pada tumpukan kerlap-kerlip planet-planet itu
terlampir satu rona: “Mu”.
akulah peletaknya. sewaktu-waktu
dapat sekadar kujenguk dengan cinta.
-
aku memungut janin itu saat ia bertudung sendu.
kami memulainya dalam suka
ketika segalanya adalah opsi untuk berbuah.
perlahan, akar kami saling bercengkerama.
membiarkan umbi-umbinya sungsang dan menari
hingga tumbuh subur di bawah letup berahi.
-
tatkala semuanya tampak muda
kami pun melarut ke alam negosiasi.
membarter beragam dahan dan ranting kualifikasi.
mencoba bertahan di batang keyakinan
bahwa kami mampu menerjang racun
penyebab pertengkaran. tapi, kami ternyata tiada.
lesap ke pelukan takdir dan beringsut
ke liang duka.
-
di gelap itulah aku tahu
bayang-bayang ingin menculik kenanganku.
tak ada hasrat ‘tuk melepas bening
kendati harus melawan segenap jelaga di raga dan jiwa.
namun kusadar, gigih nasib terlalu tegar.
aku berlari, ada hadang di ujung terbang.
aku melayang, ada halang di pangkal kecepatan.
maka, di kepanikan kala itu
aku pun membuang bulir itu ke angkasa,
ke suatu entah tanpa nama singgah.
dan lambat laun aku tertidur
setelah berjuta pikir berdoa
demi selamat dan afiatNya di sudut sana.
-
malam ini, kembali
sinarNya menemani sepi. Ia mengerti
bagaimana merawat dan membelai gelisah
meski harap sudah tandas ditelan arah.
aku hanya sanggup biarkan gamit-gamit ini
bergerak di saban renung. memang perlu,
sekali-kali menantang auroraNya.
setidaknya, dapat tetap ingat
dan menghadiahiNya sari hikmah melalui tafakur
walau mesti dimaki oleh Tuhan
juga para malaikat di setiap dimensi perjumpaan.
-
Sleman, Januari 2014
*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar