Minggu, 02 Februari 2014

… di Kaki Pelangi

komando agar menyisir lantai tanjakan
dan menyabari polah tingkah guncangan
akhirnya tak sia-sia.
perjalanan ke satu jurusan itu telah purna. tapi…
-
di bawah situ ada sesuatu sinar nan ayu.
dalam lambat ia melar dan mengempis,
pun bergeser perlahan ke kiri dan ke kanan
di atas sebuah pualam hitam.
laksana seorang bocah,
daya pikat itu sungguh seperti guna-guna.
hati ini terasa terseret ‘tuk segera menyeruduk.
nyungsep di dekatnya dan tengkurap pada suatu gap.
-
namun, sebelum tindak benar-benar bergelora
tiba-tiba ia terpental ke arahku.
muncul terali dari tubuhnya
lalu secara cepat melendir di kulit dan mata.
mendadak, aku terdiam bak maneken.
-
di bawah kuasa
ciap-ciap berisiknya mulai membasmi kesadaran.
bukan siksaan, tetapi lebih dekat kepada berbagi ciuman.
entah kenapa aku tidak berteriak
atau melakukan rekonsiliasi terhadapnya
seakan-akan ini merupakan inovasi prematur.
-
meski demikian, tantangan itu kubiarkan saja berkonspirasi
karena epik di kantung ruh ini tiada lagi berfungsi.
sudah waktunya haus-getir ini mesti direm.
jadi, kuterima saja
semburat-semburat warna baru ini di belasan titik arteri.
hingga lelap kian mengganda,
hingga gumpal-gumpal nada di palet kalis
berhenti bicara dengan wajahNya.
-
Sleman, Januari 2014

*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar