Kamis, 05 November 2009

Di Bawah Rindang Cahaya

         : Matahari

desah menghembus.
menaklukkan angin dingin saat menyirami keceriaan pagi.
bocah-bocah hinggap dan bertengger, bergelayut, lalu
dengan bijaksana mereka merampas kesadaran
hingga aku mengangan kepedihan pada sang jelita.
-
gubuk mewah dan keelokan paras bermahkota indah
telah kuhampiri namun respon tak jua bersua.
-
mengingat sang jelita bagai diri menenggak terjangan air terjun.
segar, tapi terlalu menyakitkan.
mengenangnya adalah menimang derita.
melupakannya adalah memupuk luka.
-
di bawah rindang cahaya aku mempersiapkan diri
untuk terbang bersama hela napas baru,
namun memori di balik raga terus saja bernyanyi.
melantunkan sajak-sajak cantik sebagai rayuan.
kian lama sajak-sajak itu menjelma menjadi kesuma
dan aku terjerembab kembali saat aroma
bersilaturahmi ke dalam sanubari.
-
Pasuruan, Oktober 2009

*

Kamis, 08 Oktober 2009

Terlalu Indah

         : Matahari

sendiri, tak mampu meraih angan terbayang.
mencintaimu ialah anugerah pedih
mesti kucerna dengan batin mengiba.
tidak lama lagi ku kan terbang,
menjelajahi tiap serpihan matahari di balik daun dan embun.
-
mungkin kau mengenangku
sebagai sang pemuja gagal pemberi kemesraan.
tapi kutetap menunggu senyum di belakang sayapmu.
terus berjuang hingga aku
bisa menikmati taburan alunan cinta darimu.
-
Pasuruan, September 2009

*

Kosong

         : Matahari

kembali, meratapi nasib nihil.
tak ada bentuk aroma profan seperti cerita-cerita lampau.
rindu kian lenyap seiring letusan bunga api di kelam awan.
alunan takbir dan tahlil sahut-menyahut dengan lantang
namun jiwa masih saja terbaring.
berdoa bersama benih cinta.
-
perjalanan tak lagi gemerlap teraliri dayang-dayang bercahaya.
nanar menemani pikiran dan pilu memetakan sebuah lajur berbahaya.
di ceruk jasadku rinduku menggelantung dan bersarang
di sela lekuk senyum simpul.
sembilan malaikat mengawal tiap doa
tapi hingga akhir penantian keheningan itu tetap bisu.
tak bernyawa, tak bersuara.
-
kosong…
aku terlalu takut jika cintaku ompong
-
Pasuruan, September 2009

*

Nyanyian Pamungkas

         : Matahari

setetes kesempatan menemui tanpa ajudan.
guratan senyum di paras tak lagi bermetamorfosis
menjadi sebuah harapan.
kumenanti sebuah kepelikan kesadaran hati seorang dara
ketika kusentuh dengan kecup.
seakan sirna, sebuah belenggu cinta
dalam keindahan dan kekilauan bentuk tubuh dan iman.
-
ajari aku untuk mendapatkan cantik jiwa,
pun jasadmu wahai jelita!
-
telah lama aku berdoa, telah lama aku beristiqomah,
namun masa depan terlalu suram menghalang.
syukur kan kusematkan bila bersedia mempertemukan
meski gangguan itu kuanggap sebagai nyanyian terakhir.
-
hamba tak sanggup untuk berlama-lama.
sahaya ingin merdeka.
-
Pasuruan, September 2009

*

Detak Perjumpaan

         : Matahari

rindu kian menganga seiring detik.
manis benih cinta mulai tercicipi
kala perjanjian tersepakati pada Senin malam.
hati berdebar menunggu perjumpaan bersejarah.
kacau terus menggelontori angan, bahkan aku
harus menyediakan teks-teks maya ---
kan kugunakan saat kita bercanda.
tak ada penyesalan namun juga siap ‘tuk sebuah jawaban.
ingin diriku mengajak lebih jauh;
untuk ibadah, pun bercengkerama.
-
bayangan-bayangan rekayasa tampil silih berganti.
sepenuhnya memutar cantik dan indah
dalam nuansa keakraban.
meski hanya khayali tapi aku
kan menghelanya sebagai penyambung nyawa.
di kamar ini aku hanya menanti esok hari
saat rasa nikmat kan kau semai ke raga ini.
-
Pasuruan, September 2009

*

Rabu, 02 September 2009

Impian Mujarad

         : Matahari

persentase khayal telah berkibar dengan lantang.
petikan zikir dan ayat-ayat kejiwaan
tak mampu meraih kedahsyatan.
terpacu memberi sedikit hela pada tapak demi jejak.
-
wajahmu sanggup mengganti sang pencipta
: begitu kuat, amat memikat.
menunggumu diriku di atas batu surga bercahaya
rembulan purnama.
-
hati terbakar, jiwa kan beku bila indahmu didekap nyawa selainku.
tiap irisan malam terlalu kejam menghampiri.
mimpi-mimpi melanjutkan propaganda,
dan cantikmu hinggap bersama dingin airmata.
-
Pasuruan, Agustus 2009

*

Hampa

         : Matahari

aku berdiri pada seonggok melati kering.
esok tak ada lagi mata cerah, pun nur berwarna.
detak jantung meminjam hidup dari kelegaan,
menatap wajah putih berhias senyum menggoda.
mencegah kacau bukanlah prioritas karena
mutiara hati juga membohongi jisim.
-
helai rambut menutupi sebagian merah
buatku ingin tuk membelainya terus,
menerus hingga aku merasakan nikmat api cinta.
tak bernilai saat sang cantik hanya tersenyum di balik dompet.
tanda bahaya meraung dengan sempurna di pangkuan dada.
satu usiran dapat melumpuhkanku
dalam keheningan siang-malam.
pesan mimpi-mimpi makin membuat tersudut menjauh darimu.
gerimis biru mengucur; meratapi rindu.
-
Pasuruan, Agustus 2009

*

Belaian Secangkir Kopi-Susu

         : Matahari

kehangatan lama kembali bersemi
namun kepulan asap rokok mengingatkan
pada setangkai wajah berpesona.
canda tawa dalam file kutampilkan sekadar mengenang.
suara trotoar timbulkan kebisingan rindu,
pun petikan senar gitar.
membangunkan mata dari secuil keheningan.
-
secangkir kopi-susu bergerak melumuri sepasang kecupan.
: tak ada, kecuali lembutmu menusuk dada.
-
sebungkus data manis tertayang di lembah bayangan.
hanya beberapa detik saja kunikmati
karena memang bukan menjadi milik secara pribadi.
gelembung kecepatan memacu agar terus menikmati
dalam indah bayangan.
diri mengerti kepahitan kan menerus membayang tanpa kejelasan
bergelimang pelukan tajam melukai pribadi.
generasi putih bergelayut pada pintu tanpa spirit,
menunggu jeritan tangis siap meledak di hadapan cantik.
-
Pasuruan, Agustus 2009

*

Tarian Rindu

         : Matahari

angin-angin saling berpesan
sebuah hentakan berbuih padaku.
gelombang sunyi meneriaki diri saat kucangkungi foto.
         “tinggalkan saja dirinya, sobat!
         kesabaranmu telah berkarat”.
-
renungan mimpi-mimpi kucoba selidiki.
memang tak ada kemenangan nyata ‘tuk jiwa,
tak ada kemesraan pada raga.
amarah sudah lancang melintasi alam kesucian
dan aku tak mau lebih mendurhakainya.
-
helai cinta semakin merapuh.
gemerlap rindu beringsut membusuk
bersama ketakpantasan.
hujan menitikkan airmatanya secara sempurna.
puing-puing khayalan semakin jelas menerbitkan jemu.
perjuangan ini mungkin membosankan.
-
Pasuruan, Agustus 2009

*