Minggu, 04 Desember 2016

Dipertemukan dalam Darah

aku selalu bingung terhadap bulan
mengapa ia menderai ayat-ayat cantiknya
untuk kagumi riwayat kami. semestinya
ia hanya jadi cakra universal di balik pagi
dan pelipur gamang dan berang ‘tuk para ikan-ikan.
-
saat masih bocah, ia pernah berbisik
saat aku gembur di masa-masa terbuka.
tak cuma satu-dua jejak belaka.
bercerita perihal banyak fatamorgana, tapi
ia punya fail spesial di mana lantunannya mengalami duplikasi.
kutenangkan zuhud, namun mustahil mendapat redup.
amplitudo kian memanas.
seismograf mengetik kenangan pada lempeng pedoman.
aku terbenam dan terjun ke lambung pengendapan.
-
sejak monoteisme itu muncul dan terus merayu,
perlahan-lahan kuping dan hidungku mampu
menerawang suatu kepantasan.
segala pragerak-praungkap sang putri
sanggup kucatat dan simpan dengan mudah.
tiada politik maupun kisruh di sana kecuali
federasi pemasok hormat antarmanusia.
kami dipenuhi beda, tetapi lekas pulih karena rasa.
-
aku sebenarnya tidak percaya jika simbiosis tersebut
ternyata bukanlah asumsi datar atau sempit.
organ-organ parsial kami telah terkendali.
menyala di dalam akuarium despotis
seiring naik-turunnya akidah dan budi pekerti.
kami adalah contoh bahwa sekar bisa dipupuk
sebelum pancaindera membangun manggala.
dan kami pun siap dibingkai jenazah
sekaligus menjadi objek taksidermi di hutan multiarah.
-
Pasuruan, November 2016

*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar