Senin, 05 April 2010

Sebuah Ramalan, Satu Raihan

         : Matahari

aku ingin menjaga tradisi. mengombinasikan ketegaran dan kepupusan saban pagi. ingin jua kumelahap cantikmu kala senggang teramu. namun, jiwa tak lagi berkutik tatkala kelabu gencar mencerca. aku berseteru dengan logika, tapi kenangan tentangmu malah tercerabut menjauhi raga.
-
aku meronta. mendenyitkan nada-nada ideal demi berdiri di podium kesuksesan. aku pun berselancar. mengabaikan dewi-dewi belia untuk memrakarsai komitmen bahwa jiwa-ragaku kompeten menyediakan cinta. memang tak terlalu parah saat berkiprah dan selasar puisi sudah cukup untuk menyematkanku sebagai pakar penanti sadar.
-
aku meringkuk di balik selimut. memantau ilusi-ilusi lembab dan mulai kendor. aku terjerembab lantas nyaris tergiur keputusasaan pesat. kau beranjak luput. biang sebuah kekandasan dalam sandarku. tak perlu rehabilitasi. mungkin, malam ini aku akan sungsang di liang tidurku lalu linglung untuk jangka waktu tak tentu.
-
Pasuruan, Maret 2010

*

Ya, Aku Sedang Jatuh Cinta

         : Matahari

aku memungut sisa-sisa tabiatku. acapkali teraneksasi
tatkala hati berkoar untuk mencintai.
-
aku melimpahkan rentetan sayang untuk memikat
demi menjadi kandidat.
-
jiwa mulai tergores,
terjangkit sebuah kegundahan
dan berkerumun di antara kesengsaraan.
-
kau nampak eksotis di tanjakan lamunanku.
menyerap tenaga hingga nyaris timbulkan anomali tak terduga.
aku bertempur dengan rindu
lalu terpuruk dan penat
ketika kau bangkit tanpa menengokku.
-
pilar-pilarku labil.
tunduk di pusat kepulan semangat.
akhirnya, nyawaku berdebar.
tiba-tiba, asaku kian lenyap tak berkabar.
-
(mungkin) aku takkan pulih.
gelagat itu lugas terasa kala reputasiku terdongkrak
menuju kegelisahan dini, menyinggung sukma.
bianglalaku beranjak kucel.
cahaya imanku turut terberedel.
-
Pasuruan, Maret 2010

*

Ragamu, Jiwamu

         : Matahari

kau selalu membelitkan cantikmu di balik tirai.
bersolek, entah untuk siapa.
-
senyum manis menjuntai.
mengguyur ubun-ubun rentanku
tatkala rindu meresap hingga segan untuk kuemban.
-
aku melacak.
mencoba mengecoh, namun kau penuh amunisi.
tak menerima nominasi.
-
sebongkah jurang terbelintang.
aku berencana singgah tapi jarak terlalu menganga.
aku mengayuh, menghindari dilema
sampai tersaruk.
lalu, wajahku lamban dihiasi air mata.
-
aku ingin berkecimpung bersamamu.
membenahi segala urusan dengan kecerdikan
atau mereunikan kenangan, dulu sempat tersendat dan hilang.
tapi, …
aku ingin mendekapmu.
memasifkan cinta
atau sekadar saling membalut luka.
tapi, …
-
kini, aku nyaris mengerang.
kematian sengit drastis membayang.
tolong!
suapkanlah lengking tawa dan kasih sayangmu kepadaku
untuk santapan penutupku.
-
Surabaya, Maret 2010

*

Fatamorgana

         : Matahari
         -- sebuah kado ulang tahun --

selalu, kecantikanmu bertengger dalam mimpi.
terlalu gesit untuk kuapresiasi.
-
lelapku, kau landa dengan cinta.
pun kasih yang buatku memar dan nanar.
-
alunan senyummu menyajikan sulur berduri.
terlalu pelik kudekati, amat parah bila kutawar nyali.
-
igauku bukanlah kontes.
bukan!
apakah engkau iseng?
ataukah ini sebuah amanat?

-
bayangmu menjadi dominan.
bergegas menghanguskan.
hamburkan jentik-jentik sayang, bergerak pesat.
lalu menjalin pantangan, kau hendaki di petang silam.
-
jiwaku tersungkur.
tengkurap memelas ampun.
meredam rawan agar bertahan.
lakukan terapi sembari menunggu kepastian.
-
takkan pernah aku memilih jemu.
jangan kira asaku ‘kan rontok meski kau acuh.
dan kelak, kendati dipandang sebagai remeh
aku pasti mencium keningmu.
selepas menorehkan janji di hadapan warga dan penghulu.
-
Kediri, Maret 2010

*

Jumat, 05 Maret 2010

Menangkap Bintang

         : Matahari

jasmani dan rohaniku terbungkam.
mencoba menerjang sebuah podium pembopong sang surya.
-
kenangan-kenangan mulai renta.
imbas benaman sekuntum bara api di lautan risau dan igau.
-
ayunan tulang punggungku tak lagi leluasa menunjukkan nyala.
tiap malam seakan harus siap menelan mimpi keruh.
saat bangun, aku mencoba menghafal dan mengusut,
namun kian surut.
-
hari-hari kerjaku dikepung, selalu.
berusaha merendamku ke dalam masa berkabung.
-
di secuil tempat, aku terpental.
di seutas waktu, aku oleng.
di sehelai pagi, aku sembab.
di seiris sore, aku tergencet.
dan di setangkai dini hari, aku mendongak.
-
hingga ujung ini, tak ada jawaban.
semoga tak luput, berharap dapat kugenggam.
-
Pasuruan, Februari 2010

*

Lampion Hitam

         : Matahari

berkabung.
nyala pendaran terlalu rumit untuk menerjang udara.
hewan-hewan mungil hijrah seiring hati merasa terpencil.
mengeja lampion beranjak renta.
-
terasa lengang dan senyap.
mengerucutkan komitmen di antara deretan kelam.
hingga secuil angpau tiba-tiba mencoba mengevakuasi.
menyuarakan gaduh, pun merisaukan candu di belukar api.
-
aku mencoba menafkahi.
menyulut kreasi ketika beberapa rival
menepis kegagapan dalam diri.
ceceran kenangan belum lunas, masih berkutat di timbunan jerami.
dan mereka sedang berteduh, (saat ini).
-
pantauan mulai beredar secara nomaden.
mengisahkan kegemaran melesat pucat.
kemudian lekas menyuarakan “selamat malam”
untuk sepasang rembulan,
bersanding anggun dalam lindungan cahaya bintang.
-
Kediri, Februari 2010

*

Origami Berbentuk Hati untuk Michie

         : Matahari

pemujamu ini hanya dapat menyelonjorkan harapan bungsu.
sulung telah melebur, lantas mengidap duga.
-
bayangmu menepuk hati.
sedikit lapang dada tereliminasi.
mensuplai beberapa sekat, sarat dengan petir,
mengkudeta konfidensi.
-
kau menghendaki origami.
bersama sebatang kruk aku mencoba mengoleksi jerih payah.
kegesitan dan kelayakan kulambaikan
di atas hantaman badai. namun, ternyata
dirimu hanya mengkhayal.
buat napasku kian lamban dan gersang.
-
tubuhku ambruk.
mengolok-menyindir ke segala lamunan.
sempat kuacungkan tengadah lumrah.
tapi, mustahil semakin marak.
dan kulitku mulai tergerogoti nyeri, mengusam, lalu melepuh.
-
nada kehidupan terasa reda.
menyematkan pita-pita hitam, beranjak mendekati diri.
pengap mulai beraroma.
menghentikan solusi dan ratusan inteligensi.
origami itu menari dan memergoki kerut, menerkamku.
tiba-tiba ia berkenan membangkitkanku.
aku sempoyongan, lembek bagai jasad tak bertulang.
-
Kediri, Februari 2010

*

Doa Seorang Pasien

         : Matahari

tiba-tiba, sorotmu mengapit.
menindih hingga ke ubin kendati diri tinggal sepenggal mati.
-
di benak, acapkali ada salut untukmu.
melanggengkan kasih identik.
menganut ancang-ancang sayang
ketika bintang saling menautkan binar.
lumrah namun janggal. kutawarkan cinta, justru
kau anggap terlalu glamor untuk kau cerna.
-
keresahan datang dari satu penjuru.
mengalirkan pulusi, pun kebisingan.
merosot di sela-sela instruksi berironi.
opsi-opsi bujuk membentang saat aku
mulai luruh, kikuk, dan kaku terbujur di keheningan temaram.
tapi, aku takkan tamak karena tahu bahwa adinda
hanyalah hawa. masih meliliti diri
dengan keriangan tak bertepi.
-
biarkan aku mengeksploitasi, bahkan menggerogoti kata.
menggaduhkan dunia dengan frasa dan klausa dekil terbilas makna.
sungguh, segalanya bukan gumaman lusuh.
goresan-goresan cermat akan selalu bertandang di ujung Minggumu.
jangan muak bila kau anggap itu sebagai rombeng menggelitik.
ataupun segumpal bayi haram siap pendam.
-
kuhanya ingin membeli cinta.
sudikah kau menjualnya?
-
Kediri, Februari 2010

*

Senin, 01 Februari 2010

Memeluk Matahari

         : Matahari

terlentang. menatap rupamu secara rinci
dan menapaki garis bibir.
ini bukanlah bermakna peyoratif atau sinis.
tapi, merupakan pemangkas sekaligus pembongkar abadi
agar kudapat memerankan prioritas.
-
terlalu menunggak.
membalut cinta dan sayangmu seperti mengais pilu.
membuat sekumpulan parau mengoyak nada kehidupan,
telah lama berdentang. ini ajang dalam irama.
dan rindu menjadi antusias untuk segera menuntas
di balik kelopak dahaga.
-
tak perlu interogasi.
kuhanya ingin menyita Melati yang kian basi.
-
Kediri, Januari 2010

*