Selasa, 07 Mei 2013

New Year's Eve

         : Maryama al Kad

siapa saja yang bersama saat hitung mundur
mereka akan bersama selamanya[1]


di dermaga akhir tahun itu
kami hanyalah dualisme lumpuh;
         terpelanting dari medan laga.
urat leher feminin dan maskulin telah rompal,
hanyut dan luput ke dalam debit tanah.
-
pada satu malam di suatu tarikh berpigura,
kami bersentuh.
kosmis di sekitar sedang cerlang
dan menyala-nyala. di pesisir itulah
kami merakit segumpal terumbu karang
sebagai cikal bakal legal tentang gubuk kebersamaan.
membundelnya dalam sebuah kabin berwarna senja kala
agar tak terusik, tereduksi, tergusur, atau bahkan terkhianat
oleh ikhtiar para petaka.
-
dua tahun berlalu, kaktus-kaktus laut itu ambyar.
terpreteli arus dinamika jalanan.
jadi gagu, dengan sorot mata penuh debu
dan tubuh berlubang dalam kerontang.
-
sepanjang kemudi, memang ada reportase dan referensi
dari delapan arah mata batin tentang lapang,
namun gelombang domestik
ternyata kaldera berpalung magma;
         pantang-pantang tengik nan akut terburai dari sana.
secara berangasan liur apinya membakar segala
‘tuk dijadi mendiang
tanpa sisakan serat-akar kehidupan.
-
kini cuma timpang tersisa.
seperti gelandangan, terisolasi di penampungan nista
sembari menunggu tercabut dari teater mahakuasa.
-
Pasuruan, April 2013

[1] Cuplikan kalimat pada film My True Friend tahun 2011. Disutradarai oleh Adsajun Sattagovit.

*

Saat Pelupuk Matamu Terpejam

         : Maryama al Kad

saat kesadaranmu kau enyah-bekukan di bawah tanah
maka di titik itulah dukacitaku tercerai
dari metabolisme haru di tubuh
karena pada wajahmu ada sekumpulan kosmetik
tentang sandi-sandi cemerlang.
terbit seperti hujan lantas banjiri lumpang hati
dengan total dan sengit.
-
di dunia ini
kuingin menyelamatkanmu dengan karunia.
program standar untuk merawani tentakel jiwamu
telah terpantau dini dari para tersangka.
saban orang akan menimpakan sepotong runyam,
juga mencolokkan suara-suara fitnah
di tiap selter persinggahan.
-
katalog-katalog perangkap itu
akan senantiasa bertebaran seperti petasan.
mengobral undangan dari suatu populasi
‘tuk memperturutkanmu agar terduduk-tunduk
sebagai lakon sebuah tipu alegori.
mereka adalah budak kelamin.
berobsesi untuk menihilkan tubuhmu
karena tenggat takkan bisa diralat
ketika tahun baru bergulir untuk mendamprat.
-
seandainya nyana itu terjadi
maka nilai merah ‘kan jadi gerisik
di gempal tegarmu, sayang.
dan aku tak sampai hati
jika kiamat telah memeluk dan merekrutmu
untuk melanglang bersama
ke suatu suram tanpa pijar cinta.
-
bila nanti kau mengutarakan pandang kembali
di pancuran mata berlapis sutra ini,
maka isaplah argumentasi
di sela-sela punggung retinaku
agar kau temukan aksioma tentang secuil intuisi
untuk dilisan-rembeskan
ke pori-pori tubuh dan bibirmu
demi sebuah estimasi janji penuh candu.
-
Sleman, April 2013

*

Jumat, 05 April 2013

Sebuah Pengembaraan dari Luka Diri

sidang tentang talak tiga itu
sudah berprosedur dalam sumpah.
ia bagaikan berondong proyektil.
tengoki kantong-kantong psikis violetku
dan berprakarsa ‘tuk membuat prestasi
jadi tergelincir dan gaduh.
-
mediasi ilmiah
memang sempat menyelidik dan berkontribusi
sebagai jalinan diplomasi.
namun peta kurikulum imaji
telanjur terbelit kawat-kawat berduri.
kupu-kupu kebajikan itu pun
hanya mampu kucurkan alegori.
gemanya sekadar bertabrakan
dengan pemikiran, lantas lesap
di antara gita kemaluan.
-
maka, kupentalkan diri
dari pelataran residu dan awan-awan lusuh itu.
berjalan pada seutas benang tekad
di dalam terowongan nisbi
agar keasrian sadar
tak direnda oleh pena-pena durjana.
juga agar tak terlalu lama singgah dan terlelap
di rumah elegi saat ajang tanya-duka
jadi lancang berapi.
-
mencari mula tentang asal usul
bukanlah telaah mudah.
ia seperti bohlam padam.
tergantung sendiri di sudut aula
seakan-akan tertegun
menyaksikan simbol-simbol tergenang di lantai
tanpa nama. tapi kuyakin
bahwa cip dalam rongga dada ini
takkan selamanya berkalang prahara
karena Tuhan takkan selalu memaki
dan menampar hati sebagai uji
di setiap performa.
-
Sleman, Maret 2013 

*

Peleleh Hati

         : Maryama al Kad

kau, adalah bunga mawar putih.
tumbuh dari setetes dawat nasib
di sebuah lapak waktu.
berdesakan di antara percaturan retorika
sekaligus memproteksi diri
pada sandaran kitab-kitab konvensi.
-
pada satu celoteh masa
harum dan indah infrastruktur tubuhmu mendayung.
lewati etape-etape elementer
hingga temukan koridor bertudung gapura.
menggedor, berusaha mendobrak, bahkan berontak
saat etis berlapis itu tak kabulkan suluk goda.
dan di pangkuan rekaan berdarah dingin itulah
tenangku direbut.
-
beserta keris di tangan kiri sebagai siaga,
perlahan kubuka.
mereka terlihat girang pada pandang,
sesekali terbahak untuk menyapa.
         di detik itu pula
kor dan mars tentang depresi hasil perang lalu
masih belum menumpul.
masih ada rasa terpukul dan mencekam
di sela-sela rambut kesadaran.
karena itulah aku bergegas menikam sasaran
untuk melawan
tapi lolos dan menghilang.
-
kukejar. telusuri saluran tak bermarkah
beratribut perca-perca darah dan air mata
sampai kudapatkan ruang terbuka
di salah satu gantungan kehidupan.
-
         dari jauh
kusaksikan sependar motif cahaya.
tak ingin sungguh kulatahi lagi jejak duka
karena keranda hitam pasti kembali merayu
agar singgah.
tapi impuls ini mencubit dan gerakkan langkah;
mendekat dalam tertib dan ogah.
-
         di sana
aku bersua dengan ayumu.
sedang bergelimpang
di tengah-tengah taburan bunga kamboja.
nampak lemas dan tuntas
namun sanggup memikat kebingunganku
pada sentilan pergaulan.
-
lambat laun aku jadi pendiam.
seperti ada martil berayun
tubuh ini ditancapkan pada batang kemanusiaan.
kau pun akhirnya berhasil merebutku
ketika tubuh ini dihibahkan sebagai penyempurnaan
kasih dan sayangmu.
-
Sleman, Maret 2013 

*

Perawan yang Mencintai Cahaya

         : Maryama al Kad

pada rinai persimpangan masa
ada balita tertampung
di salah satu kerangka keluarga.
angka dan huruf mentah sebagai skenario Tuhan
telah dilekat di pertigaan hatinya.
mereka pun kemudian membiak. menjangkiti akhlak
saat ia remaja sekaligus menjadi santri
di daratan konsentrasi penuh berkah.

di hilir periode
bulan madu itu akhirnya harus tergusur
karena ia memilih ‘tuk jadi imigran.

pada sebuah gerendel ia membuka pintu.
tak mengerti dirinya
bahwa ruang itu adalah perang.
sontak, mimik jiwanya dikerubuti resensi
mengenai reinkarnasi kepribadian.
tersedot menuju kubu-kubu permainan
tentang perca-perca kematian.
terbanting. berguling-guling di atas mara
tanpa sempat protes untuk membaca diktat wasangka
dan mencipta kartu-kartu skala.
-
lendir di sekujur indahnya tergeret, tetes demi tetes.
tergantikan dengan beling-beling pemangkas segala.
membuatnya mirip seekor binatang legendaris;
lantang berteriak di parit-parit waktu
untuk menantang ajal.
-
peluru kehancuran dan terik pertaruhan
ditumbangkan.
curam sang maut di balik impitan justifikasi pun
ditundukkan.
lambat laun, ia sanggup berdiri sendiri
di permukaan sungai – bahkan di atas banjir! –
untuk memimpin pertempuran.
-
berteman butir-butir salju
mereka saling mengganjar tawa
seiring aliran dingin dari sudut-sudut hampa.
ia pun tahu bahwa waduk di perhentian berikutnya
ialah gulita
dan alam juga mengerti bahwa ia terus belajar
mendidik kotak-kotak kultur di dadanya
untuk menjenguk keikhlasan
demi merampungkan cahaya.
-
Sleman, Maret 2013 

*

Saputangan yang Mengapung di Mataku

tisu kain itu mulanya adalah badai.
datang dari laut bersama secuil daging dan darah.
masuk melalui jendela dan tiba di mesin ingatan.
-
awalnya ia berkutik dan beberapa kali tersaruk-saruk
tatkala energinya membentuk syair. (ada vibrasi di sana).
dengan prakata dan sedikit argumentasi,
perlahan ia lompati pagar besi untuk mendekat
meski terancam jadi beban dan asam
di tenggat hari.

         dengan akhlak dan integritas putih
         ia berubah bentuk, menjelma selembar kain.

selintas, ia terlihat lembek dan sebak.
nampak baru pulih dari durasi hardik dan pancung
di umur senggangnya.
-
saat mencapai normal
senarai suci tentang kasih pada halaman mukanya
mendadak memahat seberkas tubuh.
seperti makhluk beradab ia diumpan ke mata
hingga aku buta; pikun ilmu, pikun rasa.
entah berada di dalam kardus waktu
atau koper warsa.
hanya cicipi sedak pedih dan petaka.
dan akhirnya terguling-giling dalam malu
laksana arca tua di dalam tong sampah.
-
Sleman, Maret 2013 

*

Penyempurnaan Luka

halaman-halaman penuh dialog dan bertata bahasa
di buku akidah ini telah kosong.
miliaran benih-benih perjuangan
sempat tertulis dan bertasbih di sana.
namun, mereka terbetot dari lembaran-lembaran langkah.
meninggalkan bekas arti tentang kasih
di pelataran batu-batu masam.
gema pergerakannya pun lebur
seiring munculnya gempita
sebagai akumulasi ledakan benci dan ketakpuasan.
-
alam seolah dungu.
tak berikan oksigen satu gram pun
sebagai logistik medis untuk krisisku.
mungkin telat untuk membentrok kawat berduri
di baris terdepan.
barangkali pula sel-sel nyaliku sudah rata
atau malah memburuk
hingga tak perlu lagi ada selisik dan jaga.
-
langit ketujuh mengeruk
lantas menyeret roh dari kostum dagingku.
mengajaknya berdansa di sehampar hutan anonim
dengan kawalan cahaya.
layaknya siswa, ia patuh laksana alat peraga
sampai kelelahan di titik sucinya
melamban dan habis
karena mereka memberi lisensi secara perlahan
untuk sebersit niat baru
demi kemenangan perang di depan.
-
Sleman, Maret 2013 

*

Sabtu, 09 Maret 2013

Tarikan Terakhir dari Sebuah Eliminasi

surya di jenjang teratas itu
hanyalah infrastruktur sebuah tatanan.
seperti musik, ia melintas sekejap
selaku penyangga khitah dan kriteria
lalu pergi tanpa tinggalkan kesakralan
di balai-balai harap dan doa-doa.
-
di titik tenggat, ia terhenti
pada satu kombinasi pembatas.
seberkas anasir hambar mengantarnya
masuk ke dalam konstelasi metafora.
didudukkan di atas kursi
dengan suguhan pagelaran penuh aniaya.
-
ia menyaksikan mesin-mesin sakti
berkoar dan mendekat
dari pelataran reruntuhan pasir-pasir kemapanan.
tentakel-tentakelnya terudar.
kulitnya tersentuh oleh serabut-serabut lancang.
merambah temperamen di kandungan
lantas setubuhi ketakutan
‘tuk jadikan sarang kelemahan.
-
kedewasaannya takluk.
urat-urat hayatinya tergetar hingga terbelalak.
tergusur dari keharuman esensi dan kreasi
tanpa sempat bertanya
dan tak tercatat di menu resmi sebagai siapa.
-
ia mengerti
bahwa rohnya ialah titipan Tuhan.
sekadar sempalan pendek tiada makna,
dicocol-cocolkan ke dadu hitam beriskan
untuk diuji dan berjuang
atas nama cinta. tapi ia kalah.
tertendang dari lini upaya
dan kian menciutkan diri dalam diam tak bertepi
di batin ini.
-
Pasuruan dan Sleman, Februari 2013 

*

Teror Mental

debur mimpi-mimpi itu
semestinya terjangkar dan tersekat jauh
dari ufuk kerasionalan;
dimakamkan di sebuah resor tak berpeta
atau dijemur di hadap api mentari
agar lekas binasa. nyatanya,
ia justru sanggup merayap dan bernapas di kesadaran.
bahkan menari-nari di atas meja rias kudusku
pada tekstur waktu tertentu.
-
resonansi lolongnya adalah tur sarkastis.
seakan-akan memapah panik
menuju detik-detik negatif.
terasa sumir, melayang dalam kelebat.
namun senantiasa mencium kerut galah-galah stamina
tatkala tangguhku tumpah
dan berceceran di pantai asing;
serasa membunuh usia, jadi sebatang kara.
-
para penggarong itu meluncur
dari gayung-gayung kenangan.
seperti lahar, mereka adalah menyilaukan.
meledak menjadi pasukan hujan
kemudian mengganas di sekeliling dua mataku
dengan bintik-bintik ngeri
‘tuk berebut mengangkut kenyataan dari harapan.
-
memang, sekelumit hidayah sempat terpahami
di balik huruf-huruf braille kehidupan
saat kerumunan totol-totol sucinya termakna.
tapi, tampaknya tiada kans ‘tuk awali misi baru
di zona gelap ini
meski aku berlama-lama memegang percaya
demi satu titik di sudut prahara.
-
Pasuruan, Februari 2013 

*