Senin, 08 Maret 2021

Resah Pisah

Pantai Parangkusumo masih malu-malu mengekspos
derit-derit matahari ketika November nyala.
pintu-pintu kunjungan mengalir seiring terangnya
bait-bait pepohonan. sepadan nelayan.
.
seorang pandit membiru di Candi Boko sembari
memandang takdir geografis miliknya.
lekuk-lekuk riwayat tampak lebam. berupaya
membuka ventilasi wali, siap kobar diskresi.
.
primata perkasa itu mendapat Kejora di salah satu tugu Semeru.
pelayarannya menuntun kepada panorama. anak asuh kesepian.
menyulut bivak sambil mengada-ada. jongos ziarah.
.
biji pertemuan keduanya terbuka saat
secercah atmosfer personifikasi mengkristal.
pemuja dan perawat buru jeli, pemandu dan pengamat atur hangat.
keragaman mereka mematok kaidah.
gesekan penasaran dan pergumulan menyibak blantika pelayanan.
namun, parasit berdatangan.
.
lingkaran setan tepuk budi. juru paksa culik wahyunya.
merendam putri di mahligai seram. berduyun-duyun munajat
terapung di lambung tempo. lama-kelamaan Juli menangkap
kemudian menerjemahkan ke dalam suku kata.
matador kumal mengulas hampa,
kayuh kesenjangan dan kunyah aleksia.
.
di belakang trembesi ia kumandangkan hajat dan tirakat.
weton dan primbon menjuntai, tunggalkan kulminasi
di rubanah muamalah. laknatnya berkibar, keluh kesahnya
menyayat not-not kukila. kiprah berbahaya.
.
tarikh mengukir windu sejak kebayanya terlontar.
molekul-molekul eksakta tercerai-berai, tapi iktikaf melukis laskar.
satwa-satwa sukarelawan bersiap-siap menayang repatriasi.
otot jadi bayonet, tulang jadi tombak.
tonggak tantangan diganda.
.
esok ufuk basah akan simak bagaimana
panglima darat dan laksamana laut ini
kan mati-matian menembus markas durjana.
adinda butuh suaka, gelanggang maut lapang di dada.
.
Pasuruan, Februari 2021

*

Rabu, 10 Februari 2021

Hati Batu

nun…
tatkala Tuhan menumpahkan jarak, Dia bertutur
di setiap kuping ternak-ternaknya bahwa
sayembara autentik akan terbentang:
sumsum pria-wanita pasti saling menjajal kepatuhan.
.
aku melek bumi ketika pohon kurma perdana
mengacungkan sunyi ke langit dini.
tiada susu, bubur, dan kasih. alam embuskan perang
hingga ingatan tidak lagi merebus dengki dan menanak dendam.
.
aku mengenal dan memikir perkara genit
kala Jumat pertama disuntikkan ke palka dirgantara.
ia bak angin segar di gigir badai. belakangan
tetes-tetes petang selalu menggenangi jeda-jeda malam
di mana kelelawar bertukar berita.
sepenggal kabut belia memapah interaksi.
.
aku membaca bayang-bayangmu saat jam zaman
menginjak pukul purbakala. kasmaran mengejang.
tabung-tabung kepribadian lupa daratan.
sejak anasir lezat beredar di babak-babak ruang dan waktu,
drama terhormat ini mulai membingkai tenaga dan lelah.
.
saban momentum, kubaca jejak telapak tangan dan kaki
di sela-sela gravitasi. bahkan 1083 Masehi di Medan Kurusetra
kutegakkan kebaktian mulia. semua hewan piaraan dari tanah leluhur
diarak demi sebuah suara. namun, luput kembali melanda.
.
di panggung Bali tema-tema dakwahmu terpasang di pintu-pintu paria.
kutekuni interpretasi kenes itu sungguh-sungguh.
bergulung-gulung bahan dibahas, bersungut-sungut pundak
pada saban destinasi. kau tak terjangkau.
.
rayuan betina liar bebaskan jubah kesementaraan.
ilmu hitam letupkan tarung batin di kendil telanjang.
gonggongan kucing lucu-lucu banjiri relung lamunan.
segala kekisruhan takkan bisa pupuskan referensi.
.
kendati angka-angka merah nodai jatuh tempo,
kincir memoar dan roda safari masih cerah dan gagah perkasa.
siang setia terhadap matahari, begitu pula nasi terhadap padi.
mausoleum memang terbaring, tapi sinden belum tunduk kepada gending.
maka aku tetap maju sampai bulan sirna ditelan sangkakala.
.
Pasuruan, Januari 2021
 
*

Minggu, 06 Desember 2020

Membaca Laut

dari dusun serbasederhana, aku turis.
menggagas pandang pertama pada populasi air dalam-dalam.
data masa lalu hanya memanen lembar-lembar rumah dan tanah.
.
tiga pekan belakang, sekeping sinyal menyembah saat
aku terbaring di orkestra di Rusia.
ia memutar musik filantropi.
atensi dan reaksi menggapai dada.
adat silsilahku redup dan menganga.
.
sejak teori gemblak menyihir, sir melaut lantang didayung.
.
maka aku di sini, mengambang untuk penuhi intuisi.
hingga paseban kekaisaran memetikku,
dirayu selendang-selendang segar nan subur.
.
aku memeluk puja dan puji tatkala
Ratu Pantai Selatan menyentuh auratku.
kucium lesung pipinya, ia memintal senyum, lantas dijemput kusir.
seorang sinden menyingkap lambaian.
sebelum terbenam, sesegera mungkin kujahit sajak ini.
.
jika kekasih memapah madu, ajal pun lumrah menebus waktu.
.
Pasuruan, November 2020
 
*

Kamis, 08 Oktober 2020

Saling Peluk di Kubur

aku masih bicara kepada cermin dan
memasang kemenyan di depan senyum abadimu
tatkala gelap kian mencekik biji-biji proletar.
sikapku terengah-engah dan tingkahku wajar-wajar saja.
tiada insting jika diamku nanti takkan pernah siuman lagi.
.
di dalam tempurung misterius,
kujelajahi jalan-jalan rahasia, buram dan memanjang.
sendirian. kupikir ini destinasi palsu suatu poros sebuah bidang.
tak ada santriwati, peragawati, maupun dewi-dewi.
bagai benturan peradaban sedang kobarkan silaturahmi.
.
ketika ikatan anonim tersebut kolaps, aku
hadir dan menyaksikan defile ratapan menderu di ruang tamu.
strata-strata kaku bercampur di mangkuk meritokrasi.
satu kolase klasik di mana sekat-sekat predikat
mengalami katastrofe kerukunan.
mengangkut rahimku ke tampah kebudayaan.
.
aku pamit dari membesut naga-naga.
derajatku hayati ahimsa saat mereka menghiburku di gapura.
air kitab sastra ditabur lalu si sulung mengunggah api di podium.
para pengamat mulai menyebut-nyebut nama, padahal aku
telah mengakrabi permaisuri di bawah pura.
.
Pasuruan, September 2020

Kamis, 10 September 2020

Menerjemahkan Kenangan

paman merenung. berteduh di bawah pohon ungu.
bulan madu memandangnya.
.
dulu ia ingat ketika bunga-bunga menyapa.
mengajukan nama-nama dan paras mekar.
cikal-bakal maklumat perihal maksud.
.
salah satu lengan diva menunjuk paman, tapi tak diindahkan.
lebih mengejar sesajen demi langgengkan kesaktian.
.
ribuan tahun hidup menjaka. tak kenal tetangga,
bermukim tunggal di gua selatan. sampai suatu kali
fajar bercerita perihal dedaunan tatkala petaka
membakar dusun-dusun dan menculik kilau-kilau.
.
dedemit berlidah api menangkapnya.
menggotong hingga ke kebun Kurawa di Andalusia.
seluruh organ dimutilasi, dikirim ke tajamnya kuku bayi-bayi.
.
ada sesal dan haru di lubang persepsi paman. berkepanjangan,
menyita semua diplomasi dan kompromi.
.
bobot trauma memburu. kawah beracun terbentuk.
eutanasia menjawab tantangan.
.
Surabaya, Agustus 2020

*

Kamis, 06 Agustus 2020

Ngluruk Tanpo Bolo, Menang Tanpo Ngasorake

di antara petenun stroberi dan tanaknya halimun pagi,
peri berinsang melukis pandangan.
ayam-ayam menyambut manja.
batu dan tanah terbaring dan mendoa. lalu Tuan kepincut,
ingin mengekalkan gula-gula gesit sebagai ratu.
.
seumur hidup perut Tuan sudah menyerap gelak tawa
dari ribuan kalbu anak-anak muda di lereng Gunung Bromo.
gubuk-gubuk karawitan memudar.
sakramen kampung-kampung pun keder
lantaran geraham durjana menghapus kearifan.
maka budak-budak hak asasi pun mengungkap deklarasi.
.
dengan turangga adiluhung, aku sejiwa dalam jelata.
senandika tabula rasa kulontar, gaungkan sabda-sabda akidah.
pada titik temu, tulang-belulang para pelayan melepuh.
topan dan gempa sepakat mementaskan konfigurasi mahasengit.
berandal-berandal bahlul berhamburan.
pusaka-pusaka buas terguling dan tengkurap di mimbar pembauran.
riwayat seorang majikan beranjak mendiang.
.
senyum prameswari di ranjangku, namun kurikulum adib
tak menyokongku untuk meledekmu.
.
Pasuruan, Juli 2020

*

Senin, 06 Juli 2020

Hujan Bertandang Semalaman

kakek kecil menyimak kanopi bumi. diam
menyelami gradasi janggal pada melodi emas.
sabda beduk mudik telah menembus kosmologi, tapi
ia masih berdiri.
hujan bertandang semalaman…
.
lampu-lampu Februari dikubur kasa-kasa hitam.
dingin memingit cita rasa dan ia
tak merangkul boneka. ayahnya sudah lama tenang
di punden suatu ngarai, namun
jerit aba-abanya terculik memorabilia ketika
nafsu lawamah mereka saling menaikkan pitam.
semalaman hujan bertandang…
.
tudung Ahad bergulung-gulung membelah Eropa.
Kartini-nya menuju salah satu sarang koloni di sana
puluhan paceklik silam.
informan, opini, maupun jajak pendapatnya tidak pernah khatam
mereguk sebuah kata sandi:
apakah tangan-kaki srikandinya kian mengentalkan duka
atau ia malah membina sanggar rumahan.
hujan semalaman bertandang…
.
di Manado, gerak-gerik para balerina dijepit kolom semidewa.
kurs teknologi tiada berbanding dengan daya tahan
DNA tuanya. beban sayatannya basah oleh ingus
dari pongahnya cuaca. katalog tauhid berjatuhan dan
ia memenggal leher Tuhan seiring tujuh bunga api.
hujan bertandang semalaman…
.
Pasuruan, Juni 2020

*

Senin, 01 Juni 2020

Jugun Ianfu


ingar bingar heroisme menggunung,
memanjang seiring auman garda bangsa.
ruam-ruam pipih mengakar.
.
di celah-celah balai di suatu mandala,
berjubel primadona manis.
para tamu tua-muda putar otak
untuk mencapai kehendak.
rekayasa sosial.
.
mulut dilucut dan langkah dihadang.
lalu laga pasangan belang tertulis
sebagai skandal rahasia.
agama dibakar di pojok-pojok komplotan.
.
tinta dituang di buku catatan di kayangan.
terukir amal kotor seorang bandit
tanpa bisa menjernihkan coretan pada seorang kawula
di loteng atmanya.
.
Pasuruan, Mei 2020

*

Selasa, 05 Mei 2020

Calon Pengantin


liturgi fetisisme kepada puspa pusaka kaupetik dari mitologi kawakan.
almanak dan astrologi di dalamnya menayangkan seabrek siluet.
terminal-terminal subtil meminta sopannya niat.
ulurkan fokus dan tepa salira di laut dan udara.
.
selaku mahasiswa madrasah, sejatinya dirimu memanjat pelajaran.
pretelilah buntalan-buntalan keimanan
di antara semak belukar perpustakaan.
tahlil dan dalil merpati di tenda-tenda kuliah jauh lebih baik
dibanding komat-kamit babi saat mengenang renyahnya susu suargaloka.
.
opera dijabar, gelombang energi warnai tanah-tanah hitam.
sudah waktunya anda menyeruak dan berkibar.
bersemayamlah di kapel Borobudur sampai konstruksi rahim muslimmu
menampilkan ringkik dan kokok ibu Bali.
apa perlu menyalakan musik biru demi menebus lolong sepi?
.
sakratulmaut turut berseliweran. menggurat rida maupun tanpa.
menghias iradat dengan pose-pose cabul.
juga mendadak mampu meradang dan mengejutkan tuan.
jam tak pernah mengingatkan basahnya makam.
dia hanya diutus untuk merambah awan-awan.
.
Pasuruan, April 2020


*