Pantai
Parangkusumo masih malu-malu mengekspos
derit-derit matahari ketika November
nyala.
pintu-pintu kunjungan mengalir seiring terangnya
bait-bait pepohonan.
sepadan nelayan.
.
seorang pandit membiru di Candi Boko sembari
memandang
takdir geografis miliknya.
lekuk-lekuk riwayat tampak lebam. berupaya
membuka
ventilasi wali, siap kobar diskresi.
.
primata perkasa itu mendapat Kejora di
salah satu tugu Semeru.
pelayarannya menuntun kepada panorama. anak asuh
kesepian.
menyulut bivak sambil mengada-ada. jongos ziarah.
.
biji pertemuan
keduanya terbuka saat
secercah atmosfer personifikasi mengkristal.
pemuja dan
perawat buru jeli, pemandu dan pengamat atur hangat.
keragaman mereka mematok
kaidah.
gesekan penasaran dan pergumulan menyibak blantika pelayanan.
namun,
parasit berdatangan.
.
lingkaran setan tepuk budi. juru paksa culik wahyunya.
merendam putri di mahligai seram. berduyun-duyun munajat
terapung di lambung
tempo. lama-kelamaan Juli menangkap
kemudian menerjemahkan ke dalam suku kata.
matador kumal mengulas hampa,
kayuh kesenjangan dan kunyah aleksia.
.
di
belakang trembesi ia kumandangkan hajat dan tirakat.
weton dan primbon
menjuntai, tunggalkan kulminasi
di rubanah muamalah. laknatnya berkibar, keluh
kesahnya
menyayat not-not kukila. kiprah berbahaya.
.
tarikh mengukir windu
sejak kebayanya terlontar.
molekul-molekul eksakta tercerai-berai, tapi iktikaf
melukis laskar.
satwa-satwa sukarelawan bersiap-siap menayang repatriasi.
otot
jadi bayonet, tulang jadi tombak.
tonggak tantangan diganda.
.
esok ufuk basah
akan simak bagaimana
panglima darat dan laksamana laut ini
kan mati-matian menembus markas durjana.
adinda butuh suaka, gelanggang maut lapang di dada.
.
Pasuruan, Februari 2021
*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar