![]() | |
| karya Khoirul Anam, Juni 2015. |
sebagai penyidik, telah kutempuh pagi dan ombak secara kesetanan. membesuk semua tuan rumah di sentra dan samping piramida pergelaran. tremor-tremor sasmita menyusup ke selat-selat desah satu per satu lalu tiba-tiba aku terkubur dan menjadi tahanan di balik tembok kuningmu.
-
sebagai petaruh, telah kuziarahi suatu aroma dan kehangatan pada jarak dekat. menyongsong griya-griya penabur opium teratur dan terselubungnya. tapi, cuma kosong melompong kupergoki. tahu-tahu, akhlakku sudah tergantung manja di tulang belakang birumu.
-
sebagai pendaki, telah kukumpul serbuk bersukma berdasar geometri. kupakai ‘tuk berinteraksi dan sebisa mungkin merapat ke dalam kenangan pirangmu. namun, kusadari kau sengaja meledek dan ceraikan sekujur sakit dan siksa ini tanpa pernah sekalipun terpaku dan tertarik ‘tuk melacaknya lewat kehalusan dan ketulusan riset pribadi. jadilah aku mati raga, duafa, dan sekarat. terguling ke bawah tatanan aneh berumbar pilu.
-
saat terbaring di kehampaan, kerikil-kerikil konsekuensi berembus dari ranting-ranting sebuah panggung perdebatan. ternyata, selama ini ia mengamati dan menalar segala konteks logistik milikku. ia bangkitkan konfrontasi, dengarkan halusinasi, dan bahkan merevisi eksperimen itu dengan karnaval menghibur. tentu ia tak mengancam kabel-kabel komando di kepala atau membawa-bawa kesulitan ini lebih kalap dan berkobar-kobar. ia sekadar ingin mengirim tim atau terapis agar terjelma rekomendasi bahwa kau memang korban terimut di pesantren beliaku nanti.
-
akhirnya, selinting penilaian menemui; berkedip-kedip dan bernapas seiring tasbihku kepadamu. hanya melalui azimat mentereng inilah ada harap dapat menarik dan mengangkut detik dan menit sinambungmu supaya terjemput janji mulia antara aku, kau, dan kita berdua.
-
Sleman, Mei 2015
*

Tidak ada komentar:
Posting Komentar