Minggu, 03 Agustus 2014

Malam yang Mengurung Kata-kata

limas kesabaranku akhirnya menajam
setelah sekian lama terkunci
di dalam sajak-sajak emosi.
setrip-setrip puncak berimpitnya
sudah tak lagi membengkak. jadi,
di situlah puisi-puisi santai baru berawal.
-
pada gigil dan bintik kelabu di lalu,
arak-arakan tentang derita selalu datang sebagai tema.
pujian-pujian paradoks dari perutnya senantiasa
menggunting akar-batang-dahan trek perjalanan,
sangkarkan gagasan di bilik-bilik pilu,
dan kerap membikin perdebatan egosentris.
membuat kecerdasan bercetus jadi antagonis
dan bersaing dengan respons-respons kearifan. tapi,
kelemahan tersebut mengalami pengayaan
seiring turunnya wahyu selaku hibah
dari sekretariat ketuhanan.
donasi-donasi itu berdandan lucu
dan dipasang di pohon-pohon penentu.
meloloskan seluruh bencana
hingga cincin semangat ditemukan
lantas diantar ke arah kerukunan. dan kini,
kesembuhanku sepenuhnya ditopang oleh malam.
-
iming-iming untuk tetap menjejali kejujuran
memang sebuah tantangan. namun sejauh kronologi,
fleksibilitas neraca tidak pernah ramah dan senang
‘tuk kenali diri. aku pun belum menegas
terhadap kegagalan kebandelan perfeksionis ini;
apakah meski bersyukur
karena terbaptis oleh hitungan reformasi
atau malah terpukul
lantaran tiada daya mengangkat keindahan beruntunnya
bak sang juara. setidaknya,
paku-paku rantauan dapat kembali dipalu
sehingga kata-kata di kertas-kertas klasiknya
lebih gampang bersuara.
-
Sleman, Juli 2014

*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar