titik-titik tunggal berbenah.
kain-kain kosong dipanjati tembang dan adegan.
mengukur kepingan.
.
sarung dan peci hitam hampir selalu
menggandeng nyawa.
perilaku suarakan derit dan denting dewata.
pasukan langit terang-benderang penuhi
pura-pura merah,
nyanyikan teks-teks purba di kuncup-kuncup
gulita.
.
lalu nasib melempar polan ke suatu kerumunan
di atas karpet di satu kota. mula-mula lidah
masih berzikir
dan meletakkan pangkal respirasi di pintu
semesta.
lambat laun gundik-gundik peradaban memeras
persembahan.
induk semang dibunuh mesin kapitalisme.
.
sajadah berubah jadi embung busuk.
menara-menara bertingkat terbenam ke
lubang-lubang api.
panji-panji positif hijrah ke madu semu.
pindah ke pesulap absurd atau taat kepada
pendeta feodal.
menyambut reputasi melalui tender-tender
sakti.
.
manekin-manekin cacat banjiri lidah.
jala para babi menekan kuping. pening.
masing-masing pedoman serong ke dapur musibah.
galeri setan menggetah sempurna.
sehari-hari pikun menjuntai.
.
ialah tamu murahan. mengayun sejenak namun dalam.
perca-perca bahagia tersuling ke wajah
kriminal.
merangkai pola pikir abu-abu, menyusu pada
bambu cekak.
dikekang pajak.
.
helai-helai upaya tertahan di pundak senja.
serat-serat kerendahan hati tercabik-cabik di
pelana lamunan.
menemukan tujuan dan memandu perilaku.
buku dan bukti hanyalah distorsi sebab Tuhan
senantiasa
membuka perbincangan bagi musafir miskin nan
kelimpungan.
.
Surabaya,
Mei-Juni 2019
*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar