Minggu, 04 November 2012

Sekar Arum di Gigir Duka

         : Maryama al Kad

padu batu merah beranjak menjulang,
kian membungkam racau buku tua.
sebuah kitab kupijak dalam privasi, saban hari.
-
pada beberapa kertas belakangan
ada banyak elegi terlacak.
menginisialkan sebuah gagasan
tentang potongan jaringan interaksi;
larik demi larik. tapi, hari ini
di punggung haru itu aku melihat sekuntum pucuk
mulai berdiri dari bungkuk.
-
ia coba menguasai wangi. tak lagi menjalar
dan mengitari tubuhnya.
belajar mengepung panasnya medan
dengan pita-pita di badan. bergerak bebas
dan ia berhasil mengaitkan secuil benih laten pada jiwanya.
membuatnya tersenyum dalam kesadaran cinta
dan tak lagi mencangkungi gunung kesedihan
penyebab luka. maka,
aku pun segera menutup arsip itu meski telah tertoreh
dengan canting tak bertinta
lantas menembuskan doa ke titik pusat bersama cahaya.
-
Sleman, Oktober 2012 

*

Vaksin

         : Maryama al Kad

pada dasarnya roh sedang bersandar
di tubuhku ini kian berjarak. menjauh
terdampar di sebuah tebing untuk bertirakat.
mengenakan jubah perang, senjata, dan sebuah jurus sakti
telah masak. seperti pejuang,
siap hanguskan harapan.
namun ia masih menyimpan nota pertanggungjawaban
antara dia denganku. tersimpan di sebuah tabung haru.
gemetar.
-
di sana, tertulis peran ganda.
masih kuhafal dalam langkah
tentang tatacara merawat jentik-jentik koneksi
antara aku dan Dia. tanpa interupsi
berperan sebagai antibiotik
untuk mereparasi dehidrasi dan koma.
tapi, akhir-akhir ini perihal itu menjadi slogan.
berguling-guling dan jumpalitan tak keruan.
membuatku penat dan berkecipuk dalam kepayahan.
maka, aku pun kerap terkulai,
terapung di atas luapan tanya hingga terkunyah
oleh kubah racun,
menerobos lambung kesadaran.
-
rohku menyorot kasus itu.
seperti peranti, ia menggagas sebuah akurasi
untuk menyelamatkan lagu-lagu Kami
demi sebuah reputasi. mungkin,
ia sedang menyiapkan sebuah autopsi
untuk menaruh vaksin di dalam tubuhku
agar merah bayi asmara
tak terkubur di bawah nisan air mata.
-
Sleman, Oktober 2012 

*

Anotasi Seorang Lelaki

         : Maryama al Kad

ketika mengulum cinta, semua orang di dunia ini pasti
pernah menikmati huni di kesegaran tiang-tiang pelindung.
atau berpingit di sebuah kamar
sebagai selimut dari hawa onar dan juga petir-petir nahas.
gemar berbincang, namun tidak denganku.
-
aku sudah mendaki asap arifku dan juga berenang di pangkuan doa
namun aku masih saja berada di simpang bimbang.
di sebuah sasana, dihilirmudiki oleh geram
dan sepat tangkas menyapa.
-
khayalku pun menyepi. tak sanggup menampung islah menepi.
bagan-bagan mewah –
kunyalakan dengan ilmu secara autodidak –
telah terlipat. terganti oleh gempuran fragmen-fragmen halusinasi,
muncul dari magasin kekecewaan.
-
aku merasa tak ada esok
pantas tersangkut di jiwaku. kian getas.
semuanya mengabur dan hangus. sisakan sirene kematian,
memadati esai-esai kehidupan.
dan aku tak perlu lagi menuntaskan rindu
karena aku akan segera merilis diri
sebagai korban tersisih di selat biru.
-
Sleman, Oktober 2012 

*

Jalan Sunyi Seorang Penyair

         : Maryama al Kad

ada sebuah catatan buruk, hendak kuhapus.
tentang memori liar dan rancu.
melebat di sekujur urat-urat putihku.
-
ia bagaikan intonasi kelam,
tanduskan jalan.
telah kupintal dengan perban dan keluh kesah.
memelantingkan pikiran dan hatiku
lalu mendamparkannya di tengah-tengah antariksa hitam.
layaknya seorang musafir, terusir dari kodrat alam.
-
aku ingin membuka memoar itu
lantas menggosok-gosok tera titel merah
hingga binasa. lalu akan kuisi dengan derit masa kanak-kanakku,
menyenangkan melalui transfusi
tanpa harus meraih sentimen berotasi.
-
Sleman, Oktober 2012 

*

Sirep

Tuhan, bergegaslah membahasakan inisiasi arkaismu itu
agar aku sejenak pingsan.
-
berat ini membuatku terperangkap
di dalam lorong kelam.
berkali-kali aku tersungkur
dan kesetiaanku kerap terbelah.
aku ingin mendapatkan suaka dari kejaran siul liar –
ia ingin membedah rohku sebagai tumbal kekecewaan.
-
Tuhan, segeralah! lagukan sirep itu untukku
sebelum ibadahku untukmu adalah dusta.
sebelum bandul keyakinanku padamu menjadi aus dan nista.
-
Sleman, Oktober 2012 

*

Animasi Duka

         : Maryama al Kad

aku mereka sebentuk rasi dengan kelincahan otak
di dalam sentimenku. ada aku dan dia
sedang berbincang perihal kitab batin.
kami hirup dalam kiblat dan rambu sama,
tapi kami menangkring dalam jajar berbeda;
sepatu dan terompah
saling menderetkan aspirasi
dengan versi dan tren berbeda.
raung kami sama-sama kukuh pada tiap perkencanan
dan kami tetap membawa kode-kode sentral tak sama.
-
kami telah membuat skema.
saling menyidik secara adil dan lamban
agar kami tak gugup dan dikuasai kembali
oleh ombak murka.
tapi kami masih saja terguncang
dan gagal menciptakan siklus indah.
koalisi kami hampa. nampak lancip dan eksotis di hayat
namun hanya pahit dan kaku kami dapat.
tubuh kami dirimbuni bilur duka.
konon akan kami akhiri
dengan lapang hati menyala. benarkah?
-
Sleman, Oktober 2012 

*

Minggu, 07 Oktober 2012

Solilokui Hitam

         : Maryama al Kad

saat ini
aku duduk manis di atas pualam kerisauan.
terbungkus tong maya
berisikan karut marut kekecewaan.
tak kunjung tercatut
oleh jemari Tuhan.
-
tubuhku memancarkan radiasi keputusasaan.
tergerai, membentuk pose-pose rancu,
taklukkan lugu. meremas dan hancurkan kegirangan,
pun musnahkan senyum sipit, coba kutambunkan.
-
aku sekarat dalam pigura mencekam
tanpa pintu. membeku di antara kebisingan estafet.
timbulkan kerak di hati,
terpasung di dalam persegi tak berwarna.
acap galak
dan mengkritik dengan tuas-tuas verbal.
mengerikan.
-
ahh…
andai saja waktu berempati,
akan kuacungkan desir serakku padanya
agar segera menuntaskan gelisah
sebelum ruam dengki menggoyangkan centil ranumnya
lalu memaku diri dan bersemayam di raga.
-
Sleman, September akhir – Oktober awal 2012 

*

Distabilitas

         : Maryama al Kad

kini, aku berada di biduk gelap
di sebuah gurun hitam. tergolek,
berkawan sepoi-sepoi fantasi berjelaga
dalam linangan balada tak berpola.
-
tak ada lagi kelepak-kelepak hijau
tumbuh dari bantaran kasih,
kerap membasuh debu-debu onar di tubuhku.
pun tiada lagi tarian ombak darimu,
acap buatku terkesima dan tertawa.
-
kau terlihat menjauh
dalam kilometer tak mampu teraba dan terterka.
tinggalkan pasal-pasal, pernah kita ujarkan
di sabtu purba.
-
dengan saksama
kupunguti kilah-kilah tak bernama.
mulai menyapa terumbu otakku
agar tak menjadi definisi beringas;
melibas kejernihan arifku.
-
‘kan kusimpan isakku di saku.
suatu waktu mungkin akan kau jenguk
untuk kembali mencoba meramu karir cinta kita
sebelum hayatku menjadi tabu.
-
Sleman, September 2012 

*

Membran

         : Maryama al Kad

cinta kita kobarkan
dalam temaram rumbai-rumbai cerlang
adalah penjarahan. kita nazarkan
kepada dunia sembari memincingkan konsepsi.
perlahan kita saling melacak dan meraba.
tanggul-tanggul gaib nan buram
berharap temukan istana bercat kain sutra
untuk kita pikniki, lantas menghuni
sampai ruh kita pulang ke tangan Ilahi.
tapi,
kita hanya bersua dengan gedung-gedung tua dan suram.
nyalangkan getir-getir parsial,
mereduksi butir-butir kasih kita
seperti membran.
mengufuri segenap kegesitan dan memori indah,
kita dirikan dengan titir emotif
di tabung gaib, masih kita coba dendangkan.
-
Sleman, September 2012 

*