: Matahari
berbondong serangan kulempar ke segenap inderamu. jemari-jemari kukuh mengucurkan darah. titik bening yang kucitakan melepuh seiring lambaian nyiur. manismu lari bersama kuda tunggangan. hati dan raga keranjingan, berpilin bersama pikiran kolot tak beradab. sendu: mengebaskan kegemilangan intelektual cacat. mungkin telah termaktub di dalam syair-syair Tuhan atau memang memerlukan pelajaran tawakal. hai, Matahari di balik mendung. ingin kubelai mesra cahayamu yang mengembara ke segala arah. menaungi taman para jantan lalu kan kulukis seindah-indahnya kilau rambut, bangir hidung, gemerlap pipi, jua ranum bibir delima tatkala terbelangah. rindu kian gusar, meneteskan khayali dari punggung setangan. satu cinta mengapung …
… saban otak terbersit hitam debu. mahir menggoda nasib, pilu pun berubah ganas, beringas.
-
sudah menjadi adat jika aku harus merintih
tanpa ampunanmu, barangkali!
-
Pasuruan, November 2009
*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar