeri akibat erosi
lantas jadi remah-remah tanpa titah.
berserakan di antara perdu-perdu kekacauan.
-
jadi bagaimana,
apa kau sudi menganggapku sebagai penyair?
-
Pasuruan, Agustus 2011

*

Gerhana Matahari

         : Matahari

di satu terik berat
kulihat kerlap surya tersentuh oleh tualang.
sensor cahayanya terengkuh,
juga hangatnya raib untuk dijimpit.
-
dari balik tabung suram telentang, kau berbisik.
“cinta ini bukan untukmu”.
aku mengerlip sejenak
lantas kubalas gaung itu dengan kokok keberangan.
dan kau pun tersumbat oleh penjara,
kernyitkan reputasiku pada lirih sang tepi.
-
dalam kelugasan, langitku berkaca-kaca.
sengat mencengkeram posisi.
tempelkan janin hitam seiring tenggat
sebagai cikal bakal alergi dan infeksi.
seperti satu tawa, sekadar sisa.
-
Pasuruan, Agustus 2011

*