: Matahari
desah menghembus.
menaklukkan angin dingin saat menyirami keceriaan pagi.
bocah-bocah hinggap dan bertengger, bergelayut, lalu
dengan bijaksana mereka merampas kesadaran
hingga aku mengangan kepedihan pada sang jelita.
-
gubuk mewah dan keelokan paras bermahkota indah
telah kuhampiri namun respon tak jua bersua.
-
mengingat sang jelita bagai diri menenggak terjangan air terjun.
segar, tapi terlalu menyakitkan.
mengenangnya adalah menimang derita.
melupakannya adalah memupuk luka.
-
di bawah rindang cahaya aku mempersiapkan diri
untuk terbang bersama hela napas baru,
namun memori di balik raga terus saja bernyanyi.
melantunkan sajak-sajak cantik sebagai rayuan.
kian lama sajak-sajak itu menjelma menjadi kesuma
dan aku terjerembab kembali saat aroma
bersilaturahmi ke dalam sanubari.
-
Pasuruan, Oktober 2009
*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar