Minggu, 06 Desember 2009

Manis Pengorbanan

         : Matahari

berbondong serangan kulempar ke segenap inderamu. jemari-jemari kukuh mengucurkan darah. titik bening yang kucitakan melepuh seiring lambaian nyiur. manismu lari bersama kuda tunggangan. hati dan raga keranjingan, berpilin bersama pikiran kolot tak beradab. sendu: mengebaskan kegemilangan intelektual cacat. mungkin telah termaktub di dalam syair-syair Tuhan atau memang memerlukan pelajaran tawakal. hai, Matahari di balik mendung. ingin kubelai mesra cahayamu yang mengembara ke segala arah. menaungi taman para jantan lalu kan kulukis seindah-indahnya kilau rambut, bangir hidung, gemerlap pipi, jua ranum bibir delima tatkala terbelangah. rindu kian gusar, meneteskan khayali dari punggung setangan. satu cinta mengapung …
… saban otak terbersit hitam debu. mahir menggoda nasib, pilu pun berubah ganas, beringas.
-
sudah menjadi adat jika aku harus merintih
tanpa ampunanmu, barangkali!
-
Pasuruan, November 2009

*

Kamis, 05 November 2009

Konfirmasi Kelabu

         : Matahari

mencintaimu tak membutuhkan luncuran peluru tajam.
kau telah membuktikan indera keenammu mampu.
aku pun juga memberi kebiasaan pada malam Minggu.
-
kenanganmu ialah darah segar, mengalir bersama hentakan napas.
bagian-bagianmu sempurna, menyinari kegelapan
hingga menyingkap kekaguman luar biasa.
aku tak dapat bersantai bila senyummu terus mengawasi.
bahkan, mungkin aku mati dengan berjuta warna
saat kau mengintip dari balik dompetku
meski pertemuan itu mengungkap konfirmasi.
-
landasan kemenangan menunggu.
tank-tank bersiap menghabisi.
kau memang target spesial di dunia.
kau harus belajar tentang filosofi “waktu adalah cinta”
agar dapat menjumput terindah di antara belukar maya.
-
pengalaman kita ialah seekor cerah pagi.
perlu binaan agar jadi bianglala.
sisa-sisamu melambai, kedip matamu menoreh derita.
sayang, aku mulai membiru …
-
Surabaya, Oktober 2009

*

Fajar

         : Matahari

dua hati tak ada koneksi.
hanya sebuah konsep, menguap.
saat menoleh ke belakang kau telah berhasil
mewujudkan satu mimpi buruk dalam diariku.
-
fajar merah menanti.
perjalanan rahasia antara kau dan aku tersurat
di lembaran sejarah abadi.
itu cukup untuk kujadikan bukti bahwa aku menyayangmu.
-
roda kuasa tunjukkan kekuatan.
menyingkirkan segala tujuan
ketika rajutan jemari menapaki penyelesaian.
gumpalan cinta mencair, mencari cela di antara sela.
namun nasib berkata, “nikmatilah sisa!”
-
Pasuruan, Oktober 2009

*

Purna

         : Matahari

selalu, bayangmu mantap membayang.
menggoda ketenangan pertapaan mata.
bibirmu dahsyat, menggetarkan arena jiwa pada pedalaman isi.
sinarmu mulai menawan di palung bahaya.
kian menghancurkan bianglala di mimbar nadi.
-
peluang juara sirna.
ujaran belum terdedah namun keputusan telah tersepakati.
segenap kesadaran menjadi iba pada seluruh mimpi-mimpi,
semestinya bersanding dengan jasmani.
kekuatan mulai lumpuh seiring kuyu auraku.
kebesaran semakin aus sejalan layu aromaku.
-
lembut, kemeriahan menciptakan sebuah titik kalut.
secara halus oksigen tak berobsesi melanjutkan nyawa.
radikal dan kejam.
aku bersiap menjauh, bukan ujung batang hidungmu
-
Tuhan telah murah hati memberikan cinta.
pun telah menurunkan anugerah terlampau tangguh di kuduk rapuh.
hanya bisa bersyukur di hamparan sajadah.
malam ini, kuingin membakar dirimu saja.
-
Surabaya, Oktober 2009

*

Di Bawah Rindang Cahaya

         : Matahari

desah menghembus.
menaklukkan angin dingin saat menyirami keceriaan pagi.
bocah-bocah hinggap dan bertengger, bergelayut, lalu
dengan bijaksana mereka merampas kesadaran
hingga aku mengangan kepedihan pada sang jelita.
-
gubuk mewah dan keelokan paras bermahkota indah
telah kuhampiri namun respon tak jua bersua.
-
mengingat sang jelita bagai diri menenggak terjangan air terjun.
segar, tapi terlalu menyakitkan.
mengenangnya adalah menimang derita.
melupakannya adalah memupuk luka.
-
di bawah rindang cahaya aku mempersiapkan diri
untuk terbang bersama hela napas baru,
namun memori di balik raga terus saja bernyanyi.
melantunkan sajak-sajak cantik sebagai rayuan.
kian lama sajak-sajak itu menjelma menjadi kesuma
dan aku terjerembab kembali saat aroma
bersilaturahmi ke dalam sanubari.
-
Pasuruan, Oktober 2009

*

Kamis, 08 Oktober 2009

Terlalu Indah

         : Matahari

sendiri, tak mampu meraih angan terbayang.
mencintaimu ialah anugerah pedih
mesti kucerna dengan batin mengiba.
tidak lama lagi ku kan terbang,
menjelajahi tiap serpihan matahari di balik daun dan embun.
-
mungkin kau mengenangku
sebagai sang pemuja gagal pemberi kemesraan.
tapi kutetap menunggu senyum di belakang sayapmu.
terus berjuang hingga aku
bisa menikmati taburan alunan cinta darimu.
-
Pasuruan, September 2009

*

Kosong

         : Matahari

kembali, meratapi nasib nihil.
tak ada bentuk aroma profan seperti cerita-cerita lampau.
rindu kian lenyap seiring letusan bunga api di kelam awan.
alunan takbir dan tahlil sahut-menyahut dengan lantang
namun jiwa masih saja terbaring.
berdoa bersama benih cinta.
-
perjalanan tak lagi gemerlap teraliri dayang-dayang bercahaya.
nanar menemani pikiran dan pilu memetakan sebuah lajur berbahaya.
di ceruk jasadku rinduku menggelantung dan bersarang
di sela lekuk senyum simpul.
sembilan malaikat mengawal tiap doa
tapi hingga akhir penantian keheningan itu tetap bisu.
tak bernyawa, tak bersuara.
-
kosong…
aku terlalu takut jika cintaku ompong
-
Pasuruan, September 2009

*

Nyanyian Pamungkas

         : Matahari

setetes kesempatan menemui tanpa ajudan.
guratan senyum di paras tak lagi bermetamorfosis
menjadi sebuah harapan.
kumenanti sebuah kepelikan kesadaran hati seorang dara
ketika kusentuh dengan kecup.
seakan sirna, sebuah belenggu cinta
dalam keindahan dan kekilauan bentuk tubuh dan iman.
-
ajari aku untuk mendapatkan cantik jiwa,
pun jasadmu wahai jelita!
-
telah lama aku berdoa, telah lama aku beristiqomah,
namun masa depan terlalu suram menghalang.
syukur kan kusematkan bila bersedia mempertemukan
meski gangguan itu kuanggap sebagai nyanyian terakhir.
-
hamba tak sanggup untuk berlama-lama.
sahaya ingin merdeka.
-
Pasuruan, September 2009

*

Detak Perjumpaan

         : Matahari

rindu kian menganga seiring detik.
manis benih cinta mulai tercicipi
kala perjanjian tersepakati pada Senin malam.
hati berdebar menunggu perjumpaan bersejarah.
kacau terus menggelontori angan, bahkan aku
harus menyediakan teks-teks maya ---
kan kugunakan saat kita bercanda.
tak ada penyesalan namun juga siap ‘tuk sebuah jawaban.
ingin diriku mengajak lebih jauh;
untuk ibadah, pun bercengkerama.
-
bayangan-bayangan rekayasa tampil silih berganti.
sepenuhnya memutar cantik dan indah
dalam nuansa keakraban.
meski hanya khayali tapi aku
kan menghelanya sebagai penyambung nyawa.
di kamar ini aku hanya menanti esok hari
saat rasa nikmat kan kau semai ke raga ini.
-
Pasuruan, September 2009

*