Minggu, 06 Desember 2009

Mengenang Salju

         : Matahari

biarkan aku menjadi dirigen, menyerang jutaan tanaman patroli
agar membelot darimu.
setumpuk ayunan godam tak lagi membelai wajar.
kuliah hilang dan pemacu semangat sirna
bersama tuangan tangis.
-
engkau lebih familier tanpa hadirku.
kian tertib jika mengirai cintaku
hingga terjerembab di kedalaman lumpur.
penglihatan membengkak.
terlalu lama tangisi larutan ketidakpahaman bersama keceriaan.
-
ketika termenung hal itu berkata, “bunuh saja!”.
segera rohku kucangkung di semak belukar.
diam, lalu mengeluh secara cerdas agar lagak hati
dapat menghibur raga tak terjamah.
-
menunduk, mengabdi seakan terkutuk.
ketegangan mengendor, terdampar di sehelai hembus
seperti obat penenang kemudian menyeret
dan lahirkan rajangan air mata busuk.
diri menginap di ruang gawat.
menjumpaimu pada hentakan dentang terakhir.
lalu, sebutir mataku berbinar.
-
halusinasi lazim mengetuk saat mimpi berubah ilegal.
akal mendongeng tentang seutas firasat.
kencan bukan kecemasan sebuah alur.
itu, hanya ilusi belaka.
-
Pasuruan, November 2009

*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar