: Matahari
sejak tragedi itu senyap kerap berkobar.
jiwa berangasan tatkala gemuruh azan meluncur tak tentu menuju ke perkampungan.
indah pekatmu tak segera padam bersama kerlap-kerlip bintang di langit maya.
mungkin itu terlalu sumir, terlampau picing hingga berderit kencang.
-
gemeletuk angin menghibur sukarela.
bulu-bulu roma lecet dan terbang secara takzim
lalu lancip senyummu menanduk dada.
sontak, hati terasa pailit, pun lajur-lajur jalan napas merasa pengap.
tersendat pada bintik-bintik rindu, kian merapuh.
-
berkendara seekor madu.
lambungnya kembung oleh puisi-puisi aromatik
dan berantipati kepada rayuan tak bermakna.
ataukah itu hanya sangkaku saja saat terhenyak?
-
cantikmu sedang masyhur, membuat segala lawan berkeringat darah.
aku mulai meredup, pun gelisahku menyanyikan syair sama.
syair-syair bernuansa protes karena belaianmu menampakkan butarindu.
harapan bubar, dan, suram terbelalak.
menangkis susunan daftar percakapan kita di pengujung.
diri masih membendung putus asa,
mencoba menggumuli bibit cintamu di Jalan Sepanjang.
-
Pasuruan, November 2009
*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar