--- hukum rindu kepada kekasih ---
hingga detik itu,
runcing azab di balik perisai beleduku
sebetulnya tidak pernah soak.
potongan-potongan totem
tentang kekasih di masa lampau
tetap menyala walau maksud
sudah lama ditebang dan sengaja disingkir.
namun, derap libido ternyata
dapat menangkap temuan klasik kembali:
sehelai indah di mana mantra-mantra
rela diranumkan demi menebalkan pinangan.
-
--- memeluk bibir ---
Dik, jangkar mataku
tak sanggup menghindar dari
lembutnya sebuah kerajaan di wajahmu.
tipografi lanskap ayumu
benar-benar menyiksa
keperjakaan awam setempat. kendati begitu,
fokus esensial milikku hanyalah
daging berbasah gincu. ia hadir
bagai perkusi dan mampu
bangkitkan sinyal revolusi.
butuh kesaktian mandraguna
untuk bisa menyentuh bentuk ovalnya
sebab di lidahmu
ada jarum aktif penerap resistansi.
sebagai pria terpendam, tentu
aku bukan undangan.
-
--- pohon surga ---
Dik, aku menggugah maaf
jika selama pendekatan
induk otakku senantiasa
menginterogasi tubuh manismu
dengan ilusi kreatif nan fantastis.
zona-zona kerontang sedang semringah
dan tergeragap saat mematuk keceriaan
di sepanjang griya-griya utamanya.
arah arwah menjelajah sekaligus memeriksa.
ingin sekali kurampungkan urusan tersebut
secara gencar, nyatanya, hio syahwat
malah mencekik organ-organ keimanan.
-
--- menelan berahi ---
tapi Dik, kutukan keterasingan
di dalam kotak sukma belum terlepas.
masih bernas dan absolut
suarakan animo-animo tunagrahita.
bagaimana mungkin terbuka
bila jalan-jalan pujian
selalu digunting sangka?
bagaimana mungkin mengejar
bila bisik-bisik busuk
selalu gentarkan koordinasi
bahkan negosiasi?
segalanya terasa buntu,
kehilangan jelas juga kehilangan mutu.
-
--- hipotenusa ---
setidaknya, kedua pita personal kita berdua
pernah menyudut dan terpasang
di salah satu pangkalan kenangan.
sayangnya, garis perundingan di antara kita
sedang ditaruh Tuhan di atas akurasi
dan kebestarian tertinggi punyaNya.
telah kusorongkan doa agar Ia
segera lemparkan reportase.
akan sangat menyenangkan kalau
porsi kedekatan kita saling mengisi
karena cuma dirimulah penghalangku
terhadap mati.
-
Sleman, Agustus 2015
*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar