peluru di ujung mata setan siap bersua.
tidak ada lagi kisah-kisah manis kan terdengar.
belaian senyum jadi harapan terakhir saat era kewenangan kian punah.
peluru meluncur, menghentakkan denyut nadi pilu.
burung-burung lari menghindar seakan lupa pada doa.
peluru itu membelah dan jadi saksi bahwa aku mencinta.
darah mengalir, mengumandangkan angkuh dan gempita.
sorak-sorai ombak laut sekejap melupakan waktu.
rohku terbang bersama rembulan,
dirimu menangis dalam penyelasan.
-
Surabaya, Juni 2009
*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar