Sabtu, 08 Desember 2012

Menimang Luka

pada denyar margin ujian sumbangku,
aku ditepuk sebuah ngarai ketabahan.
-
leherku tertambat oleh sebuah laso dalam kuasa.
kelemasan dan kekalahan menjadi dera, terus mengintip
dari eksotisme kegarangan. tak lagi utuh.
-
kucoba meloloskan diri
dari coretan kematian dan kontur kesekaratan.
kelak melambangkan hitam
namun aku terbanting dan terbanting kembali
hingga terpental dan meluncur ke titian lebih ngeri
menuju ke sebuah pematang tak berbatas.
mungkin saja akan segera membuang dan menjatahku
ke hunian tak beralas.
-
Sleman, November 2012

*

Malaikat Kematian sedang Menungguku

         : Maryama al Kad

jaringan frustrasi ini adalah gemericik aral.
diguyurkan dari tribune kegagalan
hingga menjuntai jadi kemurungan.
lantas disuguhkan ke jantung belakangku
sebagai dokumen lisan. mengacaukan.
-
aku terselubung oleh parasit (merebut detik-detik tangkasku).
terjebak di dalam botol fiktif
dan terbasuh oleh nanar benderang.
tak kutemukan satu pun tengara,
gegaskanku ke balok kearifan.
dan tahajudku adalah rumah. tak lagi utuh
hanya terbujur malu di samping gelanggang kesabaran.
-
pada kemekaran kritis itulah
ada sinyalir kian mendekat.
(tanpa kode, tanpa bahasa).
hanya sekadar uar mengumbar, nyala dan kuasa
di puncak kegelisahan membara.
-
Sleman, November 2012 

*

Arus

         : Maryama al Kad

saat kubenahi pandang
dan mengoreksi kehampaan kejut ini,
maka saat itu pula aku membesukMu
dalam ziarah kelam.
-
aku berjalan dengan tangan lumpuh
pada pipa-pipa tak berwarna untuk menembusMu.
sekadar mencoba mengungkai sebuah hidangan suci.
tersimpan dalam kuntum kaleng,
tersampul rapi oleh pita-pita.
-
kuikuti alur rendah, menggauliku
dengan sirkulasi meletihkan
seakan-akan tungkai ini telah terantai
oleh simpulan tanya. menumpuk
dalam curah tak terbaca dan tak bernama.
dan aku akan tetap menagih janji dariMu untuk berjumpa
walau aku harus bergentayangan
di antara arus membabi buta.
-
Sleman, November 2012 

*

Seberkas Lebam yang Masih Membekas di Ingatan

         : Maryama al Kad

dulu, ada kerutinan puji-puji. kutamparkan padamu
dalam rikuh. menjadikanmu seorang gadis rupawan
dengan ekspresi puitis. ditegaskan
namun akhirnya kau menampik resah.
kutempelkan di kakimu
tentang kasidah cokelat. kuangkut
ke dalam buku kenangan.
takluk di bawah kubah-kubah kredo gelapmu,
terentang.
-
mungkin saja kau cap diriku sebagai wira sejati.
menilapmu dalam cinta,
tapi aku menduga bahwa kau mewartakan diriku
sebagai pengecut. kerap mengkritik
dengan lembayung celaan di dalam kotak bencana.
maka aku belajar untuk membeli igamu
dengan animo tersadar.
namun tetap saja tak kuraup sepeser pun keakuran.
kita timba dari perigi percintaan.
-
Sleman, November 2012 

*

Pembakar Senyum

         : Maryama al Kad

kau adalah aransemen tunggal. steril untukku
dengan akurasi dan frekuensi hangat.
mampu membuat teror menegangkan
di tiap adegan. kita mainkan
dengan sugesti simultan.
-
ada kalanya kau melukisku sebagai suami
dengan dekorasi membanggakan.
namun terkadang kau mengujiku dalam debat.
buatku merasa bagaikan pecundang usang,
memilih untuk berkhianat.
-
kau tampak seperti jagoan penghancur museum.
kita bangun dengan diskusi dan berlipat-lipat kontribusi.
koleksi konfirmasi kita pajang
di dinding-dinding kemenangan, kau bakar
hingga tak ada lagi makna untuk status kita
selain dikotomi janggal, memekakkan telinga.
-
Sleman, November 2012 

*

Minggu, 04 November 2012

Sekelumit Kisah dari Mimpi Seberang

         : Maryama al Kad

pada sebuah ladang emosi – dicuci oleh cinta –
kau lesatkan kecantikan. menggigit berahi.
aku mengancam dalam desak sepi
dan rebak tenaga terkremasi.
namun ruaman kejengkelan meruam di gorden tulangku
membuntu. tergantikan oleh trenyuh.
lantas, kita saling mengisap dan melahap asap kenikmatan
di ujung bibir.
-
aku membelahmu dengan telatah suci.
menjubeli kelajanganmu dengan sentuh-sentuh erat
‘tuk luluhkan panggilanmu. bergolak dan dadak.
kau rebut sikapku dan merajuk dalam gairah.
aku hanya mampu menimpali memar rindu pada air tubuhmu
dengan segenap nafsu. dan giatkan kebodohan naif
agar kita beranjak terbang
untuk sejenak lupakan benih-benih tragedi
saat kita permanenkan di ruang kenyataan.
-
di akhir ingatan, kita mengenakan pakaian.
telah tercopot
di bawah lindung puji dan niat. telah dicetuskan.
aku menggambar gundah di hatimu
dan kau menjemur sinis di punggungku.
dan kita sama-sama mengerti bahwa kita masih belajar
untuk menuntaskan tugas dan harapan
berupa teka-teki dan misteri
di sebuah klinik milik Tuhan.
-
Sleman, Oktober 2012 

*

Sekar Arum di Gigir Duka

         : Maryama al Kad

padu batu merah beranjak menjulang,
kian membungkam racau buku tua.
sebuah kitab kupijak dalam privasi, saban hari.
-
pada beberapa kertas belakangan
ada banyak elegi terlacak.
menginisialkan sebuah gagasan
tentang potongan jaringan interaksi;
larik demi larik. tapi, hari ini
di punggung haru itu aku melihat sekuntum pucuk
mulai berdiri dari bungkuk.
-
ia coba menguasai wangi. tak lagi menjalar
dan mengitari tubuhnya.
belajar mengepung panasnya medan
dengan pita-pita di badan. bergerak bebas
dan ia berhasil mengaitkan secuil benih laten pada jiwanya.
membuatnya tersenyum dalam kesadaran cinta
dan tak lagi mencangkungi gunung kesedihan
penyebab luka. maka,
aku pun segera menutup arsip itu meski telah tertoreh
dengan canting tak bertinta
lantas menembuskan doa ke titik pusat bersama cahaya.
-
Sleman, Oktober 2012 

*

Vaksin

         : Maryama al Kad

pada dasarnya roh sedang bersandar
di tubuhku ini kian berjarak. menjauh
terdampar di sebuah tebing untuk bertirakat.
mengenakan jubah perang, senjata, dan sebuah jurus sakti
telah masak. seperti pejuang,
siap hanguskan harapan.
namun ia masih menyimpan nota pertanggungjawaban
antara dia denganku. tersimpan di sebuah tabung haru.
gemetar.
-
di sana, tertulis peran ganda.
masih kuhafal dalam langkah
tentang tatacara merawat jentik-jentik koneksi
antara aku dan Dia. tanpa interupsi
berperan sebagai antibiotik
untuk mereparasi dehidrasi dan koma.
tapi, akhir-akhir ini perihal itu menjadi slogan.
berguling-guling dan jumpalitan tak keruan.
membuatku penat dan berkecipuk dalam kepayahan.
maka, aku pun kerap terkulai,
terapung di atas luapan tanya hingga terkunyah
oleh kubah racun,
menerobos lambung kesadaran.
-
rohku menyorot kasus itu.
seperti peranti, ia menggagas sebuah akurasi
untuk menyelamatkan lagu-lagu Kami
demi sebuah reputasi. mungkin,
ia sedang menyiapkan sebuah autopsi
untuk menaruh vaksin di dalam tubuhku
agar merah bayi asmara
tak terkubur di bawah nisan air mata.
-
Sleman, Oktober 2012 

*

Anotasi Seorang Lelaki

         : Maryama al Kad

ketika mengulum cinta, semua orang di dunia ini pasti
pernah menikmati huni di kesegaran tiang-tiang pelindung.
atau berpingit di sebuah kamar
sebagai selimut dari hawa onar dan juga petir-petir nahas.
gemar berbincang, namun tidak denganku.
-
aku sudah mendaki asap arifku dan juga berenang di pangkuan doa
namun aku masih saja berada di simpang bimbang.
di sebuah sasana, dihilirmudiki oleh geram
dan sepat tangkas menyapa.
-
khayalku pun menyepi. tak sanggup menampung islah menepi.
bagan-bagan mewah –
kunyalakan dengan ilmu secara autodidak –
telah terlipat. terganti oleh gempuran fragmen-fragmen halusinasi,
muncul dari magasin kekecewaan.
-
aku merasa tak ada esok
pantas tersangkut di jiwaku. kian getas.
semuanya mengabur dan hangus. sisakan sirene kematian,
memadati esai-esai kehidupan.
dan aku tak perlu lagi menuntaskan rindu
karena aku akan segera merilis diri
sebagai korban tersisih di selat biru.
-
Sleman, Oktober 2012 

*