Sabtu, 02 Juli 2016

Justin Kristanto

sebenarnya, Justin Kristanto punya mental dan kecerdasan di atas rata-rata temannya. ia spesial di mata dan hati para guru. sebagai laki-laki keturunan Cina di Kota Kraksaan, ia sama sekali tidak mendapat jamahan rasis di lingkungan SMA.

perawakannya biasa: kurus, tinggi, dan pembedanya adalah kacamata. ia murah senyum kepada semua orang. setiap hari ia diantar ke sekolah dengan mobil CR-V hitam oleh seorang sopir. kadang-kadang anjing Siberian Husky ikut mengantar ke sekolah. teman-temannya hanya suka melihat anjing itu ketika turun untuk berpisah dengan Justin jika kebetulan mereka berada dekat di sana. mereka tidak berani mendekat atau malah mengelusnya.

beberapa kali, Justin juga terlihat keluar dari mobilnya bersama Fransisca. dulu, kali pertama mereka keluar bersama dari mobil itu, beberapa teman mereka melihatnya sebagai saksi. sejak saat itu terjadi kesepakatan tak tertulis antara Justin, Fransisca, dan juga teman-teman mereka bahwa Justin milik Fransisca dan Fransisca milik Justin. tidak ada satu pun omongan atau pergerakan di luar mereka berdua untuk mengganggu hubungan itu. mereka semua telah menetapkan teritorialnya untuk tidak masuk ke teritorial milik Justin dan Fransisca. persamaan mereka ialah sama-sama keturunan Cina dan beragama Katolik sehingga batas teritorial mereka benar-benar kental.

untuk ukuran perempuan keturunan Cina, Fransisca termasuk remaji cantik. semua kawan betah memandangi wajah dan kelak-kelok tubuhnya saat diam atau berjalan. ia punya adab dan dapat menempatkan dirinya dengan baik dan benar sebagai Cina dan Katolik di antara teman-teman Jawa dan Islamnya, juga para guru. sesekali ia terlihat bersama Justin di kantin atau di perpustakaan, namun ia juga dapat bergaul dengan teman-teman lain secara terbuka. gaya berpakaiannya sederhana dan ia juga dapat “menggila” saat bercanda dengan teman-teman perempuan kelasnya. ia duduk di kelas 10 sedangkan Justin berada di kelas 12.

tak seorang pun tahu bagaimana Justin dan Fransisca dapat membuat teritorial mereka. di luar sana, mungkin saja ada keluarga atau kenalan mereka sebagai mediator untuk mempertemukan Justin dan Fransisca. entah bagaimana jalannya tiba-tiba saja mereka sudah terlihat lekat setelah pekan ketiga tahun baru ajaran sekolah dengan ditandai kebersamaan mereka berangkat ke sekolah dengan mobil Justin. tentu ada beberapa kasak-kusuk tak berdasar untuk menyimpulkan awal hubungan mereka, namun tak satu pun dari asumsi itu mendapat kepastian.

jika Justin ditanya, maka ia mengata bahwa Fransisca hanyalah teman biasa. kedekatan mereka memang hanya disebabkan oleh kesamaan ras dan pilihan religi. ia tidak menampik bahwa kesamaan itu membuatnya sedikit lebih nyaman daripada teman-teman lain. bila Fransisca ditanya, maka ia menjawab bahwa kedekatan itu merupakan proses alami seperti ia dekat dengan teman-teman lain. dalihnya tentu menimbulkan kecurigaan, namun teman-temannya tidak sampai mengejar penjelasan itu lebih detail.

***

tiga bulan berlalu. para siswa kelas 10 sudah tampak kerasan dan mengetahui seluk-beluk lingkungan dan kegiatan sekolah. juga, mereka dapat akrab dengan teman-teman baru. keceriaan datang silih berganti kepada mereka di lingkungan sekolah. untuk kelas 12, mereka mulai berpikir untuk menghadapi Ujian Nasional pada semester depan. sedikit tegang, mungkin iya. namun, mereka mencoba untuk menyantaikannya agar tak jadi gila.

pagi itu, segalanya terasa normal untuk hari bersekolah. Justin turun dari mobil dengan perasaan tenang. tapi, tidak ada raut kesenangan saat berpamitan dengan sang sopir. ia berjalan biasa dan tidak antusias untuk melihat situasi di sekitarnya. sebelum masuk kelas, ia dihadang beberapa orang remaji. teman-teman Fransisca bertanya perihal ketidakhadiran Fransisca beberapa hari belakangan. tidak ada surat keterangan apa pun datang ke sekolah untuk mengidentifikasi keberadaan atau kondisinya. kabar juga tak berbalas melalui pesan pendek dan juga media sosial. mereka berasumsi bahwa remaja di depan mereka tahu perihal Fransisca, namun Justin hanya menatap teman-teman itu dengan nanar semata. tanpa jawaban, ia langsung masuk ke kelas dan membuat bingung remaji-remaji di belakangnya.

di dalam kelas, Justin segera duduk. keriuhan teman-temannya di sekitar tidak membuatnya terganggu dan juga tidak membuatnya beranjak untuk turut. ia merenungkan sesuatu secara mendalam. banyak pertimbangan ia munculkan dan satu per satu menghilang lantaran sudah ia tentukan. satu pekan telah ia lewati dengan perasaan hambar untuk menatap dunia. tapi hari itu, kehambarannya malah menjadi-jadi. ia tak lagi bersemangat dan malah apatis untuk jalani hari. ia merasa yakin terhadap kemampuannya dan ia punya hak untuk membuat takdir pribadi.

bel berteriak tiga kali, menandakan siswa-siswi mesti masuk ke kelas. satu per satu siswa-siswa duduk di kursinya. teman semeja Justin beberapa hari belakangan mencoba untuk bertanya dan menghiburnya lantaran ia tahu bahwa teman semejanya itu sedang mendapat masalah. kali ini, ia tetap berusaha untuk berkomunikasi dengan Justin kendati hasilnya tidak ada. setidaknya, ia ingin menunjukkan bahwa ia siap untuk berempati bila ada keterangan darinya.

hari itu ialah Selasa. jantung Justin kian berdebar-debar, tapi tubuhnya tetap seperti biasa: tenang. tanpa cucuran keringat, ia menanti. ia sedang bersiap untuk pergi dari kursi dan mejanya. ia hanya menunggu momen terbaik di mana segalanya akan menjadi lancar sesuai rencana. dari luar datanglah seorang laki-laki guru. ia berjalan santai melewati papan tulis sambil tersenyum kepada siswa-siswi lalu meletakkan tas jinjingnya di meja guru.

suasana kelas beranjak hening ketika siswa-siswi tahu kedatangan guru mereka. guru itu masih berdiri dan memerintahkan siswa pemimpin doa untuk membimbing siswa-siswi di kelas itu untuk berdoa menurut kepercayaan masing-masing. kesunyian momen untuk doa sejenak dilakukan hingga selesai kemudian guru itu duduk di kursinya, di pojok di seberang pintu masuk. melalui wajahnya, dapat diketahui bahwa guru itu sudah agak berumur. kira-kira 50-an. banyak rambutnya sudah dan mulai memutih. ia mengeluarkan kacamata dari saku-depan-kanan kemejanya lalu mengeluarkan buku-buku dari dalam tas.

para siswa serentak mengeluarkan buku-buku tentang pelajaran Fisika tanpa dikomando. mereka juga menyiapkan peralatan tulis di atas meja. seorang siswa tidak melakukan hal itu. tidak ada apa-apa di atas meja Justin. ia hanya diam, agak tertunduk, dan sedang mengerutkan dahi. teman semejanya melihat Justin sedang bermasalah sehingga secara spontan ia berkata bahwa sebaiknya Justin pulang jika dalam keadaan tidak baik. kali ini Justin mendengar sang teman. kerut di dahinya hilang. ia menatap temannya lalu tersenyum. teman Justin lega melihat ekspresi itu. ia merasa bahwa usahanya selama ini telah berhasil. Justin hanya mengucap terima kasih.

sang teman melihat Justin mengambil tas lalu pergi dari sampingnya. kolom duduk mereka tegak lurus dengan meja sang guru sehingga Justin hanya perlu berjalan ke depan. dengan tas dijinjing di tangan kiri, ia menghampiri sang guru. banyak dari siswa-siswi di kelas itu melihatnya. pikiran mereka saat itu masih kosong dan bertanya-tanya sedangkan teman semeja Justin tahu bahwa lelaki itu akan meminta izin untuk tidak ikut pelajaran.

sekitar dua meter jarak antara sang guru dan Justin. tangan kanan Justin merogoh sesuatu ke dalam tas – lantaran tas itu ternyata terbuka – dan sang guru baru sadar ada siswa di depannya. saat ia melihat ke depan – setelah tadi menunduk agak dalam untuk melihat sebuah bacaan – ia hanya melihat sekilas cahaya dan mendengar seentak suara lantas ia tidak sadar diri. banyak dari teman-teman Justin menjerit sekeras-kerasnya setelah kilasan cahaya dan entakan suara pertama. sekitar lima detik kemudian kilasan cahaya dan entakan suara terjadi lagi dua kali. jeritan lain terjadi kembali dan beberapa siswa-siswi berlari keluar kelas. saat itu sedang terjadi, Justin kembali mencipta kilasan dan entakan itu sebanyak tiga kali.

kedua mata teman semeja Justin terbuka lebar melihat temannya memegang revolver dengan moncong menghadap sang guru. peristiwa itu membuatnya benar-benar kaget. dengan gugup ia berdiri dan mendekat. ia menyaksikan guru itu terjengkang ke belakang dari kursi. kepala, dada, dan bagian kelamin guru itu berdarah. pemandangan itu amat mengerikan. ia dan Justin saling pandang di antara teriakan dan tangisan para siswi sampai satu per satu guru lain datang ke kelas itu untuk menguasai keadaan.

***

siang itu Justin duduk di salah satu ruang di kantor polisi. melalui pintu kaca ia dapat melihat orang-orang berlalu-lalang di depan pintu tersebut. di depannya ada sebuah meja kayu besar dan memanjang menjauhinya. beberapa monitor komputer tipis dan tumpukan berkas-berkas tertata rapi di atas meja. ia memikir lagi kejadian pagi tadi di mana tidak sampai satu jam mobil ambulans dan beberapa mobil polisi datang ke sekolah. semuanya serba cepat dan ia masih ingat wajah-wajah teman dan gurunya ketika ia dibawa masuk ke salah satu mobil polisi. di kantor polisi ia berganti pakaian untuk memakai baju dan celana pendek khusus tahanan lalu mendekam di sel khusus. di sana ia merenungkan masa depan.

seseorang masuk ke ruang tersebut, membuyarkan lamunan Justin seketika. seorang laki-laki gundul, tidak berkumis tapi berjenggot lebat, tampak masih muda, berkaus putih tanpa tulisan dan gambar apa-apa, dan bercelana kargo langsung duduk di hadapan Justin setelah tersenyum menyapanya. sebuah map agak tebal di tangan kirinya tadi diletakkan di depannya dan dibuka-buka. di bagian kanannya – di atas meja – ada sebuah monitor. sesekali ia melihat-lihat monitor tersebut sambil menggunakan mouse dan keyboard. lalu, ia memulai dan Justin pun menjawab semuanya secara tenang.

Justin menyatakan bahwa ia menyukai Fransisca, tapi Fransisca tidak menganggapnya sebagai kekasih kendati Fransisca sendiri menyatakan bahwa ia nyaman berada di sisi Justin. mereka sudah kenal sejak lama, namun Justin baru mengungkap cinta saat baru tahu bahwa Fransisca satu sekolah dengannya. ia mengungkap cinta itu di sebuah gereja di mana mereka selalu bertemu bersama. tapi tentu, Justin mengungkap hal itu tatkala situasi sedang berpihak kepadanya.

ibu Justin dan ibu Fransisca adalah teman karib. mereka bertemu di gereja itu jauh sebelum mereka menikah. setelah menikah, mereka kerap mengajak keluarga kecil mereka untuk berdoa di sana sehingga Justin dan Fransisca saling kenal. setelah dewasa pun mereka sering bertemu meski tanpa didampingi kedua orang tua mereka. cinta Justin kepada Fransisca tumbuh sejak SMP, tapi itu hanya lintasan hati meski berkali-kali. sekolah mereka tidak sama dan mereka hanya saling menyapa ringan di gereja saat bertatapan aura. doa Justin selama dua tahun akhirnya terkabul ketika ia meminta Tuhan agar Fransisca didatangkan di SMA. hatinya sangat gembira dan ia tidak ingin melewatkan kesempatan untuk mengikatnya.

pekan lalu pada Selasa malam, Justin pergi ke rumah Fransisca untuk bertandang seperti biasa sebagai kunjungan ramah tamah tanpa janji terlebih dulu. ia berkunjung sendiri dengan harapan dapat bicara berdua dengan Fransisca. sayangnya, ia tidak jadi masuk ke rumah itu ketika ada mobil terparkir di depan rumah. mobil Avanza itu berwarna hitam dan berkaca hitam pekat. Justin diam agak jauh pada satu jarak dengan harapan tamu itu dapat segera pergi sehingga ia menjadi tamu berikutnya. sayangnya, itu tidak terjadi. seorang perempuan – Justin sangat mengenalnya – keluar dengan guru mata pelajaran Fisikanya. perempuan itu menggelayut manja di tangan kanan sang guru. hal itu membuat Justin sangat terguncang. perempuan itu mengunci pintu depan dan juga mengunci pagar. setelah itu, mereka berdua masuk ke mobil dan guru itu mengambil tempat kemudi. Justin tidak dapat melihat aktivitas mereka. ia coba menghubungi seseorang lewat telepon genggam dan seseorang itu menutur bahwa ia tidak ada di rumah. ia juga mengata bahwa hanya ada perempuan tersebut di rumah itu. setelah mematikan panggilan di telepon genggam, hati Justin tambah tidak keruan. tanpa pikir panjang lantaran berniat untuk melindungi atau setidaknya ingin mengetahui, maka ia membuntut mobil itu dengan motor CBR modifikasi miliknya.

jiwa kesatrianya tumbuh. ia berpikir buruk dengan membayangkan banyak adegan sepanjang penguntitan itu. mobil itu masuk ke sebuah kampung di pinggiran kota dan berhenti di sebuah rumah makan lesehan. karena tidak ingin ditemukan, Justin memilih tempat parkir agak jauh dari mereka. perempuan itu keluar lalu menyambut sang guru dengan kembali bergelayutan genit di tangannya. Justin kehilangan akal menyaksikan adegan itu. perempuan itu tersenyum-senyum kepada sang guru dan tampak menikmati berkobarnya gairah.

di dalam, mereka menempati salah satu ruang lesehan. kondisi rumah makan sedang sepi dan mereka memilih tempat agak terpencil. Justin duduk jauh dari mereka, tapi kedua matanya dapat melihat jelas ke arah mereka. perempuan itu sesekali memegang lembut wajah sang guru dan menciumi pipinya. sang guru juga tidak sungkan untuk menciumi pipi dan bibir sang perempuan. aktivitas mereka hanya terganggu sekali ketika seorang pegawai rumah makan datang untuk mengantar menu makanan-minuman dan mencatat pesanan mereka. Justin amat tidak percaya dengan kenyataan di sana. itu membuatnya amat sakit hati dan jauh dari nalar untuk dimengerti. ia hanya memesan jus avokad sambil merekam kejadian demi kejadian secara saksama di benaknya dan mereka benar-benar menggila.

saat mereka sedang menikmati hidangan, dua orang perempuan mendatangi mereka. keduanya ialah perempuan muda dan mereka langsung berteriak-teriak kepada sang guru. sang guru terlihat gelagapan tak dapat melawan sedangkan sang perempuan pendamping sang guru hanya menempel ketat di lengan lelakinya untuk berlindung karena takut.

orang-orang di rumah makan itu mendapat tontonan. dengan berdiri, sang guru mencoba untuk melerai kedua perempuan di sana, namun tidak berhasil. beberapa pegawai rumah makan dan seorang petugas keamanan mencoba untuk meredakan kericuhan itu, namun tidak berhasil pula. akhirnya, sang guru terlihat mengangguk-angguk mengiyakan. ia keluar dari petak tersebut bersama salah seorang perempuan lantas keduanya masuk ke mobil Avanza sebelumnya. perempuan penjemput sang guru itu terlihat masih ngomel-ngomel saat mereka berjalan menuju mobil. lalu, mobil itu pun akhirnya pergi meninggalkan rumah makan.

setelah ditinggal sang guru, ibu Fransisca terlihat ingin sekali mengejar lelaki itu. ia menangis karena ingin bersamanya. tapi, salah satu dari dua perempuan muda tadi tinggal untuk mencoba menenangkannya. ia membayar pesanan makanan dan minuman kepada seorang pegawai rumah makan tersebut lalu membawa ibu Fransisca pergi dari tempat itu dengan sebuah mobil Jazz hitam. orang-orang di sana masih tampak berkumpul untuk membicarakan peristiwa barusan. sesekali ada suara tawa, seperti tawa ejekan.

Justin diam di tempatnya. ia bingung sekali memikirkan semuanya dan ia amat geram. ia menangkap beberapa kalimat dan kata-kata dari teriakan-teriakan tadi, tapi itu masih berupa teka-teki. ia ingin mengetahui jawaban-jawaban di sana, namun ia tidak tahu harus mulai dari mana. dan hari itu pun kemudian lewat. esoknya, Justin tidak melihat keanehan apa pun pada diri Fransisca. maka, Justin menyimpulkan bahwa hal kemarin memang tidak ada sangkut pautnya dengan Fransisca. ibu Fransisca jadi oknum di mata Justin. sang guru fisika juga terlihat santai dan kejadian kemarin seakan tidak ada efek pada dirinya. walau begitu, martabatnya jatuh di mata Justin.

Justin melanjut kisahnya kepada sang interogator. pada Kamis, hari pertama Fransisca tidak masuk sekolah. Justin mencoba bertanya dan Fransisca mengata bahwa ia tidak apa-apa. Justin tidak percaya begitu saja dan ia terus mendesak untuk menanyakan keadaannya karena ia mengungkap bahwa ia peduli dengan Fransisca. akhirnya, Fransisca luluh dan meminta Justin untuk menjemputnya di rumah pada malam itu dan mereka pergi ke sebuah kedai kecil di tengah kota. Justin sebenarnya ingin sekali melihat wajah ibu Fransisca ketika menjemput, tapi hanya Fransisca sendiri keluar untuk menemui Justin dan Fransisca meminta untuk langsung berangkat.

di kedai itu, Fransisca bercerita bahwa kemarin malam rumahnya didatangi seorang perempuan. entah kebetulan atau tidak, penyambutnya ialah Fransisca sendiri sebab ayah dan ibu Fransisca baru saja keluar untuk pergi beramah tamah ke rumah kenalan gereja ibu Fransisca di kota. ia menanyakan apa posisi Fransisca terhadap ibu Fransisca. setelah tahu bahwa Fransisca ialah anaknya dan satu-satunya orang di rumah itu, maka ia meminta izin untuk masuk ke dalam dan membicarakan sesuatu hal serius.

di ruang tamu itulah ia menjelaskan bahwa ia adalah anak sang guru Fisika. ia datang untuk meminta maaf kepada Fransisca. ia memberitahu bahwa ayahnya punya ilmu pekasih dan ia menerapkan hal itu kepada ibu Fransisca kemarin malam. ayahnya sudah berkali-kali menggunakan pekasih itu kepada banyak perempuan, tapi kepada ibu Fransisca hal itu sangat keterlaluan. ia sendiri tidak tahu bagaimana ayahnya mengenal ibu Fransisca selama ini, tapi ia tahu benar bahwa ibu Fransisca ialah keturunan Cina pertama kepunyaan ayahnya. ayahnya hanya mengakui bahwa sudah sebulan ia berhubungan dengan ibu Fransisca. untungnya, keterlaluan mereka tidak sampai pada tahap berhubungan kelamin.

ia bercerita pula bahwa ilmu itu hanya dapat aktif bila ayahnya mengaktifkannya. itulah kenapa ibu Fransisca akan terlihat tidak melakukan apa-apa kepada ayahnya bila memang sang guru tidak berniat melakukan pekasih. saat itu juga, perempuan itu memberikan bukti dua foto. di satu foto mereka tampak saling mendempetkan kepala menghadap kamera dan di foto lain tampak sang guru mencium pipi ibu Fransisca.

foto-foto tersebut membuat kesedihan dan kemarahan Fransisca memuncak. ia menangis tapi ia tak mampu berkata-kata. perempuan itu rela jika ayahnya dilaporkan ke polisi untuk dikasuskan, namun ia juga memberitahu bahwa akan banyak kerugian dari pihak korban bila hal itu dilakukan. ia kembali minta maaf kemudian pamit kepada Fransisca. kedua foto tersebut ditunjukkan kepada Justin. Fransisca terlihat sedih kala itu. Justin sendiri sebenarnya mengetahui kali terakhir keintiman mereka, tapi Justin pura-pura tidak tahu. setidaknya, teka-teki di benaknya kini sudah terjawab.

Fransisca berkata sambil menangis bahwa ia tidak segera melaporkan kejadian itu kepada polisi karena ia takut reputasi keluarganya akan hancur. menceritakannya secara pribadi kepada ayahnya, juga bukan solusi baik bila terdapat dampak buruk di kemudian hari. setidaknya, bila ia bungkam maka kenistaan tersebut hanya diketahui oleh beberapa orang saja dan keluarganya tetap dapat hidup bahagia. tapi, ia sendiri tidak tahu apakah itu ialah pilihan terbaik atau tidak. Justin tidak dapat berkata apa-apa. ia hanya diam menatap tangis perempuan di depannya.

Jumat, Sabtu, dan Senin Fransisca tidak masuk sekolah kembali. pesan Justin lewat BlackBerry dan WhatsApp tidak masuk. nomor telepon genggam Fransisca juga tidak aktif. di tiga hari itulah pikiran Justin mulai menggumpalkan rencana dan ia menuntaskannya pada Selasa sebagai bentuk penegakan keadilan demi keluarga kekasihnya.

***

seorang agen polisi punya kewenangan untuk mencari keterangan tentang segala hal terhadap peristiwa itu. ia ditunjuk oleh ketua timnya untuk menangani subperkara. bila siang tadi ia memperoleh keterangan dari Justin, maka petang itu ia duduk di sebuah kursi di ruang interogasi di lantai tiga untuk mencari klarifikasi dari saksi. kali ini, ibu Justin berada di depannya. beragam pertanyaan primer dan pertanyaan insidental muncul untuk ibu Justin. ia pun menjawab pertanyaan-pertanyaan itu dengan baik dan hati-hati sebab ia terkesan berusaha melindungi Justin. tentu ia punya trik-trik khusus untuk membuka pendaman-pendaman keterangan dari saksi. tidak semua jawaban dicatat oleh agen tersebut karena ia hanya menemukan satu benang merah terhadap kasus pagi tadi.

Justin adalah anak kedua. anak pertama mereka ialah seorang perempuan, dua tahun lebih tua dari Justin dan kini sedang belajar di National University of Singapore. mereka termasuk keluarga kaya-terpandang dan membatasi pergerakan mereka untuk bergaul dengan tetangga-tetangga keturunan Cina saja. ayah Justin dan dua saudaranya punya bisnis Tour and Travel besar ke mancanegara dan berpusat di Surabaya. maka jadi hal biasa jika ayah Justin sering tidak berada di rumah untuk mengurus bisnis tersebut. ibu Justin hanya seorang rumahan biasa dan ditemani dua orang: laki-laki dan perempuan pembantu.

jika kakak perempuan Justin senang keluar untuk bermain bersama teman-teman SMP dan SMA-nya, maka tidak dengan Justin. Justin termasuk anak introver dan teman-teman dekatnya dapat dihitung dengan jari. itu pun semuanya ialah anak-anak keturunan Cina. sejak SMP, ia memang suka mengurung diri di kamar dengan pintu tidak sepenuhnya tertutup. ia kerap terlihat duduk di depan monitor komputer dan layar monitor itu membelakangi pintu sehingga orang-orang di luar kamarnya tidak dapat melihat langsung tayangan pada monitor.

saat Justin berkelas 8, ibu Justin pernah masuk ke kamar anaknya untuk mengambil pakaian kotor. saat itu Justin sedang tidur dengan monitor masih menyala. ibu Justin iseng melihat monitor itu dan ia terkejut ketika di monitor tersebut terdapat banyak foto perempuan-perempuan Cina. mereka semua tampil cantik dengan sebagian besar dari mereka berlengan dan berpaha terbuka. tapi, mereka tampak bukan perempuan-perempuan muda. mereka semua berwajah tidak terlalu muda dan tidak terlalu tua. kisaran umurnya antara 35-45 kalau boleh ia simpulkan.

ibu Justin pun mencoba menggunakan mouse untuk melihat ke atas dan ke bawah. tidak ada di antara foto-foto itu ia kenal. namun, ketika ia membuka folder lain karena di sana tertulis nama temannya, maka ia amat terkejut ketika ia melihat foto-foto ibu Fransisca di sana. folder itu khusus menyimpan foto-foto teman gerejanya itu. semuanya dalam berbagai pose seksi dan tampak diambil secara sembunyi-sembunyi melalui kamera beresolusi tinggi.

sejak Justin masih balita hingga duduk di sekolah dasar, ibu Fransisca memang suka menciumi anak lelaki itu di wajah. untuk ibu Justin, hal itu ia anggap sebagai ungkapan kasih sayang belaka dalam ikatan pertemanan antarkeluarga. kebiasaan ibu Fransisca tersebut berhenti ketika Justin telah dianggap dewasa saat baru masuk ke SMP. ia sendiri tidak pernah melakukan hal itu kepada anak lelakinya. mungkin itulah sebab Justin mengumpulkan foto-foto tersebut sebagai bentuk kerinduan kasih sayang.

ia tidak berpikir jauh mengenai hal itu. memang ia sempat berdiskusi dengan ayah Justin, namun mereka tidak menemukan jalur sama sekali untuk menarik satu atau dua kesimpulan logis. sejak saat itu, ibu Justin mencoba untuk melakukan pengintaian seperti itu kembali untuk menyelidiki bila ada kesempatan tatkala masuk ke kamar Justin, namun monitor di layar kerap mati atau menampilkan hal lain tanpa menimbulkan kecurigaan. ketika Justin punya laptop sejak masuk SMA, ia juga berusaha untuk melihat monitor layar tersebut bila punya peluang, tapi tidak ada keganjilan di sana. lama-kelamaan kecurigaan mereka pun memudar dan akhirnya hilang.

banyak hal diceritakan oleh ibu Justin sehingga menghabiskan waktu sekitar dua jam, namun keterangan penting itu baru muncul belakangan. setelah merasa cukup, agen itu membolehkan ibu Justin untuk pulang. ibu Justin tidak tahu bahwa sang agen telah merekam percakapan itu. keterangan itu menjadi sidik jari berharga pada kasus tersebut dan ia akan menyampaikannya di rapat tim. segalanya akan menjadi jelas dengan sidik jari di tangannya kendati Justin sendiri tidak membukanya. ia yakin bahwa percampuran antara keterangan Justin sebelumnya dan sidik jari terbaru itu akan membuat Justin mengakui motif aksinya. ia juga yakin bahwa media massa lokal dan nasional akan sangat senang dengan kesimpulan di belakang nanti mengenai motif pelaku sebab peristiwa ini termasuk anomali dalam pidana.

Pasuruan, Juni 2016

*

Sabtu, 11 Juni 2016

Perempuan Berambut Merah dan Bertubuh Liar

aksen-aksen narasinya selalu mendorong ‘tuk menutup langkah.
giok merah terburai dan kristal mahaliar blingsatan.
hantui pasir-pasir ingatan.
-
lantaran kurikulum rupawan itulah lingkaran sedimentasi
melebur di paragraf-paragraf ibadah.
derita-derita mikroskopis menghuni gubuk-gubuk argumentasi.
membimbing jarak ke padang istiqamah.
-
dengan dawat, gending-gending harum dilepas
dan puspa-puspa necis dirilis.
ia juga memutar pranata dan membelokkan jam
ke selubung gamang.
menjura terhadap hati atau sekadar membajak atensi.
lalu, segalanya menangkapmu.
-
dua adat saling mendekat.
dekorasi dan dialektika amor gariskan serasi.
kawat-kawat kontribusi dan lampu-lampu marga
telah bersandar. endapkan polemik-polemik pengap dan pedas
ke dalam sakramen bersejarah.
-
sesudah meloncat dari globe setempat, kami
sekarang menginap di tangsi bermartabat.
bersyukur pula ekosistem di belakang
tidak keringkan biota kami secara menegangkan.
artikel kami terpajang pada skrip keluarga.
elan pun menyangrai realisasi,
menggiring paduka kepada keawetan bahagia.
sesudah nyala jadi fitri, sesudah binal jadi terpelajar.
-
Pasuruan, Mei 2016

*

Ribuan Ciuman dalam Melodi

kau mamalia. lapar aplaus dan menyalur jasa.
belukar semut selalu butuh alam dramatismu
saat kau jangkarkan tabik di celah subuh,
saat kau klimakskan indah di tiap krida.
-
tombol-tombol petisi kerap terbenam.
hakim-hakim rakus memanggangmu gamblang.
dengan dana, kehormatanmu dibedah.
membentur gugus-gugus kelam
dan membias di akbarnya regulasi.
-
aku bukan anak jenderal.
hanya arek piatu, dilupakan rumah.
aku bukan anak raja.
hanya bandit kencur tak dekat agama.
namun bila kau menari, jiwa heroikku mendesir.
-
informasi dan rumpi di kanan-kiri terlalu zalim terlafal.
mentah dan ilegal. tiada kearifan, tersisa pembiaran.
aku tidak yakin kau terlindung kencang
dalam demografi konkret di sana di mana titah
senantiasa lemahkan peran dan panduan.
-
kalender demi kalender lengser.
cakrawala tampak dan tenggelam beraturan.
namun, kau masih mengumbar madu
bersama orkes glamor itu.
ingin sekali diri ini jadi koboi bermisai dan bertopi.
menaikkanmu ke temperatur nasib lebih terpelihara.
jauh dari aroma dan kultur kafir dewan-dewan neraka.
-
Pasuruan, Mei 2016

*

Kamis, 05 Mei 2016

Helai-helai Tubuh Penari yang Kosong

sindikat detik-detik barbar susah disibak.
bintang-bintang mendingin, deras berputar-putar
di ruas-ruas temperamen.
jongkok, gagal berekspresi.
-
hujan haru membesuk diri.
mencakar dan menikam cerobong-cerobong deskripsi.
timbul trauma. syirik hampir muncul
di kandang pujangga.
-
kami bukukan olahrasa dan adilkan otot-otot instruksi.
disinformasi dan agitasi dipecahkan
di bangku-bangku anjangsana.
namun, rute mencapai keluarga serempak menyusut.
-
prinsip-prinsip palsu memuji arus kami dengan pengkhianatan.
sebuah kejahatan pintas menuntas gebyar dan alokasi.
tiang-tiang obituari membelenggu,
menjual sasis jiwa ke selokan semu.
-
rezeki mengelupas.
jadi jelaga kentara, mengepung gegap gempita.
ilustrasi mawar masih pandangi darah, tapi
sepotong-sepotong sirkulasinya makin turuni alam baka.
-
Pasuruan, April 2016

*

Memelihara Kesunyian di Musim Dingin

dalam radius kaca benggala, skema-skema rasional merongga.
buana pertumbuhan sekarat dan bekal kemapanan tersendat-sendat.
benang merah pelaminan terbalik.
-
hajat untuk menuntut lahan karunia digagalkan keterbatasan.
barikade angin banal warnai danau perak.
dini hari, sayup-sayup dislokasi.
-
mawar merah berteriak jalang di sabana.
kaktus-kaktus agresif menjangkau kayu-kayu dinasti
tanpa mengada-ada. kuman-kuman alternatif
amankan radang dan infeksi.
gatal pun menguntit di kantuk-kantuk resik.
-
berjongkok di atas amben.
menahan jam agar gading-gading disiplin
tetap mekar dan berfungsi.
serbuk-serbuk pembujuk zinahi strategi dengan teguh.
mengurung juang, kosongkan pandang.
fase fatal mendekat. alarm tamat juga menyadap.
-
hibernasi dan halusinasi penuhi bugilnya tangga-tangga raga.
hiruk pikuk lamunan di antara langit timur dan barat
kian kesampingkan mestika akidah.
tamu dan majelis sontoloyo makin menjengkelkan.
kenalkan friksi dan jahati profesi.
satu kenang-kenangan dari badai kasih.
-
keruntuhan interaksi memancar krusial
bagai dinamit merancang kerusakan.
aum tenggorokan tersengal-sengal
mendesak dendam menuju tikar pembantaian.
-
Pasuruan, April 2016

*

Minggu, 03 April 2016

Demi Matiku, Kutujukan Padamu Segala yang Tak Sia-sia

tak ada jerih saat berhala
libatkan binar kidung dan lenggak-lenggoknya
ke dalam sesaji.
lilin pamungkas membara, berbagi sirene
kepada musafir-musafir sepuh di kejauhan.
jarak mendekat, dekat pun berkhidmat.
-
ia kobarkan katarsis.
mengintai tenda dan sarana terhadap kelindan pahala-pahala.
topografi profilnya mengungkap hutan bertingkat.
alkitab merekamnya sebagai rosario tipikal.
hangat, juga tulen.
-
gawatnya, semua raja mabuk parah.
antre menilik dan meminta pengantin.
akar hajat mereka membuncit pesat.
membikin klenik dan terapkan riset
agar margin disparitas secepatnya dapat koheren.
-
tapi, lomba transenden tersebut adalah jahiliah
untuk seorang filantropis.
memepet merpati menggunakan pukat pucat
ialah tindakan psikopat.
tiada kejujuran dan kekaleman di sana.
meski demikian, kesadaran hanyalah omong kosong
bila mulut dan tulang lari dari peredaran.
-
drakula dan setan ibarat damar di lintasan.
berbondong-bondong matangkan tebar pesona
dan wira-wiri mencipta singgasana.
nasib bocah ini tampak primitif dan berat
‘tuk ikuti perkara. subuh seolah-olah lenyap
dan bermil-mil tabir bergunjing di sekitarnya.
namun, dia menjual komitmen higienis.
siap dituai dan dirangkul secara galib atau karib
demi meyakinkan sang putri.
bukan pencitraan, bukan pemanis perapian.
-
Pasuruan, Maret 2016

*

Selasa, 01 September 2015

Pentalogi Eskapisme

         : Tungga

--- hukum rindu kepada kekasih ---
hingga detik itu,
runcing azab di balik perisai beleduku
sebetulnya tidak pernah soak.
potongan-potongan totem
tentang kekasih di masa lampau
tetap menyala walau maksud
sudah lama ditebang dan sengaja disingkir.
namun, derap libido ternyata
dapat menangkap temuan klasik kembali:
sehelai indah di mana mantra-mantra
rela diranumkan demi menebalkan pinangan.
-
--- memeluk bibir ---
Dik, jangkar mataku
tak sanggup menghindar dari
lembutnya sebuah kerajaan di wajahmu.
tipografi lanskap ayumu
benar-benar menyiksa
keperjakaan awam setempat. kendati begitu,
fokus esensial milikku hanyalah
daging berbasah gincu. ia hadir
bagai perkusi dan mampu
bangkitkan sinyal revolusi.
butuh kesaktian mandraguna
untuk bisa menyentuh bentuk ovalnya
sebab di lidahmu
ada jarum aktif penerap resistansi.
sebagai pria terpendam, tentu
aku bukan undangan.
-
--- pohon surga ---
Dik, aku menggugah maaf
jika selama pendekatan
induk otakku senantiasa
menginterogasi tubuh manismu
dengan ilusi kreatif nan fantastis.
zona-zona kerontang sedang semringah
dan tergeragap saat mematuk keceriaan
di sepanjang griya-griya utamanya.
arah arwah menjelajah sekaligus memeriksa.
ingin sekali kurampungkan urusan tersebut
secara gencar, nyatanya, hio syahwat
malah mencekik organ-organ keimanan.
-
--- menelan berahi ---
tapi Dik, kutukan keterasingan
di dalam kotak sukma belum terlepas.
masih bernas dan absolut
suarakan animo-animo tunagrahita.
bagaimana mungkin terbuka
bila jalan-jalan pujian
selalu digunting sangka?
bagaimana mungkin mengejar
bila bisik-bisik busuk
selalu gentarkan koordinasi
bahkan negosiasi?
segalanya terasa buntu,
kehilangan jelas juga kehilangan mutu.
-
--- hipotenusa ---
setidaknya, kedua pita personal kita berdua
pernah menyudut dan terpasang
di salah satu pangkalan kenangan.
sayangnya, garis perundingan di antara kita
sedang ditaruh Tuhan di atas akurasi
dan kebestarian tertinggi punyaNya.
telah kusorongkan doa agar Ia
segera lemparkan reportase.
akan sangat menyenangkan kalau
porsi kedekatan kita saling mengisi
karena cuma dirimulah penghalangku
terhadap mati.
-
Sleman, Agustus 2015

*

Cendera Mata untuk Rara

||| seperti biasa. Minggu pagi di beranda, ia berteman kursi beralas-sandar bantalan beludru hitam. di tentang, ada meja kayu bulat berkaki satu beralas pualam di atasnya. juga laptop, beberapa buku bacaan dan buku catatan, beberapa alat tulis, juga segelas susu putih berjahe. sepoi angin kadang jadi irama dan remah-remah dingin kadang jadi belai mesra.

seperti Minggu sebelum-sebelumnya. matahari menyapa dari belakang rumah. sinar manisnya jatuh manja di depan rumah. lalu-lalang orang dan kendaraan sesekali jadi pengalih perhatian. sesekali, mereka juga jadi sasaran atensi. segalanya terlihat seperti biasa. tapi, waktu di pagi itu ternyata suguhkan hal berbeda.

saat ia menulis catatan aktivitas harian tersisa di layar laptop, Rara datang dari dalam rumah, berjalan perlahan, dan langsung duduk di samping pada sebuah kursi lain. mereka saling pandang dan saling bertarung senyum sejenak lalu Rianti kembali kepada kegiatan semula.

mereka bertukar diam namun anak itu tetap memerhati. ia melihat wajah, tarian jari-jari tangan, buku-buku dan laptop, resam tubuh, dan semua hal di sekitar. ia lakukan itu dengan amat tenang dan terkesan teliti. baru kali itu ia melakukan hal tersebut di Minggu pagi dan itu membuat sang bunda sedikit merasa berbeda. jadi, ia menegas curiga dengan cara menatap wajahnya sekali lagi dan Rara tersenyum kembali sembari sedikit memiringkan kepala ke samping. lucu sekali kedua wajah tersebut saat itu. |||

-

sang bunda pun akhirnya menanya, tetapi Rara tidak memberi jawaban pasti. lalu secara perlahan sang bunda menggeser atensi untuk kembali lanjutkan pencatatan. sambil memerhati layar laptop ia seakan-akan berkata kepada kekosongan bahwa lawan bicaranya belum dapat sembunyikan sesuatu dengan baik. setidaknya, ia tahu melalui perilaku aneh kala itu. Rara mengerti sasaran pernyataan namun ia hanya menyahut dengan kikikan-kikikan halus.

sang bunda mencoba meyakinkan dengan mengundang ujung kata-kata di dalam tubuh anak itu agar keluar dengan lancar tanpa malu. sambil menatap dan dekatkan wajah diri sendiri pada wajahnya, ia juga berbisik bahwa setidaknya pembicaraan tersebut ialah pembicaraan antara perempuan dengan perempuan. lalu, ia menutup dengan mengangkat kedua alis dua kali sebagai bentuk negosiasi. Rara hanya mengikik kembali dan ia tidak berkata apa-apa setelah itu. lantas, sang bunda pun melanjut pencatatan dan membiarkan Rara menikmati situasinya sendiri.

belum genap dua baris mengombinasi aksara-aksara dan juga beberapa tanda baca, suara itu tiba-tiba meluncur dengan indah dari mulut Rara bahwa ia belum tahu bagaimana bundanya dan ayahnya bertemu lalu saling mencinta hingga masa itu. jari-jari Rianti berhenti berdansa dan beberapa detik selanjutnya – secara bersamaan – mereka membidik pandang ke satu fokus agak jauh di depan.

Rara bertanya kepada perempuan itu apakah ia bisa memperoleh sedikit cerita bagaimana hubungan antara ayahnya dan ibundanya dapat terjadi di masa lalu. saat itu Rianti menyadari bahwa pertanyaan seperti itu mungkin sudah tepat dilontar oleh anak SMP kelas 7 sebagai salah satu tahap kedewasaan di dalam diri Rara. namun, ia juga memiliki keraguan apakah pertanyaan seperti itu memang telah pantas diucap olehnya. ia coba meyakinkan Rara apakah ia benar-benar sadar dengan pertanyaan tersebut dan Rara mengiyakan. sang bunda kemudian bertanya mengapa pertanyaan itu muncul dari Rara. Rara pun menjawab bahwa semalam pikiran semacam itu tiba-tiba saja bertamu setelah melihat bundanya dan ayahnya saling memberi kasih di ruang keluarga. banyak tawa, belaian, dan pelukan di sana. mereka sendiri tidak menyadari keterjagaan dan kehadiran Rara. Rara sendiri pun akhirnya urungkan niat untuk mendiamkan kegaduhan mesra itu ketika ia tahu bahwa mereka sedang di puncak bahagia.

Rianti tersenyum menanggapi anak perempuan tersebut. tapi, senyum itu agak berat terlihat. sejurus berikutnya ia mencoba menawari Rara untuk membahas masalah itu di waktu lain. bahkan, ia menawari Rara untuk membukanya pada hari ulang tahun Rara  tahun depan. sayangnya, Rara tidak mau. jelas sekali terlihat keraguan pada wajah Rianti. ia tahu benar bahwa anak perempuan di depannya masih punya rapuh hati. ia tidak dapat sembarangan menolak walau telah berusaha alihkan jalur. kendati begitu, Rianti sadar bahwa jawaban-jawaban ke depan adalah penting untuk Rara dan ia tidak ingin berfiksi pada masalah tersebut.

-

||| catatan ini pun merekam percakapan dan situasi bagaimana Rianti memberi terang kepada Rara dengan sepenuh kasih dan ketulusan. |||

-

Rianti meminum susu putih berjahe beberapa teguk seraya mengambil ancang-ancang, menaruh gelas, lalu mulai bercerita. ia mengawali dengan berkata bahwa ia dan ayah Rara tidak berada pada satu kelas saat menempuh Sarjana Satu, namun mereka berjurusan sama: Pendidikan Geografi.

Rara bertanya di mana itu dan Rianti menjawab bahwa masa itu terjadi di kota tempat mereka berada saat itu, lebih tepatnya di Universitas Buana Bakti. Rara mulai tampak antusias dan Rianti melanjutkan dengan memberi tahu bahwa mereka bertemu kali pertama saat sama-sama berada pada satu departemen di Dewan Mahasiswa Jurusan Geografi. lantaran Rara menanya di mana persisnya, Rianti pun mengata bahwa mereka ditempatkan di Departemen Pengembangan Sumber Daya Manusia. Rara kian antusias dengan hal baru tersebut. Rianti tahu bahwa anak itu sedang bersemangat untuk dengarkan cerita. Rianti pun melanjutkan kisah kepada Rara.

pada awalnya ia mengira bahwa hubungan mereka benar-benar merupakan hubungan kerja secara profesional. mereka bertemu hanya untuk berdedikasi pada tugas dari departemen. karena terkoneksi dengan baik di beberapa kegiatan awal, maka petinggi Dewan Mahasiswa akhirnya selalu memasangkan mereka sebagai mitra kerja pada kegiatan-kegiatan selanjutnya. terkadang, petinggi-petinggi itu juga memadu mereka dengan personel-personel lain di beberapa kegiatan namun mereka tetap bersama. beberapa kali, mereka juga hanya dipasang berdua untuk mengurus satu atau beberapa masalah kecil.

Rara berkicau lembut bahwa hal tersebut sepertinya terlihat menyenangkan untuk sang bunda. Rianti mengiyakan kicauan Rara, tapi itu hanya awal saja katanya. sampai di situ Rara belum mengerti hingga Rianti menjelaskan bahwa semua kesenangan itu berubah pada satu hari di mana lelaki tersebut menyatakan cinta.

Rara terkikik-kikik halus untuk menanggapi, namun dengan cekatan Rianti mengata bahwa ia menolak lelaki itu. Rara terkejut dengan tangkapan indera telinganya. cepat-cepat dalam sewot, Rianti menegas bahwa ia menganggap lelaki itu salah lantaran dengan tiba-tiba ia membawa cinta tanpa sekalipun pernah membahas hal itu sebelumnya; tanpa awalan atau tanpa kuda-kuda sama sekali sebagai adaptasi. Rara sedikit memberontak dengan menyatakan secara sepihak bahwa bundanya sebenarnya memiliki rasa terhadap ayahnya, tapi Rianti berdalih bahwa saat itu rasa tersebut belum tercipta. Rara mengejar dalih bundanya dengan kata “kenapa” dan dengan kesan ringan Rianti pun menjawab bahwa ia memang belum punya. Rara merasa tidak menerima alasan itu dan mengatai bundanya sebagai orang sombong secara sewot. Rianti hanya tersenyum hingga indah gigi-giginya terlihat.

Rara pun segera melupakan secuil masalah tersebut dengan mengajak bundanya untuk menerus cerita. Rianti pun menyambut ajakan Rara dengan menyatakan bahwa hubungan mitra kerja antara mereka akhirnya selesai. dengan keyakinan tinggi dan tanpa dasar Rara menebak bahwa pasti ayahnya marah atau benci sebab tidak dapat menerima penolakan itu sehingga meminta hubungan mitra itu diputus. nyatanya, Rara salah telak. Rianti berujar bahwa sebenarnya pemutus hubungan itu adalah ia sendiri. Rara kembali terkejut dengan mengangakan mulut. Rianti pun menerangkan bahwa ia belum dapat menerima kenyataan untuk memisah perkara cinta dengan kerja. keduanya saling tumpuk-menumpuk, jalin-menjalin tidak keruan sehingga menurunkan konsentrasi kerja. kali itu kerut dahi terlihat pada Rara. Rianti melanjutkan dengan memberi keterangan bahwa beberapa pekan setelah perpisahan itulah ia malah mulai tahu rasa cinta. sebelumnya, ia belum mengerti benar bahwa cinta itu sebetulnya dapat bersemi melalui perjalanan biasa. ia bodohi dirinya sendiri kala itu dan ia benar-benar menyesali. ia pun sanggup memahami cinta setelah peristiwa itu; tidak menye-menye dan tidak unyu-unyu seperti di SD, SMP, atau SMA pada umumnya.

Rara mengikik agak keras kali itu lantas bertanya apakah bundanya kemudian menemui ayahnya untuk coba memperbaiki semuanya. Rianti menyangkal dengan memberi alasan bahwa Tuhan ternyata tidak memudahkan semua seperti demikian. wajah Rara pun membentuk tanya. Rianti meneruskan pernyataan bahwa penolakan itu terjadi sekitar dua bulan sebelum masa kuliah tahun pertama selesai dan masa libur panjang setelah itu menjadi sangkar tersulit untuknya di mana segala sesal terus bersuara dan daur pun akhirnya berganti.

pada tahun kedua, ia kembali dipercaya untuk berada di Dewan Mahasiswa Jurusan Geografi, namun ayah Rara tidak lagi di sana. ia dipercaya untuk naik ke Dewan Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial. di satu sisi Rianti bangga dengannya, namun di sisi lain ia kecewa lantaran tidak dapat memperbaiki kesalahan. beberapa rencana memang sudah disimpan, tapi perbedaan habitat di Dewan Mahasiswa ternyata jadi penghalang nyata. dari tempat, waktu, dan suasana itulah kisah antara mereka mulai tegas digariskan.

-

||| catatan ini melihat bagaimana raut muka Rianti saat itu mulai tampak murung dan tertekan. kedua telapak tangan saling meremas-remas satu sama lain. ada kecemasan di dalam dirinya, tapi catatan ini belum mengetahui secara pasti hingga ia membukanya kepada Rara dengan penuh ketegaran. |||

-

pada masa itu Rianti mendengar bahwa ada suara-suara. sebagian mengatakan bahwa lelaki tersebut kecewa sebab tidak dapat menaklukkan perempuan baik nan langka untuk dilindungi, disayangi, dan dimiliki dalam cinta. dan ia benar-benar menunjukkan secara terang-terangan di hadapan Rianti. pengungkapan itu diperhatikan oleh Rara dengan khidmat. tatkala bertemu, Rianti memperhatikan bahwa lelaki itu membuat jarak. lama-kelamaan Rianti pun larut dan hilanglah hormat padanya. memang tidak pernah tampak benci dan dendam pada wajah sang lelaki, namun amarah Rianti akhirnya tersulut hingga membakar segala kenangan; canda-tawa, diskusi-negosiasi, perdebatan, dan sebagainya tentang dirinya. Rara diam mendengarkan bundanya. tiba-tiba, Rianti menyatakan bahwa peristiwa itu pun akhirnya terjadi.

Rianti diam. lama sekali ia bersembunyi di sana sehingga Rara menegur secara halus dan pelan untuk menanya peristiwa apa. Rianti menghela beberapa napas kemudian ia memulai narasi bahwa kala itu ialah malam hari. ia ingat bahwa itu adalah Selasa malam, pulang dari kampus, selesai mengangsur tugas mendekorasi lobi jurusan dengan teman-teman Dewan Mahasiswa, dan ia pulang sendirian. Rianti berhenti dan hening mengambil alih.

Rianti melanjutkan bahwa sebenarnya dari kampus ke kos tidak terlalu jauh, namun saat itu di jalan utama sedang dibangun beberapa polisi tidur oleh para petugas. lantaran terlalu malam, maka jalan itu telah dibuntu untuk memudahkan pekerjaan dan ia harus memutar agak jauh. jeda pun terjadi dan hening kembali mengambil alih.

perlahan-lahan Rianti mendeskripsi bahwa ada ladang pada rute tersebut, memanjang di kiri dan kanan ikuti jalan. keadaan saat itu sedang sepi meski ada lampu jalan.    Rianti berhenti dan hening datang kembali.

tiga orang menghadang dengan cekatan, membuatnya harus menghentikan motor secara mendadak. semuanya bertopeng. hanya menyisakan lubang untuk kedua mata dan mulut mereka. kejadiannya terjadi cepat sekali. Rianti berhenti kembali dan membiar hening bertandang di antara mereka lagi.

mulutnya diberangus dengan sebuah kain tebal nan halus secara cepat oleh salah satu dari mereka. tidak ada teriakan, hanya guman dan gerakan. dengan lihai mereka mengamankan menuju semak-semak. motor pun dituntun ke semak pula hingga tidak terlihat dari jalan.

-

||| aku dapat melihat kedua mata Rianti berujar air mata. air itu jelas sekali menggores di kedua pipinya. |||
-

di sebuah gubuk kecil tanpa penerangan, mereka mulai melucuti pakaiannya dengan kasar dan tergesa-gesa. mulut masih diberangus namun tidak untuk telinga. beberapa kali mereka berdialog pendek dan pelan. awalnya tidak tahu karena suara mereka benar-benar pelan dan ia sendiri dalam tekanan. namun, dengan kesadaran tersisa, perlahan-lahan akhirnya ia mengenali dengan baik salah satu suara kendati ia hanya berbicara sedikit dengan kedua temannya; saat ia menikmati maupun saat menikmati permainan kedua temannya.

-

||| laptop ternyata sudah dalam sleep mode secara otomatis. Rianti mendorongnya agar menjauh. lalu, kedua tangannya terlipat dan saling menumpuk di atas pualam dan ia menelungkupkan wajah di atas lipatan itu. ia menangis sesenggukan namun pelan terdengar. Rara juga menangis. ia ternyata mengerti. Rara lalu masuk ke dalam rumah. saat ia kembali ia sudah siap membagi tisu dengan bundanya. Rianti menerima itu, mengusap air matanya, lalu memeluk Rara. mereka membutuhkan waktu lama untuk menegakkan ketegaran mereka kembali. lama sekali dan itu pun harus diawali dengan hening pada Rianti untuk membuka kembali. tapi, sebenarnya Rara ingin menutup sampai di situ, tapi…. |||
-

Rianti menolak. ia berujar bahwa ia dan Rara bukan keluarga bila harus berhenti di sana. setelah itu Rianti melihat mereka kembali dan Rara akhirnya mengikut pandang bundanya. mereka menikmati mereka dengan penuh perhatian agak lama. lalu, Rinati mengatakan bahwa ia kacau saat itu. akal sudah kosong. hanya berjalan perlahan menuju jalan. dingin sekali. Rianti berhenti dan hening terjaga kembali.

di jalan, ia bertemu dengan dua orang laki-laki berumur. mereka terkejut melihat seorang perempuan dengan pakaian seadanya sedang berjalan dan tidak beralas kaki. Rianti berhenti bercerita dan hening malah terdedah.

ia merasa mati rasa. suara mereka memang terdengar dan tampak bertanya namun tidak tercerna. wajah mereka terlihat heran dan sesekali saling berdebat. lalu salah seorang melepas jaket, untuk dirinya. satunya melepas sarung, juga untuk dirinya. satu orang kembali ke arah kampung dengan motor sedangkan satunya menemani dan menuntunnya berjalan. Rianti berhenti dan hening datang kembali.

satu per satu mereka datang untuk melihat. sebagian kecil saling bertanya dengan keheranan. ia duduk di sebuah beranda rumah milik seseorang dan minum segelas air putih. mereka ribut sendiri. salah satu teman kos terlihat di antara kerumunan. ia menghampiri. berkata-kata kepadanya dan warga secara bergantian lalu ia menangis sejadi-jadinya lantas memeluknya. Rianti kembali menangis saat itu.

Rianti baru sadar kalau ada segelas air putih di meja. sambil menunjuk itu, ia tampak ingin bertanya namun Rara langsung memotongnya bahwa ialah pembawanya. ia bertanya kapan Rara mengambil benda tersebut namun Rara membalas dengan kata “rahasia”. mereka saling tersenyum kemudian. Rianti mengelus rambut anaknya lalu meneguk air di dalam gelas tersebut. ia meletakkan gelas, diam sejenak, lalu melanjutkan.

di antara kerumunan ada juga beberapa petugas pembuat polisi tidur. mereka tampak berciri melalui pakaiannya. mereka berdebat dengan beberapa warga dan teman Rianti pun mengalih perhatian ke perdebatan itu. lalu, ia nimbrung ke sana dan tidak sampai semenit ia terlihat marah-marah ke para petugas. warga pun akhirnya menjauhkan teman Rianti dari mereka untuk mencegah kontak fisik lebih jauh.

setelah itu, teman tersebut membawa Rianti pulang ke kos dengan dibantu beberapa warga. sekilas Rianti dapat melihat motornya dibawa oleh seorang warga tapi ia tidak memunyai perhatian di sana. sampai di kamar, Rianti tergolek lemah di kasur. beberapa teman kos dan kampus juga terlihat saat itu. sebagian besar memang perempuan dan sebagian besar dari mereka terlihat menangis dan memeluknya bergantian. teman Rianti kembali marah-marah saat beberapa anggota Dewan Mahasiswa datang. teman Rianti tahu benar bahwa merekalah orang-orang terakhir sebelum kejadian itu terjadi. tapi, kali itu teman Rianti mendapat sekutu dari teman-teman kos untuk memarahi mereka. orang-orang di sana pun memisahkan dua kawanan tersebut agar tidak terjadi keributan lebih besar.

beberapa polisi juga datang, namun mereka tidak melakukan apa-apa setelah mengetahui bahwa keadaan Rianti masih terguncang dan butuh ketenangan. Rianti hanya ingin menutup hari itu dengan tidur. lalu, Rianti bertanya kepada Rara apakah ia sudah tahu benar makna semboyan “hari baru, matahari baru, dan udara baru” dengan baik. Rara pun mengiyakan dan ia menegaskan bahwa bundanyalah pengajar itu. Rianti pun menerangkan kepada Rara bahwa di malam pahit itulah ia menemu hal tersebut sebagai pijakan pertama untuk bangkit dan bertahan. hanya itu satu-satunya kesadaran tersisa. Rara hanya mengangguk.

Rianti pun baru tersadar kalau salah satu tangan Rara sudah berada di atas salah satu tangan Rianti. Rianti pun menimpali tangan Rara tersebut dengan tangan Rianti lainnya dan mereka kembali berbaku senyum.

dan benar. esoknya ada sesuatu. sesuatu itu sungguh mengejutkan kata Rianti. benar-benar mengejutkan. ia berkata bahwa dia memang ayah Rara. setelah Rianti berungkap Rara terlihat terheran-heran dan Rianti kian menguatkan penjelasan bahwa ia memang ayah Rara. Rara terlihat tidak dapat menguasai dirinya sendiri. Rianti pun meneruskan bahwa dia berdiri di depan kos sebelum cahaya surya menyapa. pukul 05.30 ia kira. ia mendapati lelaki tersebut berada di sana setelah salah seorang teman kos memberi tahu hal itu.

Rara menanya kenapa ayahnya sedang ada di sana dan Rianti pun menegas bahwa dugaan pada malam sebelumnya ternyata benar melalui salah satu suara sang pelaku pada malam pahit itu. Rara diam dan tampak berpikir.

Rianti menjelaskan bahwa saat itu ayah Rara berdiri tegak dengan penuh kebencian dan dendam. sorot lampu halaman parkir sudah cukup menerangi wajahnya. ia merasa bahwa saat itu lelaki tersebut benar-benar mengerikan. Rara masih diam dan masih berpikir.

Rianti bertanya kepada Rara apakah Rara mengira bahwa lelaki tersebut pelakunya. Rara menggeleng perlahan-lahan dalam keheranan. Rianti pun malah memastikan bahwa memang dia pelakunya. Rara terkejut tidak percaya sembari memekik halus. Rianti menambahkan bahwa dia memang tidak sendirian. Rara benar-benar tidak percaya. pernyataan itu sungguh menakuti dirinya hingga merinding dan Rianti malah tersenyum menyaksikan rupa anaknya.

Rianti berkata bahwa ayah Rara mengetahui malam pahit itu dari salah seorang teman. ia tidak percaya. ia datang menengok Rianti di kamar. teman-teman kos sama sekali tidak mengizinkan orang lain untuk menengok kecuali orang-orang berkepentingan. namun, lantaran mereka tahu bahwa ayah Rara punya rasa kepada Rianti, maka ia mendapat izin untuk melihat.

Rianti sendiri sudah tidur saat ia menengok. ia menangis saat itu dan ketika keluar rumah ia sudah menerbitkan kebencian dan dendam. itu tertulis jelas di wajahnya. beberapa teman coba menenangkan, tapi tidak bisa. wajah Rara kini terlihat datar dan konyol setelah mendengar itu.

Rianti pun menanyakan apakah Rara masih kenal Mas Kara, Mas Junu, Mas Ibda’, Mas Vincent, dan Mas Tomo. Rara menjawab bahwa mereka sudah berkali-kali ke sini. ia senang dengan mereka. mereka gokil kata Rara. Rianti cuma tersenyum menanggapi. Rianti pun melanjutkan narasi bahwa merekalah orang-orang pertama tujuan ayah Rara. mereka sudah mengerti berita malam pahit itu sehingga ayah Rara langsung mengajak mereka untuk berburu. kali itu Rara kembali mengerut dahi.

ayah Rara punya geng, namanya Wise Punk. terdiri dari tujuh orang anggota termasuk ayah Rara. Mas Kara, Mas Junu, Mas Ibda’, Mas Vincent, dan Mas Tomo termasuk di dalamnya. Rara berpikir sejenak, lalu ia mengoreksi bahwa bundanya belum menyebut satu anggota. Rianti pun menerangkan bahwa di sanalah masalahnya. Rara belum mengerti pada waktu itu.

dia juga menyukai Rianti, sama seperti ayah Rara. namun, ia begitu terobsesi untuk memiliki. Rara pun akhirnya mengerti dan dengan gerak gesit ia menodong nama. Rianti tidak memberi dan Rara tetap menodong dengan serius. Rianti pun tetap tidak memberi nama dan ia menjelaskan bahwa lelaki itu hanyalah ketidakbergunaan di masa lalu. tidak perlu diundang di masa kini. Rara terlihat mendongkol. Rianti mencoba menghiburnya sebagai pengalih perhatian namun Rara tetap diam dan masih mendongkol.

tanpa peduli sikap Rara, Rianti menyambung dengan menyatakan bahwa ayah Rara tahu hal itu namun ia tiada kuasa karena antara ayah Rara dan Rianti saat itu memang tiada pertautan. jarak buatan ayah Rara – untuk menjauhi Rianti – dimanfaatkan dengan baik oleh pelaku. tatkala menyebut pelaku, Rianti kebingungan ketika harus menyebut apa untuk pelaku tersebut, namun dengan tangkas Rara mengidentifikasinya sebagai “Pelaku Primer”. Rianti sedikit bingung setelah mendengar jawaban itu, tapi ia setuju menggunakan frasa itu dan kemudian menutup dengan senyuman. senyum kecil juga ditaburkan oleh Rara untuk bundanya sebagai balasan.

bulan terakhir semester tiga, malam pahit itu terjadi. lantaran sudah mengetahui gelagat-gelagat tidak baik dari pelaku primer, ayah Rara dan kelima temannya – malam itu juga – langsung memburunya untuk meminta keterangan. sekitar pukul 01.00 mereka mulai bergerak. setelah mengatakan hal tersebut, Rianti melihat Rara. Rara pun cuma menyatakan “hemm” sebagai tanda masih mengikuti dan menyetujui penyebutan “pelaku primer” dari bundanya.

Rianti meneruskan deskripsi bahwa para lelaki tersebut langsung menuju rumah kos pelaku primer. sang pelaku masih terjaga dan di situ juga ia diinterogasi. tidak sampai tiga menit ia telah mengaku dan ia langsung dihajar habis-habisan. pelipis kanan pun robek, hidung berkucur darah, dan dua gigi seri atas luruh ke tanah. itu belum kerusakan internal pada perut dan dada. beberapa penghuni kos di sana keluar karena mendengar kegaduhan tapi mereka tidak berbuat apa-apa. mereka hanya jadi penyaksi. Rianti mencoba bertanya kepada Rara apakah anak itu tahu bagian terburuknya. Rara menggeleng. Rianti pun memberi tahu bahwa ayah Rara hampir saja menusuk perut pelaku primer dengan pisau, tapi kawan-kawan lain dapat cepat mencegah. Rianti berhenti lalu melihat Rara lagi dan ada “hemm” di sana.

Rianti melanjutkan cerita. ia menambah frasa “pelaku sekunder” dan “pelaku tersier” sambil menatap Rara. Rara hanya “hemm” saja. Rianti mengungkapkan bahwa mereka berdua jadi mudah dilacak berdasarkan keterangan pelaku primer. mereka juga dihajar habis-habisan di tempat mereka ditemukan. sambil meraih gelas berair putih ia kembali menanyai Rara apakah itu semua terasa cukup untuk para pelaku. Rara pun menanggapi bahwa itu mungkin sudah cukup. Rianti meletakkan gelas kembali setelah meneguk air di dalamnya lalu memberi kabar bahwa ternyata hal tersebut tidak cukup untuk ayah Rara dan kawan-kawan. Rianti diam sejenak setelah berceloteh dan Rara tidak berani menyela.

mereka ternyata digiring ke kos Mas Vincent, dekat dengan kos Rianti. warga di sana sudah terlelap. di beranda, kedua tangan para pelaku diikat ke belakang, mulut mereka disumpal, dan tubuh mereka diletakkan begitu saja di atas tanah. mereka berenam tidak tidur di sana. sehabis Rianti bercerita hening melanda.

pagi-pagi, mereka membawa ketiga pelaku ke kos Rianti. ayah Rara memang pelakunya, tapi ia tidak sendiri. kelima temannya terlihat berdiri di depan pagar kos, di jalan. ketiga pelaku tergolek lemah di halaman parkir untuk tamu dan di belakang mereka ada ayah Rara; berdiri dengan penuh kebencian dan dendam.

Rianti mendekati ketiga pelaku dan memang benar perihal duga bahwa suara itu berasal dari dia, si pelaku primer – teman ayah Rara sendiri. Rianti hanya salah perihal satu duga: ternyata ayah Rara sama sekali tidak terlibat atau malah menjadi pencetus masalah. Rianti pun membeber satu rahasia kecil kepada Rara bahwa hingga di masa itu ayah Rara belum tahu duga hitam tersebut.

Rianti meraih selembar tisu untuk menyeka kedua matanya satu per satu. paras ayunya telah segar kembali. tidak ada lagi ketegangan di sana. wajah Rara pun tidak lagi menunjukkan empati untuk bundanya dan ia sudah mengerti alur cerita. ia sendiri sudah tenang lantaran tahu bahwa bundanya telah memperoleh pribadinya kembali.

setelah peristiwa itu, Rianti keluar dari universitas. di kampung halaman tidak ada seorang pun tahu masalah tersebut kecuali keluarga. hal itu tentunya amat membantu untuk pemulihan mental. teman-teman kuliah pun tidak mengetahui di mana rumah pasti Rianti, jadi itu pun dapat menjadi keuntungan lain.

tapi, hal paling tidak terduga ialah munculnya ayah Rara sebagai tamu beberapa pekan kemudian. tanpa tahu sang tamu, Riantilah pembuka pintu ketika ia di sana. belum genap tiga detik menyadari kenyataan, Rianti sudah beranjak menutup pintu dengan harap ia pergi. namun, salah satu tangan lelaki kejutan itu menahan tepian pintu tanpa Rianti sadari. tenaga perempuan itu terlalu besar sehingga pintu tidak tertutup sempurna lantaran tangan ayah Rara jadi ganjalan di sana. sang lelaki sedikit menjerit sebagai tanggapan.

Rara menanggapi dengan menyatakan bahwa bundanya kejam sekali, tapi Rianti berdalih bahwa ia sungguh-sungguh tidak bermaksud demikian. Rara tampak jengkel dengan sosok di sampingnya tapi ia tidak bertindak apa-apa. Rara lalu bertanya apa kejadian kemudian dan Rianti menutur bahwa tentu saja ia membuka pintu untuknya. ia masih ingat betul bagaimana lelaki tersebut memijit-mijit jari-jarinya. wajahnya menahan sakit dan tampak keheranan menatap perempuan di depannya. namun, momen itu tidak lama. mereka pun saling pandang; pelan-pelan, lelaki tersebut kehilangan rasa sakitnya dan sang perempuan malah mendapat sakitnya kembali di dada.

Rianti tiba-tiba tertunduk dan menangis. ia menutup wajah dengan kedua telapak tangan. rasa sakit itu kembali mengusik dan rasanya sama sekali tidak berkurang. sakit sekali, katanya. tiba-tiba, ayah Rara mendekat kemudian memeluk sang perempuan dengan erat. erat sekali, katanya menegaskan. sang perempuan pun tidak mengerti mengapa ia tidak berontak. tapi, ia hanya tahu bahwa ia benar-benar merasa nyaman kala itu.

sejak pertemuan itu, semua jadi berbeda. orientasi dan perasaan Rianti berubah drastis terhadap ayah Rara. sebagai awalan, sang perempuan memang kaku. tapi, lama-kelamaan ia mampu mengatasi. sang lelaki pun datang saban akhir pekan tanpa pernah sekalipun memberi penjelasan bagaimana ia mendapat alamat rumah sang perempuan. ia masih berkuliah dan juga tetap berorganisasi. di kota itu pula, Rianti akhirnya mendapat universitas baru untuk melanjutkan kuliah dengan surat-surat resmi dari universitas lama. alasan kepindahannya benar-benar jauh dari kenyataan. itu demi menyelamatkan karier Rianti. tidak ada pengalihan kerugian sama sekali di sana kepada siapa pun.

hubungan Rianti dan ayah Rara terus berjalan dan berkembang. ayah Rara tidak sekali pun pernah menyinggung kejadian malam pahit tersebut. ia mengenal kedua orang tua Rianti dan Rianti pun mengenal kedua orang tua sang lelaki ketika beberapa kali bertandang ke rumah sang lelaki. geng Wise Punk baru pun juga kerap bertandang ke rumah Rianti di sela-sela kesibukan kuliah. ada beberapa di antara mereka membawa kekasih mereka tatkala bertamu untuk menemani Rianti. mereka semua tidak pernah merendahkan Rianti berdasarkan peristiwa itu melalui pandangan, kata-kata, bahkan perasaan. tidak pernah, kata Rianti meyakinkan.

-

||| terlihat, mereka berjalan mendekat. Rianti dan Rara menatap mereka secara serempak namun kini mereka memandang dengan rasa berbeda. Rianti berdiri, mengulurkan tangan, dan Rara menyambut. mereka berjalan dan berdiri di mulut beranda sembari memandang. |||

-

Rara bertanya apakah bundanya akan memberitahu duga hitam itu kepada lelaki tersebut dan sang bunda menjawab bahwa hal itu semestinya impas karena hingga kini lelaki itu pun belum memberi tahu dari mana ia mendapat alamat rumah dirinya. tapi, Rianti menegas bahwa hal itu sebenarnya bergantung kepada Rara sendiri. ia akan memberitahu kepada ayah Rara kapan pun dan di mana pun Rara suka. jika Rara tidak ingin hal itu terbuka, itu pun juga bukan masalah. Rara bertanya kenapa dan sang bunda mengatakan bahwa ia ingin mengajari Rara tentang tanggung jawab dalam memilih di antara dua pilihan. keduanya sama-sama baik namun memiliki makna berbeda.

-

||| Rara mengerutkan dahi. Rianti tersenyum melihat kedunguan eksentrik itu. karena melihat bundanya tersenyum, maka Rara pun tersenyum. indah sekali pemandangan mereka berdua saat itu.

ah, aku baru sadar kalau mereka sudah sampai di mulut pagar halaman rumah. di salah satu tangan mereka ada bunga-bunga bertangkai dengan beragam warna, bentuk, dan aroma. mereka membuka pagar sembari tersenyum kepada mereka dan mereka membalas senyum itu. Rara berlari menyambut mereka dengan penuh kegirangan. ia langsung memeluk seorang lelaki dewasa dengan amat erat. si lelaki agak terkejut dengan aksi itu namun ia membalas pelukan Rara dengan penuh kasih sayang seraya berlutut.

sambil mempertahankan pelukan, Rara mengatakan sesuatu namun tidak sampai terdengar jelas oleh Rianti, juga olehku. raut muka si lelaki tiba-tiba berubah: dahi berkerut sebab terkejut. ia melepas pelukan dan memandangi Rara dan Rianti secara bergantian hingga Rara menuntaskan bicara. satu menit saja kukira. Rara masih terlihat ceria saat memandangi si lelaki dewasa.

tiba-tiba, Rara mengatakan sesuatu kepada lelaki satunya. lelaki itu terpaut satu atau dua tahun lebih tua dari Rara. aku tidak tahu pasti. sebenarnya, lelaki belia itu sedang mencerna pernyataan Rara, namun Rara berhasil membujuk lelaki belia untuk segera menjauh dari rumah, menuju tempat lelaki dewasa dan lelaki belia berada sebelum mendekat. tangkai-tangkai bunga di tangan lelaki belia itu pun ikut menjauh. Rianti pun bertanya-tanya sendiri kepada hati perihal perkataan Rara kepada lelaki dewasa.

ia menuruni jenjang, berjalan sepanjang jalan halaman rumah dalam apitan tanaman-tanaman dan bunga-bunga taman, hingga sampai di hadapan si lelaki. si lelaki mulai berkata-kata tentang sesuatu, begitu juga dengan Rianti. namun, aku tidak bisa mendengar dari beranda karena teramat pelan. meski dipunggungi, aku tahu bahwa Rianti sedang menangis seraya berbicara. lelaki itu pun demikian. mereka seperti itu lama sekali di bawah lindungan sinar mentari sampai Rianti memeluk si lelaki dengan amat erat dan lelaki itu pun membalas tidak kalah erat sebagai penutup kata-kata. |||

-

Sleman, Agustus 2015

*

Sabtu, 04 Juli 2015

Kaleidoskop

         : Matahari

malam Minggu. satu kiblat sibuk ‘tuk melangkah,
mengencanimu.
-
aku ialah hamba pengabdi ranum asmara. tergoda
oleh senyum sunyi kala duri mawar di wajahmu
mentransfer sebuah hipotesis kenangan indah. maka,
medan laga jadi sakralku, tempat aktualisasi
untuk memberi ingatan tentang prinsip genetis pribadi.
-
pada tanah sepi nan dingin
kuturunkan kata-kata dari kerlip-kerlip salju. tapi,
selalu saja sulit menyembahmu melalui karikatur
atau lukisan seperti ini lantaran embusan cantikmu
nyaris tiada tanding, juga luhur.
bahkan bisik-bisik ragamu merupakan elemen amanat.
hanya dapat dibungkus dengan hamdalah
sebagai gugatan termulia.
-
pernah aku dibekuk derita dan duka karena
ujung tampar terbuka kita
cuma belaka mendikte dongeng.
tak ada dekapan atau sekadar membuka bahagia.
kau tetap mematung dan merapal lampu merah. namun,
kubiarkan lilin romantis di atas yuridis ini terbakar
dan apinya gerogoti napas dalam seleksi
sampai grafik pujaku terpotong belati pada nanti.
-
ini adalah etika di mana aku masih berdiri
menantang iring-iringan pertaruhan.
fokus senantiasa berambivalensi
antara berteriak atau menyudahi,
antara membulati arsip atau diam-diam
melangitkan siksa.
hingga suatu saat taburan tusukan bersaksi
bahwa tuan putri tidak lagi
menyambut kobaran aksara.
atau aku malah menangis sebab
sayang telah tergelar di balai epilog ini.
-
Sleman, Juni 2015
sajak ini mengalami reinkarnasi dari dua judul sajak; Rindu #1 dan Rindu #2
yang dibuat pada April dan Mei 2009 di Babatan, Wiyung, Surabaya

*