Minggu, 07 Oktober 2012

Solilokui Hitam

         : Maryama al Kad

saat ini
aku duduk manis di atas pualam kerisauan.
terbungkus tong maya
berisikan karut marut kekecewaan.
tak kunjung tercatut
oleh jemari Tuhan.
-
tubuhku memancarkan radiasi keputusasaan.
tergerai, membentuk pose-pose rancu,
taklukkan lugu. meremas dan hancurkan kegirangan,
pun musnahkan senyum sipit, coba kutambunkan.
-
aku sekarat dalam pigura mencekam
tanpa pintu. membeku di antara kebisingan estafet.
timbulkan kerak di hati,
terpasung di dalam persegi tak berwarna.
acap galak
dan mengkritik dengan tuas-tuas verbal.
mengerikan.
-
ahh…
andai saja waktu berempati,
akan kuacungkan desir serakku padanya
agar segera menuntaskan gelisah
sebelum ruam dengki menggoyangkan centil ranumnya
lalu memaku diri dan bersemayam di raga.
-
Sleman, September akhir – Oktober awal 2012 

*

Distabilitas

         : Maryama al Kad

kini, aku berada di biduk gelap
di sebuah gurun hitam. tergolek,
berkawan sepoi-sepoi fantasi berjelaga
dalam linangan balada tak berpola.
-
tak ada lagi kelepak-kelepak hijau
tumbuh dari bantaran kasih,
kerap membasuh debu-debu onar di tubuhku.
pun tiada lagi tarian ombak darimu,
acap buatku terkesima dan tertawa.
-
kau terlihat menjauh
dalam kilometer tak mampu teraba dan terterka.
tinggalkan pasal-pasal, pernah kita ujarkan
di sabtu purba.
-
dengan saksama
kupunguti kilah-kilah tak bernama.
mulai menyapa terumbu otakku
agar tak menjadi definisi beringas;
melibas kejernihan arifku.
-
‘kan kusimpan isakku di saku.
suatu waktu mungkin akan kau jenguk
untuk kembali mencoba meramu karir cinta kita
sebelum hayatku menjadi tabu.
-
Sleman, September 2012 

*

Membran

         : Maryama al Kad

cinta kita kobarkan
dalam temaram rumbai-rumbai cerlang
adalah penjarahan. kita nazarkan
kepada dunia sembari memincingkan konsepsi.
perlahan kita saling melacak dan meraba.
tanggul-tanggul gaib nan buram
berharap temukan istana bercat kain sutra
untuk kita pikniki, lantas menghuni
sampai ruh kita pulang ke tangan Ilahi.
tapi,
kita hanya bersua dengan gedung-gedung tua dan suram.
nyalangkan getir-getir parsial,
mereduksi butir-butir kasih kita
seperti membran.
mengufuri segenap kegesitan dan memori indah,
kita dirikan dengan titir emotif
di tabung gaib, masih kita coba dendangkan.
-
Sleman, September 2012 

*

Kamis, 06 September 2012

Dikotomi

aku berada pada sisi misteri
di mana semuanya harus kupikul dengan perih.
-
itu adalah harta mewah, sekaligus noda.
terkadang mengusik temperatur dinamis.
membuat lengahku terapung
hingga menjadi kusam dan usang
di atas riam mengerikan.
-
tak ada mundur di hari ini dan kelak
walau senyum harus diluruhkan ke dasar ajal
demi mencipta relaksasi puitis menawan.
-
Sleman, Agustus 2012 

*

Ijtihad

         : Maryama al Kad

perjalanan ini tak perlu aku peringati dengan seremoni.
ini adalah jarak, harus dikikis.
membujuknya agar ia sudi melekang beberapa prahara.
kerap mengerkah anggukku dalam dilema.
-
leher dan lenganku acap murung.
hambar. seperti terbungkus perangkap
bahkan tonjolan sakral. selalu kueram.
hanyut tak berdaya,
terasa cempreng dan mencekik.
meski begitu,
aku takkan pernah menepi dari selam ini
walau genting kepakkan sayapnya untuk kendala.
walau ganjal kian mengepung demi sengsara.
-
mungkin, semuanya akan bermuara pada sebuah episode terakhir
di mana alur akan menorehkan isyarat
tentang sepetak sahaja.
dipenuhi leleran tirta amerta
dan semerbak mawar putih.
lahirkan restorasi dalam diri.
-
Sleman, Agustus 2012 

*

Pelayan Cinta

         : Maryama al Kad

dengan mulut,
‘kan kujahit resonansi igamu di aromaku
seperti mengelem dua kutub, menyeruak
di dalam nuansa pelik.
sepertinya mustahil untuk kita ikat
dengan cinta.
maka, aku melengkapimu.
-
kau adalah beda.
dan aku adalah perak renik, berikan markah
di sudut-sudut intern. kau namakan kedaluwarsa.
sejenak, kau pikun untuk itu
namun kau akhirnya merasa bahwa itu adalah nubuat Tuhan.
menggebuk format pikirmu dan kau pun tersadar
bahwa ini bukanlah sebuah keributan.
lalu, kau tersenyum
seperti buah delima terpanggang.
-
meskipun kau membentak dengan sayatan kidung sintal
aku akan berkukuh bahwa upah itu tak perlu.
aku akan tetap melabuhkan daksa secara kifayah
sebagai pesan tiada punah
agar kau tak tanggal dalam ambigu
di antara kusam kenyataan.
-
Sleman, Agustus 2012 

*

Minggu, 08 Juli 2012

Sindrom

         : Maryama al Kad

pertama,
aku berada di tikungan emosi.
menggeser bait-bait kemilauku.
tak dapat kuelak
meski kugugat dengan lagu-lagu dari kandang doa-doa.
sebabkan kicau radang rinduku s’makin menderu
dan menggelegar.
-
kedua,
aku terbakar di atas tangis. taklukkan segenap senyum-canda
tanpa portir dan busana pelindung.
mampu mengelak agresif, menyala deras.
mengeruk seluruh ketenangan pulasku
hingga sisakan nostalgia
di tempo berdebu.
-
ketiga,
aku terguncang oleh desak. sudutkan interpretasiku
menuju afeksi dan petaka
dalam dualisme saling menyapa.
terjebak butir-butir salju optimistik nan lancung
dan inisiasi-inisiasi fiktif. merias malam-malamku
dengan gemuruh ombak laut hitam menantang.
-
keempat,
aku pun lecek di antara situasi berkabut.
kian melebar dan berulah,
membatu di bawah teduh kesal, tak sanggup kuenyah.
menyeretku menuju titik-titik proporsional nan akumulatif
untuk segera menguburku dalam kesenjangan banal
paling naif.
-
jadi, tunas pohon filsafat mana harus kucanangkan
untuk sebuah ritus suci
demi cinta amat kudambakan?
-
Sleman, Juni 2012 

*

Meditasi

di musim – tak lagi akrab dengan muhibah ini –
aku berteman infus bening. pitanya menjuntai dari arasy.
tergelincirlah angsuran embus-embus sublim
ketika sabtu tua menyelisik ke celah-celah baju
untuk menggahar disorientasi. telah bersinergi
di dalam sistem navigasi sang tubuh.
-
beberapa kelebat ilahi menyigi kampung-kampung pikirku.
semena-mena gerimiskan seribu nota visual bersih
untuk sekadar mencetak waswas di atas mispersepsi,
telah lama mengiritasi.
-
tibalah aku pada titik elitis di mana sebuah palagan memapas
dengan setangkai pulpen bertinta hitam.
aku merekam dan memburu obat, terselip
di balik pepatah-pepatah renta.
tapi, hanya kutemukan jingkat-ingsut kedaluwarsa.
menjadi dian di antara goyangan lebat kemustahilan.
maka, kututup saja aksi ini dengan segera
seiring keguyuban hidup, masih berlari mesra.
-
Sleman, Juni 2012 

*

Anoreksia Cinta 2

dari dalam kamar – tersekap oleh tembok-tembok terka –
aku merangkak ke luar dalam rintik-rintik gelak tawa barbar,
turun dari langit-langit.
aku duduk di atas relaksasi berteman meja
sedang tiarap dan bersahaja.
di atasnya
sekepal kopi cair berkacak harum dengan lancang.
piring putih bersila, merendah.
sajikan sebuah dekorasi kudapan, mengernyit
dan terkesan galak untuk sebuah diskusi dwibahasa
-
aku diam. berada pada tampuk opera hening,
menggelinding di paruh tempo.
dikelilingi kentara giris-pening,
rembesi gerigi kerongkongan
dari sekecup tanya – mulai menyelinap turun –
untuk tawarkan maut di palung dada.
-
perlahan, aku menyeka pergelangan insangku dengan setangan
sembari menunggu kurir, akan berikan nomor-nomor sentosa
‘tuk sebidang neraca. meski lapar terus meledak,
meski hura-hura ‘kan bermalih rupa
jadi khianat amat menyiksa.
-
Sleman, Juni 2012

*