Jumat, 05 April 2013

Perawan yang Mencintai Cahaya

         : Maryama al Kad

pada rinai persimpangan masa
ada balita tertampung
di salah satu kerangka keluarga.
angka dan huruf mentah sebagai skenario Tuhan
telah dilekat di pertigaan hatinya.
mereka pun kemudian membiak. menjangkiti akhlak
saat ia remaja sekaligus menjadi santri
di daratan konsentrasi penuh berkah.

di hilir periode
bulan madu itu akhirnya harus tergusur
karena ia memilih ‘tuk jadi imigran.

pada sebuah gerendel ia membuka pintu.
tak mengerti dirinya
bahwa ruang itu adalah perang.
sontak, mimik jiwanya dikerubuti resensi
mengenai reinkarnasi kepribadian.
tersedot menuju kubu-kubu permainan
tentang perca-perca kematian.
terbanting. berguling-guling di atas mara
tanpa sempat protes untuk membaca diktat wasangka
dan mencipta kartu-kartu skala.
-
lendir di sekujur indahnya tergeret, tetes demi tetes.
tergantikan dengan beling-beling pemangkas segala.
membuatnya mirip seekor binatang legendaris;
lantang berteriak di parit-parit waktu
untuk menantang ajal.
-
peluru kehancuran dan terik pertaruhan
ditumbangkan.
curam sang maut di balik impitan justifikasi pun
ditundukkan.
lambat laun, ia sanggup berdiri sendiri
di permukaan sungai – bahkan di atas banjir! –
untuk memimpin pertempuran.
-
berteman butir-butir salju
mereka saling mengganjar tawa
seiring aliran dingin dari sudut-sudut hampa.
ia pun tahu bahwa waduk di perhentian berikutnya
ialah gulita
dan alam juga mengerti bahwa ia terus belajar
mendidik kotak-kotak kultur di dadanya
untuk menjenguk keikhlasan
demi merampungkan cahaya.
-
Sleman, Maret 2013 

*

Saputangan yang Mengapung di Mataku

tisu kain itu mulanya adalah badai.
datang dari laut bersama secuil daging dan darah.
masuk melalui jendela dan tiba di mesin ingatan.
-
awalnya ia berkutik dan beberapa kali tersaruk-saruk
tatkala energinya membentuk syair. (ada vibrasi di sana).
dengan prakata dan sedikit argumentasi,
perlahan ia lompati pagar besi untuk mendekat
meski terancam jadi beban dan asam
di tenggat hari.

         dengan akhlak dan integritas putih
         ia berubah bentuk, menjelma selembar kain.

selintas, ia terlihat lembek dan sebak.
nampak baru pulih dari durasi hardik dan pancung
di umur senggangnya.
-
saat mencapai normal
senarai suci tentang kasih pada halaman mukanya
mendadak memahat seberkas tubuh.
seperti makhluk beradab ia diumpan ke mata
hingga aku buta; pikun ilmu, pikun rasa.
entah berada di dalam kardus waktu
atau koper warsa.
hanya cicipi sedak pedih dan petaka.
dan akhirnya terguling-giling dalam malu
laksana arca tua di dalam tong sampah.
-
Sleman, Maret 2013 

*

Penyempurnaan Luka

halaman-halaman penuh dialog dan bertata bahasa
di buku akidah ini telah kosong.
miliaran benih-benih perjuangan
sempat tertulis dan bertasbih di sana.
namun, mereka terbetot dari lembaran-lembaran langkah.
meninggalkan bekas arti tentang kasih
di pelataran batu-batu masam.
gema pergerakannya pun lebur
seiring munculnya gempita
sebagai akumulasi ledakan benci dan ketakpuasan.
-
alam seolah dungu.
tak berikan oksigen satu gram pun
sebagai logistik medis untuk krisisku.
mungkin telat untuk membentrok kawat berduri
di baris terdepan.
barangkali pula sel-sel nyaliku sudah rata
atau malah memburuk
hingga tak perlu lagi ada selisik dan jaga.
-
langit ketujuh mengeruk
lantas menyeret roh dari kostum dagingku.
mengajaknya berdansa di sehampar hutan anonim
dengan kawalan cahaya.
layaknya siswa, ia patuh laksana alat peraga
sampai kelelahan di titik sucinya
melamban dan habis
karena mereka memberi lisensi secara perlahan
untuk sebersit niat baru
demi kemenangan perang di depan.
-
Sleman, Maret 2013 

*

Sabtu, 09 Maret 2013

Tarikan Terakhir dari Sebuah Eliminasi

surya di jenjang teratas itu
hanyalah infrastruktur sebuah tatanan.
seperti musik, ia melintas sekejap
selaku penyangga khitah dan kriteria
lalu pergi tanpa tinggalkan kesakralan
di balai-balai harap dan doa-doa.
-
di titik tenggat, ia terhenti
pada satu kombinasi pembatas.
seberkas anasir hambar mengantarnya
masuk ke dalam konstelasi metafora.
didudukkan di atas kursi
dengan suguhan pagelaran penuh aniaya.
-
ia menyaksikan mesin-mesin sakti
berkoar dan mendekat
dari pelataran reruntuhan pasir-pasir kemapanan.
tentakel-tentakelnya terudar.
kulitnya tersentuh oleh serabut-serabut lancang.
merambah temperamen di kandungan
lantas setubuhi ketakutan
‘tuk jadikan sarang kelemahan.
-
kedewasaannya takluk.
urat-urat hayatinya tergetar hingga terbelalak.
tergusur dari keharuman esensi dan kreasi
tanpa sempat bertanya
dan tak tercatat di menu resmi sebagai siapa.
-
ia mengerti
bahwa rohnya ialah titipan Tuhan.
sekadar sempalan pendek tiada makna,
dicocol-cocolkan ke dadu hitam beriskan
untuk diuji dan berjuang
atas nama cinta. tapi ia kalah.
tertendang dari lini upaya
dan kian menciutkan diri dalam diam tak bertepi
di batin ini.
-
Pasuruan dan Sleman, Februari 2013 

*

Teror Mental

debur mimpi-mimpi itu
semestinya terjangkar dan tersekat jauh
dari ufuk kerasionalan;
dimakamkan di sebuah resor tak berpeta
atau dijemur di hadap api mentari
agar lekas binasa. nyatanya,
ia justru sanggup merayap dan bernapas di kesadaran.
bahkan menari-nari di atas meja rias kudusku
pada tekstur waktu tertentu.
-
resonansi lolongnya adalah tur sarkastis.
seakan-akan memapah panik
menuju detik-detik negatif.
terasa sumir, melayang dalam kelebat.
namun senantiasa mencium kerut galah-galah stamina
tatkala tangguhku tumpah
dan berceceran di pantai asing;
serasa membunuh usia, jadi sebatang kara.
-
para penggarong itu meluncur
dari gayung-gayung kenangan.
seperti lahar, mereka adalah menyilaukan.
meledak menjadi pasukan hujan
kemudian mengganas di sekeliling dua mataku
dengan bintik-bintik ngeri
‘tuk berebut mengangkut kenyataan dari harapan.
-
memang, sekelumit hidayah sempat terpahami
di balik huruf-huruf braille kehidupan
saat kerumunan totol-totol sucinya termakna.
tapi, tampaknya tiada kans ‘tuk awali misi baru
di zona gelap ini
meski aku berlama-lama memegang percaya
demi satu titik di sudut prahara.
-
Pasuruan, Februari 2013 

*

Pohon Cinta

pada sepasang cangkir gembur di pekak sang waktu,
kami berusaha menggali ekspresi
untuk sama-sama menyentuh ngarai di dasar itu;
mencetak busa-busa baru ‘tuk dijadikan guna-guna
pada permulaan.
-
lambat laun, bentang pematang pemisah
berangsur terampas oleh alam.
prosesi kasih dari dua kiblat berbeda pun
dapat disatukan. merawatnya sebagai platform nabati
untuk ditempa dan disiram
dengan percak-percik koreografi.
-
saat merayakan bincangan psikologis
dalam keesaan hati di tiap-tiap dermaga itulah
racun tersebut berkunjung perlahan-lahan
dari terompet hitamku.
mereka adalah unit-unit lacur, bak semut amoral.
dengan kapak bermata setan, mereka membuat retakan
pada tatanan dan baiat tertanam.
mengisinya dengan kurikulum penuh iri-emosi,
juga dengan argumentasi penuh caci-benci.
manis pun akhirnya tak lagi tersenyum
dan bergelantung di jari-jari ranting,
namun menjadi reruntuhan busuk
dalam kapar dan hening.
-
tiada satu pun pihak berikan awal
atau benahi gelar milik kami.
mungkin karena kemudi sudah telanjur terpeleset
dan tercopot dari tangkai berahi. mau tak mau,
aku pun segera memadam-rapikan sisa-sisa.
memasukannya ke dalam peti kemas metawicara
lantas membuangnya ke atas bara.
meninggalkan angan-angan nisbah
meski sempat menepi di samping rumah.
-
Sleman, Februari 2013 

*

Senin, 04 Februari 2013

Kecupan Pertama

sebelum kantuk mendulang pelosok tubuh
dengan keleneng-keleneng instan,
selalu saja keringat kecup pertama itu
terasa merundung pusaran kendali.
-
ya, akhir-akhir ini
peristiwa itu kerap mengarsir
molekul-molekul kesabaran.
dalam kias, ia adalah sinden; menyerahkan
sekaligus menyengatkan transisi elektrik
pada satu lingkar laga.
ia seperti pelacur. duduk mendamping
dengan segerbong alfabet di kedua siku sayapnya.
mengemban sebuah tampah di ribaan
sebagai ruang cangkok dan kontrol kata-kata
‘tuk dijadikan pusara.
-
kalau sampai
baskom berisi lamaran makam-makam itu
membusung padaku, maka amputasi pemikiran
dalam satu parameter tertentu
adalah keharusan
agar aku tak melepas landas
meraih kegilaan.
-
Sleman, Januari 2013 

*

Dunia, Bukan Lagi Sebuah Makna Untukku

dalam demam dan datar
di bawah reruntuhan pengorbanan,
jelas kusaksikan pecah dan remang
tercantum di atas nampan.
sejenak lalu, mereka menyerang dengan gedor
dari balik segel perban nisbi. tapi,
kini ayat-ayat pedang itu
telah menusuk, menggeledah,
dan menjajah ruang-ruang cerita.
-
digit pengembaraan ini
seakan-akan jadi tempias harian.
tak ada lari dan tak terawat oleh tradisi.
hanya sanggup bersimpuh tunduk beberapa meter
dari oncor api bertudung darah.
siap terima titah
‘tuk menyambut para pelayat
dari tanah durjana.
-
Sleman, Januari 2013 

*

Segumpal Napas yang Berdarah

ibarat kreasi, lentera tasawuf ini
adalah celurit tak berkatup.
dibentuk dari tutur cerita
ketika kehebohan tuts-tuts kusut sang piano itu
kupanjatkan.
-
sejak instruksi dari dalam akordeon itu menodong,
alat peraga itu kumainkan sejenak
dengan spesifikasi modis
pada bait-bait percakapan kami. kukira,
ada detail idam atau desain riang terperi di sana.
ternyata, hanya ada cekik dan pikul penuh kendala.
mempererat sabuk derita
juga mempercepat tumbuhnya tumbal
di antara alam kami berdua.
-
pada satu linting masa,
turnamen keragaman itu akhirnya terpilih
dan tersembelih oleh dua poros ambisius
dalam dua embara.
puluhan anak-anak napas muncul
dari paru-paru rotan kurusku.
mereka berlari berhamburan
dengan tubuh penuh darah.
mencari pelampung seadanya untuk bertahan
atau sekadar menyingkir
dari kejaran pemburu tak bertuhan.
-
ya, akhir-akhir ini penyakit primitif itu
memang kerap selingkuhi jiwa
sebagai narator tunggal.
entah, apakah perempuan di sana
juga didakwahi oleh psikiater serupa atau tidak.
-
Sleman, Januari 2013 

*