Rabu, 07 Juni 2017

Menjaring Bulan di Ranjang Pengantin

malam ini tempik sorak terlepas.
mega-mega zaman terlena di birunya pohon-pohon spiritual.
-
di suatu bidang alang-alang ada satu rumah beton.
gelanggang emas tersebut menampung sepasang manten.
-
gender mereka bagian dari akar rumput.
bertautan dalam serikat dan tak canggung melansir simpati.
-
badan bengkok lelakinya ialah aku sedangkan
molek awak wanitanya ialah milikku.
aku tumpah di atas ranjang, namun istriku masih pandangi
kertas-kertas kering berisi enigma-enigma belang.
-
di sarkofagus supernatural ini kuingin menciduk alkamar
ketika kami melaku persepsi.
kulit saling bertukar pandang,
bongkar-pasang gerakan klasik di pusat peraduan.
-
kontur silsilah hendak kami kabulkan.
hierarki cicit dan eyang setidaknya dibetulkan
sebelum ditengok nisan.
-
bila nanti biniku terbaring dan tampak puitis ‘tuk dijinak,
maka binar-binar tempurku akan bangkit.
saraf-saraf berkah menyasar harkat.
-
dua boneka pasti kan berpindah-pindah dan
terpantul-pantul ke kanan dan kiri.
semua pendekatan kan menyatu dan jadi spektrum
di akhir geger mini.
-
kini aku menanti secara girang dan rendah.
berharap ia sambut takhayulku dengan sebait gairah.
-
Pasuruan, Mei 2017

*

Rabu, 03 Mei 2017

Merindu Janur Kuning

         : Aro

pada pramusim peradaban, biografi masih berupa fiksi.
berbaur dengan bibit-bibit lain di rak alaihi salam
berdasarkan plot.
belum beriman dan belum saling sambang.
-
pada suatu orde pluralis, sore terbelah.
sumsum bahagia mengembang lantas terbenam
di lumbung legawa.
satu pria dan satu wanita lakoni kompilasi.
kami memadu, panjangkan lebar dalam sungguh.
-
jejak-remah citra kami ialah presentasi muhibah.
hajat-hajat sejati sepakati deru merdeka.
maka, tak ada eksepsi untuk ditelan.
patah asa dipecah. tolak bala ditunjang.
-
coretan-coretan marga melilit kuat.
meracik lingkaran autentik di garis depan.
dalil-dalil tinggi bertabur.
dokumen-dokumen becus ceritakan konsensus trilateral.
dadu-dadu sesat surut. gang-gang pedas tandas.
kami berkobar, menenteng semarak ke tampah lapang.
-
sinkretisme hilir mudik dan bertubi-tubi goyah
di trek pendek nan pudar.
sekuintal fibrasi tidak cukup menitah tekanan.
jaksa dan patriot menyodor tombak,
sarjana dan pialang membujuk paguyuban.
mendung kian menggalak petir,
kami pun mesti segera mengerek takbir.
-
Pasuruan, April 2017


*

Sabtu, 01 April 2017

Sekeranjang Kecil Tembang Rindu

         : Aro

studio teater ini tumbuh seiring derum kosakata pesertanya.
siapa saja boleh pasang mahakarya atau
sekadar beradu dalih.
ada manipulator kondang, ada pula
tetangga nan pongah dan kejam.
sebagian besar kaya citra, sebagian besar lainnya
leluasa jalani pesugihan.
-
sedangkan kami adalah tubuh-tubuh fakir.
mengapung di tengah lingkaran tekanan dan ancaman.
di baratdaya pun surya mengunggah seriosa kritis.
mantra-mantra sinis naikkan adrenalin.
syiar-syiar asin banjiri arwah kami.
-
padahal, kami hendak melebur nafsu dan
syahwat lunak kami dalam sinkretisme suci.
animasi-animasi saleh kami ingin kami unggah
ke satu prasasti monumental.
sembahkan satu dosis mewah demi
menyulut marga tanpa tara. dan
semua urat-urat rasional mengarah bahagia.
-
meski begitu, kami tetap membentuk meditasi tunggal.
buat tepian-tepian berderet-deret selangit agar
cengir-ulah runcing para tiran tak menghardik
atau memotong mimbar lentik.
cengkok kami masih teracung.
tegap, rapi, dan padat bunyikan ihwal-ihwal ulung.
-
sebab kami sama-sama sarjana muda.
eksponen-eksponen binaan sang maharaja.
tunabaca terhadap populasi dan tiarap
terhadap pialang serta pemonopoli.
kami bertahan seraya tajamkan coretan-coretan renik dan
kerahkan transkrip-transkrip keyakinan.
menunggu gerimis datang supaya menyeret kami
‘tuk tinggalkan kawah bebuyutan.
-
Pasuruan, Maret 2017


*

Jumat, 03 Maret 2017

Cinta Monyet

umur masih mungil, namun euforia bisa amboi.
di atas mimbar tergelar proklamasi.
semua ejaan dan notifikasi dilepas.
kabel-kabel rekreasi membentang,
api identitas dinaikkan.
-
bulan belum lengkap, tapi dalang mampu beri gerhana.
urat-urat energi leluasa batasi proyeksi.
tenggat berlutut, debat merendah.
kubah dan balai hiperbol terus disedia.
gunung wasilah seakan menyasar keluarga.
-
menara kembar menyimak para wujud.
badai-badai berkala diam, tunggu taklimatnya.
kabinet resmi jelajahi asuransi dan motivasi.
tapi nomina tentu harus menambah olah otak
agar turis-turis delusi tak jadi kambing kedaluwarsa.
-
Pasuruan, Februari 2017

*

Kamis, 02 Februari 2017

Kado Terakhir Lelaki Biadab

5
kata seekor semut, dulu para Zabaniah pernah memereteli berhala.
di dalamnya ditemukan jagat dan narasi.
bibit-bibit dosa berceceran di bangku, di sulur,
dan di tebing pirangnya.
mereka dipungut dan segera digugurkan ke kolam mahacahaya.

4
suatu ketika, angin mencuri salah satu cita rasa.
ia jatuh ke satu bakal awak di mana zikir
hanya sebatas lucu-lucuan belaka di sana.
dari kuntum, ia bermetamorfosis menjadi kera kuning.
itulah sebabnya sang satwa seakan-akan berada
pada daftar sebuah mafia. padahal,
ia sudah menikah. ialah suamiku.

3
diplomat, polisi, dan bahkan relawan
sempat memarkir proyektil-proyektil angker
di tajuk sanubariku. kata mereka,
lelakiku punya kuku-kuku hitam penyambut rupiah.
perawakan juragan sawah, namun beda cangkang di lain kota.
gurat noda lantangnya telah ditanak orang-orang kidal.
jadi, tak perlu terkejut jika lakiku kelak ditikam lawan.
meski begitu, kubuang percaya.

2
bagaimana bisa benar stimulusnya
bila lingkar sujud kami masih sebaya?
bagaimana bisa benar wartanya
bila transfusi lelap kami masih sengaja?
dan bagaimana bisa benar lukisannya
bila polarisasi matematis di tubuh kami
masih konstan hadapi dunia?!
ledakan mereka sekadar isapan jempol.

1
film dan teater tentang abang
tiada pernah mengguruiku untuk durhaka.
panorama kampung kami memang kurus dan busuk,
tapi gemercik perselisihan dan lolong pertikaian
cuma secuil polutan pertumbuhan.
singkong kami bertutur merdu.
tahu-tempe di rumah kami pun terjamin mutu.
kendati banyak kesaksian horor,
kado pungkasannya tetap kunanti:
mengukir kata “ayah” ‘tuk sanggar kami.

0
dor!
-
Pasuruan, Januari 2017

*

Minggu, 01 Januari 2017

Perempuan Pesisir dan Rumah Cinta

         kado pernikahan untuknya

sekarang primadona telah tertulis di metropolitan baku.
seperti bayi, ia akan memuji dan menghirup adat moyangnya.
demon-demon liar pun pasti kan tertimbun terangnya lantunan akad.
-
dulu, situasi pernah suarakan traktat.
berawal dari insting dan ilustrasi, sinar-sinar semangat menjawab.
segala seloroh dan kriya mampu mengasah jalinan administrasi.
mengingin dan menebak istal antah-berantah
walau karapan kalkulasi masih limbung dan konyol.
sayangnya, akar-akar diskusi hanya meruncing setengah-setengah.
selat jiran belum runtuh dan hujan barat terlalu gigih memandang.
memorabilia menggelap di panti karantina.
siulan dan gumam kembali jadi sumbang belaka.
-
pada salah satu pori-pori rekonsiliasi, ada gurat muluk menatap.
iktikad mereka tertegas pada selembar beton sebuah reca.
suatu aklimatisasi akan didalami secara optimal.
anak-anak amerta kelak terungkap lewat sendangnya.
begitu pula dengan telur-larva gana-gini.
beronjong-beronjong kosmis sudah dikembarakan,
saatnya menggagas harapan untuk secangkir otonomi.
-
Pasuruan, Desember 2016

*

Minggu, 04 Desember 2016

Dipertemukan dalam Darah

aku selalu bingung terhadap bulan
mengapa ia menderai ayat-ayat cantiknya
untuk kagumi riwayat kami. semestinya
ia hanya jadi cakra universal di balik pagi
dan pelipur gamang dan berang ‘tuk para ikan-ikan.
-
saat masih bocah, ia pernah berbisik
saat aku gembur di masa-masa terbuka.
tak cuma satu-dua jejak belaka.
bercerita perihal banyak fatamorgana, tapi
ia punya fail spesial di mana lantunannya mengalami duplikasi.
kutenangkan zuhud, namun mustahil mendapat redup.
amplitudo kian memanas.
seismograf mengetik kenangan pada lempeng pedoman.
aku terbenam dan terjun ke lambung pengendapan.
-
sejak monoteisme itu muncul dan terus merayu,
perlahan-lahan kuping dan hidungku mampu
menerawang suatu kepantasan.
segala pragerak-praungkap sang putri
sanggup kucatat dan simpan dengan mudah.
tiada politik maupun kisruh di sana kecuali
federasi pemasok hormat antarmanusia.
kami dipenuhi beda, tetapi lekas pulih karena rasa.
-
aku sebenarnya tidak percaya jika simbiosis tersebut
ternyata bukanlah asumsi datar atau sempit.
organ-organ parsial kami telah terkendali.
menyala di dalam akuarium despotis
seiring naik-turunnya akidah dan budi pekerti.
kami adalah contoh bahwa sekar bisa dipupuk
sebelum pancaindera membangun manggala.
dan kami pun siap dibingkai jenazah
sekaligus menjadi objek taksidermi di hutan multiarah.
-
Pasuruan, November 2016

*

Kamis, 10 November 2016

Kasta

telah lama mudaku jongkok dengan artikulasi bergelombang.
alfabet dan ejaan terbaring baku seperti
tersuruh bungkuk di antara lengking-lengking bengawan.
apakah islah sedang dikotomi?
-
segala dekorasi verbal sia-sia.
bungker-bungker fantasi terperas sempurna.
pagar dan tembok bagai kelambu,
rahasia nisbi tersunggi kembali di sekaratnya lajang.
apakah getah fikih gemar memburu bakat seniman?
-
biksu-biksu itu berpikir bahwa letak warna
ada di generalisasi semata.
tuyul-tuyul gimbal di sana jua berukur bahwa
biji-biji pertobatan tidak bisa dihadirkan di rawa kebebasan.
khazanah kemulian bukan untuk kaum fantastis belaka,
namun para kurcaci, serangga, dan sampah pula.
lihatlah! gadisku hambur, biniku tenggelam.
ditanggul kriteria sekencang-kencangnya,
disekat kebangsaan segarang-garangnya.
-
siangku kini di selatan.
melebar dan mengudara bersama elegi kekanak-kanakan.
alih-alih memadatkan perwira,
dasamorseku tak teduh di zona gelora.
bak badut bujang, gitar pun enggan menukil satu seriosa.
-
Pasuruan, Oktober 2016

*

Minggu, 02 Oktober 2016

Buku Takdir

kalimat-kalimat sastra terdorong lewati tangga.
foto-foto riwayat juga bergerak romantis.
bahasa hangat berderai di kabin-kabin liat.
kudusnya membingkai harkat.
-
simpangan diameter sudah maklum.
perimeter interaktif telah progresif.
rambu dan syarat kekalkan bunyi,
pualam ungu menjaga syahadat aji.
-
baku pandang menulis dian, gelar suara menenun lilin.
menggapai perigi, menempuh safari.
-
partikel-partikel lada pernah mendonor temaram.
debu-debu tengik pun turut membadai.
namun genting dapat kering dan hitam-hitam
bisa menumpul di pesisir.
azan membela benar selama otak tak lupa melangkah.
syukur disebut, perang dipulang.
-
nebula kebanggaan terbaca.
alfabet-alfabet apiknya tuturkan epilog.
dua cula tersimpul dan diarsir kain cerah.
bisiki manusia tentang bumi kami
di tempat jelata.
-
Pasuruan, September 2016

*