Minggu, 07 Agustus 2011

Nirmala

         : Matahari

konser cinta kian melamban, masih debami luka-luka.
bergerak menuju sengau
lantas berjuntai pada seluk resah.
hanyalah bayi. melata dengan renta
tanpa sirip.
-
kutebar pandang. berseri namun keruh pada cabang.
saat menegak, kudapati dirimu sedang memamah hijau.
bersihkan pahit jalanan
juga membangun tahun-tahun lebam.
-
pada satu potong malam, aku menyebut dewi.
meretas rambut, lutut, dan dagingmu secara deras
hingga terangsang.
nyawa pun bergolak
kendati karut-marut mengokoh dan bermukim
untuk turunkan friksi, jua frustasi.
-
pernah aku menghadap dalam kepatutan
disertai paradoks demi menyingkap serabut tanya.
tapi izin itu senantiasa cacat saat pulang.
mengencer dan aus karena ketus,
tertindih beberapa modus sampai putus.
-
selamanya, kau adalah nirmala
meski bulan sabit
telah membanting satu presisi dalam ruangmu
tentang ranum istikharah
seiring derai-derai hari di atas bulu-bulu kreasi.
-
Pasuruan, Juli 2011

*

Sedap Malam

         : Matahari

karisma terlilit pada tiang-tiang malam, melulus.
melesat seperti tombak lantas melambat.
suguhkan empati tanpa kekusutan.
dan pendar-pendar itu tahu, ini adalah masa tikai
tentang racun-racun teremban.
menyindir. nihilkan konsep-konsep tentang cinta,
jua tamatkan satu arena,
vonis beranjak lumrah.
-
Pasuruan, Juli 2011

*

Kisah Seorang Kerani

         : Matahari

pada lanskap kata-kata aku berburu.
seperti bidak aku tersendat di antara lekuk-lekuk aksara
demi satu makna: menyongsongMu.
-
pernah kau membias pada lambaian tajuk.
lirih, murni, juga berwarna.
namun itu hanyalah stimulasi kilat. lantas lenyap,
sembunyi di balik dominasi tanda baca.
tak mampu kupungut dengan rasa.
-
kupikir itu adalah firasat
tentang petaka kata-kata atau sekadar ironi
tinta-tinta pembongkar haru.
merekat pada palung jiwa
hingga tensi meninggi dan menggiling ekspresi di atas kertas.
-
seiring ledakan-pukulan kalimat-kalimat irasional
saat itu pula lubang-lubang risiko kian matang.
bentangkan paragraf-paragraf keriput, menguzuri psikis.
sedang di sana, jalan pintas hadir sebagai nadir.
tawarkan halaman baru demi sebuah usai menggelambir.
-
aku pun melunak
meski catatan tambahan tak sesegar ilustrasi.
bahkan tanda itu adalah asing
sebabkan sebak dan sesak, gemetarkan pedalaman.
-
semangat ini hanya bertemankan fantasi.
tiada karunia. bila mujur, ‘kan kutemukan angka-angka.
akan kutenggak laksana pil penawar duka
dalam gemintang tema.
-
Pasuruan, Juli 2011

*

Ratu

         : Matahari

sayang,
lembut cantikmu menghibur di antara puisi-puisi kuyu.
penaku bersimbah pasir-pasir dendam,
menjelma jadi kerikil dan batu.
mereka mencekik seluruh aksara
dan erang membelitku seketika.
-
saat kesimpangsiuran jiwa merepresi, petir menyerang.
memecah, lalu menghilang. tak terkubur,
berkeliaran dan berloncatan
hingga menyentakku ke dalam alamat panjang.
-
ruang gerak pun terisolasi. lidah tercekal.
ceceran cahaya dari lampu cinta menerus mengerjap,
mendorongku ke arah igauan.
terguling, lantas jumpai imitasi ringan.
-
kau berjalan kepadaku dalam hablur memaksa.
nafsuku tersepuh oleh ketaklaziman.
empaskan segenap runyam,
termuat di dalam mesin-mesin lokal.
-
kau adalah putri.
seberkas tiara rubungi helai-helai sebagai lambang abadi.
sebuah legitimasi putih berkuasa
dalam derajat tersangga.
-
kau hinggap padaku.
kujulurkan serial ide-ide suci dari lumbung negosiasi
namun kau menolak.
membuang senyum tipis.
ingin pula kuutak-atik lika-liku rautmu dengan sayang
namun kau berangsur membayang.
terbang menuju satu selter singkat.
-
dari pekat lamunan, kubebaskan pikir.
coba mentotal manik-manik khas, masih berpusing.
ada lolongan pribadi di sana, tawarkan satu keampuhan.
kacau dan kasar, meski kekar.
tapi, kini dambaku tak lagi sepenggalah.
warna-warniku gontai, terbengkalai.
dan mungkin segera membusuk di kaki telaga.
-
Pasuruan, Juli 2011

*

Magenta

         : Matahari

sebuah analis mengajak tatkala aku telantar.
menumbuk tegas, tanpa identitas.
jerumuskan diri ke dalam satu parade
sarat dengan siut-siut kemurungan
dan nihil kebinaran.
-
seakan murka, aku teduh di antara spasi-spasi liar.
pecahan-pecahan ritme pergunjingan itu masih melapisi galeri maya.
seperti tamu menyiksa.
namun, aku melihat sangkar di sudut itu.
teronggok, jua menyala.
hatiku terdorong. selangkah demi selangkah
hingga sampai pada bibir jernih nan berapi-api.
(blastt…)
-
aku tergenggam sinergi antara merah dan ungu:
megah dan mapan.
bulu-bulu sukacita terjun dari atas
bagai maklumat tentang merdu dahsyat.
-
sepintas, ada kelebat senyum tentangMu di pahatan buram depanku.
terasa kerontang dan terjal. pucat!
kuhampiri lalu memeluknya, namun duka.
kuraba gelombang cantiknya, namun haru.
tiba-tiba terpecah
dan aku pun terayun ke belakang hingga menyentuh cangkang.
-
cambuk datang dengan berang.
sengit tercium. ibarat momok memenjara nyali.
ia bertanya,
kenapa?
bunuh saja!
aku tak segarang itu
lantas mengapa?
karena dosa-dosa sulungmu.
-
aku terdiam. fatwa itu telah menggigitku:
kau adalah rentan.
kepandaianmu didominasi oleh onak-onak menagih kematian.
bersemadilah!
cuci kembali kesaktianmu agar bertuah
agar desersi tak memukaumu menuju sumur darah.
(blastt…)
-
pada kestabilan awam, kudapati bubuk-bubuk retak terngiang.
kubasuh muka, tapi goresan taring sang magenta masih menumpuk
seakan terkucil dari bongkahan spekulasi.
-
tak ada lagi elu-elu asa
hanya sisakan demam dan ranjau serbahitam,¬ siap menantang
di ujung pertempuran.
-
Pasuruan, Juli 2011

*

Minggu, 10 Juli 2011

Enigma

         : Matahari

tiba-tiba, kobar ungu tentangmu melindap.
beri tabik lalu terlarung ke dalam belantika fana.
tegak.
-
senyampang ada waktu
ingin kutelusuri kental nyatamu.
merantau bersama gila
atau sekadar mengintip kidung-kidungmu
di dalam bejana.
-
kau tetap halus dan sejuk.
tak sanggup kutakluk.
garis-garis molekmu
tawarkan kesan pada katup-katup cinta.
-
siasat kugenangkan pada otakmu, tak ampuh.
janggal. seperti noktah riil,
tak mampu kugeledah dengan busa.
-
sayangnya,
hingga kini aku tak kuasa merunut sisik-sisikmu.
engkau telah tenggelam.
bertasbih di sela-sela daun azali
sembari berinteraksi bersama ratusan peluang.
-
di sini, hanya membujur kaku.
sedang mengapit pangkal siksa sebagai candu.
-
Sleman, Juni 2011

*

Telepati

         : Matahari

sari-sari, aku temukan cemberut pada gagang hati.
relief-relief di sana hidangkan timpang
seperti arometerapi tawar, bubuhkan dilema.
-
hai sayang, sudahkan kau aktifkan lampion telepatimu?
-
aku masih berdiri di selit canggung, tanpa kopi.
ingin sekali kuziarahi paru-parumu
untuk kupagut
atau sekadar memahat tujuh daging sucimu
dengan motif cinta.
atau, kutindik saja sukma bening itu
dengan anting-anting asmara.
-
ambisi picik ini harusnya terdengar di sana.
setidaknya, beberapa legiun maharku mampu menyergap.
tapi diammu terburu mengebiri tanpa indikasi.
-
kala jenuh, pernah kulayang banyak upeti. seketika
coba melawan kaku, terbeber di atas rumput
agar mampu kumenghafal tanah basah pada bibirmu.
ingin kupinang dengan air hujan
namun kau tak berkutik.
-
kini, pada kepulan pejam ini
tak lagi kumenyelam dalam pot-pot palsu.
semuanya telah kedap.
riak-riak jingkrak tersisa pun akan segera luluh.
mengalir bersama kuah curiga dan bimbang.
lantas, sendi-sendi teramputasi akan enyahkanku
dari rayu peraduan.
-
Sleman, Juni 2011

*

Kontemplasi Biru

         : Matahari

sembilan batang hio kunyalakan. dan keping-keping asapnya berteriak ke segala penjuru. merayu, sesatkanku. hingga aku tenggelam dalam kerumitan intuisi; tentang cinta.
-
molekmu terendus oleh umurku. ada decak di sana. lembut, namun menyekap nalar. buatku linglung. terbuang dari petak kreasi. lantas opsi-opsi ilusi tertulis sebagai isi pada utuh sujudku. miris menginfeksi. melaknat segenap opini. dan sodorkan teror, berlalu-lalang di alamku. ah…
-
ingar-bingar sosokmu adalah elang. mengintai, lalu membuas. menghantam, menggerogot, menggulung, dan melahap pion-pion proteksi. seperti mendikte. merombak belasan juntaian inisial nyawa. bahkan sesekali menggugah curam saat aku bersekutu dengan santai.
-
kau menaruhku di atas tungku. tangan-kakiku merangkak di atas kawat derita.
kau menyumpalku. agar bibir ini tak jadi potlot yang lukiskan doa.
inikah eksekusi untukku
?
-
kini,
habitatku tersobek. buraikan embus-embus skeptis untuk ranting-ranting curiga.
di sana,
sang iblis masih bercinta dengan para selir.
tapi ia siaga membidik
tatkala seonggok tubuh tercelup dalam kolam getir.
-
Sleman, Juni 2011

*

Pilu

         : Matahari

jika kendali adalah suatu tanya
maka gelinjang jawabku.
-
ya, sabtu-malam ini kembali aku menimang isak
tentang titik reses. menampung timbunan gerah
di ketakziman hampa.
-
pada tampah Tuhan ini, aku murka.
sebagai jelata, ada harap ‘tuk membuka mendung.
mencungkil sengkarut pada cakrawala hati,
hati milik Sang Michie.
-
mentari pun menggarang.
semburkan menu-menu kumal tak tertangkal.
kucoba loncat ‘tuk menghuni kegigihan, namun dusta.
limbung membebat
seiring degup kilat. gencar memantrai, satu formasi.
-
pada irisan kuno ini, aku adalah lugas tanpa apresiasi.
tergerai bersama kutuk, memamah kekar.
menunggu sepasang gelitik, menelan pilu.
-
Sleman, Juni 2011

*